audiobook

Mengapa Kita Punya Anak? (Renungan Dahsyat Untuk Orang tua) – Audiobook

  1. Judul Audiobook: Renungan Dahsyat Untuk Orang tua

  2. Penulis: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

  3. Narator: Dian Tedjo

  4. Tersedia: di aplikasi AudioBuku: Download di Playstore & Appstore

Sinopsis:

Saya tergerak untuk membuat tulisan ini setelah sekilas menyaksikan film The Back-Up Plan yang dibintangi oleh Jennifer Lopez. Tidak banyak film yang membuat saya tertarik, apalagi membahasnya. Akan tetapi, film ini menggelitik nurani saya sebagai orang tua dari empat orang anak. Film tersebut menceritakan seorang perempuan sangat ingin memiliki anak. Tokoh perempuan yang dimainkan oleh Jennifer tersebut kerap membayangkan indahnya menjadi seorang ibu. Saking ngebetnya, dia tidak mempermasalahkan jika harus hamil dari donor sperma yang tentu saja tidak diketahui pemiliknya. Dia melakukan hal tersebut karena tidak memiliki pasangan. Dia hanya ingin menikmati peran sebagai seorang ibu. Mengapa sampai demikian? Dia sudah biasa melakukan zina. Menurutnya, menikah untuk memiliki anak tidak penting.

Pertanyaannya, mengapa kebanyakan orang begitu ngebet untuk memiliki anak? Bahkan tidak sedikit orang yang memilih proses bayi tabung seperti yang dilakukan tokoh fiktif yang diperankan oleh Jennifer tersebut.
Pasangan suami istri yang sudah dikaruniai keturunan mungkin telah merasakan kebahagiaan memiliki anak. Memang sih, anak kadang membuat kesal, capek, letih, serta lelah. Akan tetapi dibalik semua itu, sebenarnya lebih banyak hal yang menyenangkan dalam berinteraksi dengan anak. Anak-anak kita lebih banyak akurnya daripada berantemnya, kan? Lebih banyak tidak menangisnya daripada nangisnya (kecuali tentu saja saat sakit), kan?

Puluhan ribu orang tua sering saya todong pertanyaan ini, “Anak itu sebenarnya anugerah atau beban?” Sebagian besar menjawab, anak adalah anugerah. Sebagian kecil menjawab, anak adalah anugerah juga beban. Sangat sedikit (hanya 20-30 orang dari 200 peserta tiap kelas pelatihan) yang menjawab, anak adalah beban.
Kemudian, dengan mempertahankan substansinya, redaksi pertanyaan tersebut saya ubah menjadi, “Anak lebih banyak memberi atau meminta?” Coba tebak, jawaban apa yang paling banyak? Ya, meminta!

Banyak orangtua yang jika anak banyak meminta, berarti anak adalah beban. Berdasarkan pemikiran tersebut, jika anak adalah anugerah, seharusnya anak banyak memberi. Tentu saja, ini pemaknaan hitam putih. Kenyataannya, tidak sedikit orangtua yang memiliki pemikiran bahwa banyaknya permintaan anak menjadi investasi orangtuanya di ladang amal kebaikan. Jadi, ujung- ujungnya ya anugerah juga.

Benarkah begitu? Benarkah anak adalah anugerah? Anda boleh tidak setuju. Akan tetapi menurut saya, anak lebih banyak memberikan anugerah daripada menyebabkan beban. Saya termasuk yang tidak setuju pada pendapat yang menyatakan bahwa anak lebih banyak meminta daripada memberi.
Orangtua yang tidak setuju dengan pendapat saya tersebut mungkin akan bertanya, “Apa yang anak berikan kepada kita?” Jawabannya, “tidak dapat dihitung”. Ketika melihat bayi kita yang berusia dua bulan tersenyum untuk pertama kalinya, apa yang kita rasakan? Ketika batita kita bernyanyi di atas sofa, apa yang kita rasakan? Ketika anak kita mengajak bicara bonekanya, apa yang kita rasakan? Ketika anak mencium pipi kita, apa yang kita rasakan? Ketika kita menatap wajah anak kita yang sedang tidur, apa yang hati kita rasakan? Ketika anak kita yang beranjak remaja curhat tentang gurunya di sekolah, teman-temannya, atau bahkan ber-ghibah tentang kita sebagai ayah ibunya, apakah kita lantas sakit hati? Tentu tidak. Senyum-senyum sendiri, tertawa bersama, terharu, seru, atau apapun pilihan katanya, yang jelas kita merasakan hal-hal yang positif, bukan?

“Anak lebih banyak memberikan anugerah daripada menyebabkan beban. Saya termasuk yang tidak setuju pada pendapat yang menyatakan bahwa anak lebih banyak meminta daripada memberi.”

Dalam terminologi Al-Qur’an, anak sering disebut dengan kata walad atau aulad. Selain itu, sering juga disandingkan dengan kata amwal (harta). Harta itu diturunkan oleh Allah Swt. sebagai rezeki dan karunia yang menyenangkan bagi orang yang menerima. Akan tetapi, jika tidak pandai mengelolanya, harta justru dapat mencelakakan manusia yang dititipi harta tersebut. Demikian juga halnya dengan anak. Awalnya anak adalah semacam rezeki yang menyenangkan bagi orangtua. Selanjutnya, anak dapat menjadi beban dan masalah bagi orangtua ataupun lingkungannya jika tidak dikelola dengan baik.

Meski sama-sama memiliki anak, setiap orangtua bisa mendapatkan “kenikmatan” berbeda berkaitan dengan keberadaan anak. Banyak orangtua yang merasa senang bersama anak setiap hari. Tidak sedikit juga orangtua yang justru sengaja menjauhkan anaknya pada saat- saat tertentu agar bebas dari beban. Mengapa demikian? Tentu saja ada banyak faktor. Dua faktor penting di antaranya adalah niat dan cara orangtua mengelola anak. Faktor lainnya, yaitu niat berkaitan dengan pemaknaan orangtua terhadap keberadaan anak. Setiap orangtua harus memiliki pemahaman yang benar tentang alasan mereka menikah dan niat memiliki anak. Sedangkan, faktor pengelolaan adalah berkaitan dengan pola-pola yang mereka kembangkan dalam mengasuh anak. Faktor niat memiliki anak adalah faktor utama dan terbesar yang akan mempengaruhi faktor berikutnya, yaitu bagaimana cara orangtua membesarkan anak. Coba kita tanyakan pada diri sendiri, mengapa kita mempunyai anak?

Jawabanya tentu berbeda-beda. Akan tetapi, ada dua jawaban yang paling banyak diberikan oleh para orangtua, yaitu niat banget (yang dilandasi idealisme atau setidak-tidaknya sok idealis) dan mengalir begitu saja. Sebagian besar orangtua yang saya tanya memang menjawab niat banget memiliki anak dengan berbagai macam alasan, seperti untuk investasi dunia akhirat, penerus generasi, meneruskan keberlangsungan kehidupan di muka bumi, agar saat tua ada yang mengurus, serta agar setelah meninggal ada yang mendoakan.
Ada juga yang justru kebingungan sendiri dengan memberi jawaban seperti, “ya begitu saja”, “mengalir”, “orang menikah kan wajar punya anak”, “ya dikasih saja sama Allah”. Singkatnya, semua jawaban tersebut dapat dirangkum dengan satu kalimat, “Saya punya anak ya karena takdir Allah”.

Meski sama-sama memiliki anak, setiap orang tua bisa mendapatkan “kenikmatan” berbeda berkaitan dengan keberadaan anak. Banyak orang tua yang merasa senang bersama anak setiap hari, tapi tidak sedikit orang tua justru sengaja menjauhkan anaknya agar bebas dari beban saat bersama anak.

Tentu saja, yang ada di dunia terjadi atas takdir Allah Swt. Akan tetapi, takdir itu semacam final result yang didahului oleh proses sunatullah yang harus dijalani. Sebagai ilustrasi, kuda yang terlepas adalah takdir Allah Swt. Jika kuda tersebut sampai terlepas, tentu ada prosesnya. Misalnya, karena tidak diikatkan dengan benar.
Begitupun halnya dengan mempunyai anak. Selain karena takdir Allah, tentu harus ada proses. Sejak awal sebelum menikah, kita harusnya tahu mengapa kita ingin mempunyai anak?

  1. Mengalir begitu saja. Orang tua yang mengemukakan alasan mempunyai anak dengan jawaban “mengalir begitu saja”, maka akan berdampak kurang baiknya perilaku kita kepada anak. Ini karena kita siap menikah tapi tidak mempersiapkan diri untuk menjadi orangtua. Akibatnya, pola asuh “warisan” dan trial atau coba-coba dijadikan modal utama dalam mendidik anak. Tipe orangtua seperti ini mempersiapkan diri setelah janin tumbuh di dalam rahim. Itu pun lebih pada aksesori kelahiran, seperti mempersiapkan baju bayi, box bayi, kereta dorong, dan lain sebagainya.
  2. Niat banget. Bisa dibilang, orangtua yang mengalir begitu saja berkenaan dengan memiliki anak atau sekadar ikut-ikutan mempunyai anak adalah orangtua “kebetulan” dan tentu saja berbeda dengan orangtua “betulan” yang memang niat banget memiliki anak. Orangtua yang niat banget ini insya Allah sebelum menikah sudah mempersiapkan pola atau cara membesarkan anak-anak yang akan mereka lahirkan. Mereka sudah mempersiapkan banyak hal jauh sebelum anak lahir. Baju, kereta dorong, dan box yang dipersiapkan, yaitu “baju” akhlak yang pantas “dipakai” anak, “kereta dorong” pemikiran yang paling nyaman untuk menemani anak “jalan- jalan”, serta “box” norma-norma yang paling sesuai untuk menyimpan bekal “makanan” anak.

Sebelum menikah, mereka rajin membaca banyak buku tentang pendidikan anak serta rajin mengikuti seminar-seminar pendidikan anak. Bahkan, salah seorang staf saya di Auladi Parenting School yang belum menikah mewajibkan atau menargetkan dirinya sendiri untuk membaca buku-buku tentang pendidikan anak sebelum menikah. Tentu saja, persiapan-persiapan tersebut tidak serta merta menjadikan kita orangtua hebat secara instan. Akan tetapi, bukankah yang rajin membaca buku pendidikan anak akan berpeluang menerapkan pola asuh yang baik terhadap anak-anaknya kelak dibandingkan dengan yang tidak membaca buku sama sekali? Bukankah ada kelebihan orangtua yang rajin mengikut seminar atau pelatihan pendidikan anak dengan yang tidak?

Jadi, apakah Anda termasuk kategori orang tua “kebetulan” atau orang tua “betulan”? Jawabannya hanya Anda sendiri yang tahu. Termasuk kategori mana pun, saya mengajak Anda untuk terus belajar memperbaiki diri. Kita bisa belajar dari mana saja, termasuk dari sharing dengan orang tua lainnya. perkataan dalam audiobook ini saya persembahkan untuk para orang tua agar lebih bersemangat untuk belajar

Bisa dibilang, orang tua yang mengalir begitu saja berkenaan dengan memiliki anak atau sekadar ikut-ikutan mempunyai anak adalah orang tua “kebetulan” dan tentu saja berbeda dengan orang tua “betulan” yang memang niat banget memiliki anak.

Semoga audiobook ini bisa menjadi semacam recharge energi belajar. dengarkan pelan-pelan, renungkan, berprasangka baik dengan tiap kalimat tulisan ini, dan insya Allah Anda akan mendapatkan makna mendalam darinya. perkataan dalam audiobook ini ada yang berbentuk semacam puitis dan ada juga yang berupa penjelasan panjang lebar sebagai refleksi dari curhat orang tua yang saya terima. Mudah-mudahan, Anda bisa merasakan seperti salah satu orang tua yang setelah membaca tulisan-tulisan saya ini dan berkata “Abah, berasa full baterainya lagi, nih.

Semangat…!”

Akhir kata, saya ingin mengucapkan,
“Selamat menjadi orang tua pembelajar!”

Bukankah yang rajin mendengarkan audiobook pendidikan anak akan berpeluang menerapkan pola asuh yang baik terhadap anak-anaknya kelak dibandingkan dengan yang tidak mendengar

Read More