Blog

Audiobook: Baca Buku Pakai Kuping

Audiobook: baca buku pakai kuping
Bagikan dong

Hihihi… ada-ada saja. Masa membaca buku pakai kuping sih. Boleh jadi Sobat akan berpikir begitu ketika membaca tulisan ini. Tapi bener kok. Ini memang tentang membaca buku bukan dengan menggunakan mata tetapi mengandalkan pendengaran alias kuping kita. Audiobook namanya. Penasaran?

Menikmati Buku Sambil Merem

Audiobook secara harfiah diterjemahkan sebagai buku audio. Maksudnya sebuah buku yang lazim kita ketahui dalam bentuk tercetak oleh penerbitnya dialihrupa menjadi sebentuk rekaman suara. Dalam hal ini, larikan kalimat demi kalimat yang tertera dalam buku dibaca oleh seorang narator (pengisi suara) terkadang diberi ilustrasi musik sesuai selera. Nah rekaman suara tersebut lalu disimpan dalam sebuah aplikasi mobile dilengkapi dengan judul dan gambar sampul cetaknya. Terus para peminat dapat mengunduh dan mendengarkan rekaman isi buku tersebut tanpa harus repot-repot memelototi lembar demi lembar halaman buku.

Audiobook kini lagi trendy. Betapa tidak, bagi penggemar buku yang super sibuk ini jadi sebuah solusi. Membaca ala Audiobook bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Sambil mengerjakan tugas-tugas sekolah, bersepeda, jogging, bersantai atau berlibur sekalipun, pokoknya dengan buku audio Sobat nggak ribet deh.

Buku-bukunya pun beragam, dari novel terkenal seperti Harry Potter, cerita silat, sampai buku keagamaan tersedia lengkap. Sobat tinggal pilih. Klik-klik-klik. Dengan mudah semua bisa dinikmati. Apalagi pada sejumlah buku, naratornya bukan saja bersuara merdu tapi juga bintang film terkenal seperti Morgan Freeman dan Whoopi Goldberg. Hmmm… Coba ya kalau bisa novel kesukaan tuh yang baca idola kita.

Pada Mulanya Buat Tunanetra

Sebenarnya cikal bakal Audiobook sudah ada sejak zaman Thomas Alva Edison, itu lho penemu listrik serta pencipta beragam perangkat teknologi modern dari Inggris. Konon pada tahun 1877 Edison menciptakan Phonograph. Ia kemudian menggunakan alat yang bisa merekam suara itu untuk mengembangkan Phonograph Books, yang sengaja dibuat agar bisa diperdengarkan bagi kaum tunanetra. Untuk pertama kalinya Edison berhasil memperdengarkan Phonograph Books itu pada 1878 di Royal Institute-Inggris yang menimbulkan kehebohan.

Meski begitu, Audiobook baru berkembang pesat setelah tahun 1931 ketika the American Foundation for the Blind (AFB) bekerja sama dengan Library of Congress Books meluncurkan program Talking Books Program. Program yang secara masif merekam buku-buku koleksi perpustakaan kongres AS untuk bisa diperdengarkan kepada masyarakat yang tunanetra.

Memasuki tahun 1970 Audiobook mengalami perkembangan yang lebih pesat, ketika sejumlah penerbit terkemuka di Amerika Serikat juga mulai menerjuni bisnis ini. Mereka tak hanya mengarahkan Audiobook produksi mereka kepada para tunanetra tetapi juga kelompok pembaca buku umum. Masyarakat Amerika yang kian sibuk juga menggemari buku audio.

Pada tahun 1986 muncul Audio Publisher Association di Amerika Serikat yang menandai semakin matangnya industri buku audio ini. Mereka aktif menggelar book of the month bahkan book award khusus audio. Pada awal abad ke-21, ketika teknologi digital mulai merambah, buku audio juga terkena imbasnya. Sekarang dengan mudah Sobat bisa mendapatkan buku-buku audio melalui situs-situs internet. Salah satunya yang cukup terkenal adalah www.audiobooks.com Sobat bisa mendapatkan aneka buku baik secara cuma-cuma maupun berbayar. Audiobooks ini masih menggunakan bahasa Inggris.

Ada Juga di Indonesia

Lalu bagaimana dengan buku audio di Indonesia? Beruntung di Indonesia ada generasi kreatif yang juga menaruh perhatian kepada buku audio. Mereka mengembangkannya dengan nama Audiobuku. Sobat bisa mengunjunginya di www. audiobuku.com atau mengunduh melalui playstore aplikasi mobile berbasis android dengan nama Audiobuku. Belum banyak memang, baru beberapa puluh buku yang sudah bisa dinikmati. Namun usaha rintisan ini patut Sobat apresiasi. Seperti slogan yang diusung mereka berharap Audiobuku bakal menjadi cara baru membaca buku di Indonesia. Ya, membaca buku pakai telinga. Mau coba? (MhP)

Sumber: Majalah Sahabat Pena Edisi 4581 2017

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *