Blog

Barbie Pamela – Sebuah Novel

Mimpi Buruk yang Tak Kunjung Berakhir

Uang bukan segalanya dalam hidup. Kenyataannya dalam hidup segalanya butuh uang. Setidaknya sekarang, aku mulai tahu bagaimana rasanya aku harus menghargai uang. Semuanya telah berubah. Dan semua ini terasa seperti mimpi buruk yang tak kunjung berakhir. Bisnis papaku bangkrut. Dan semuanya habis, namun syukurlah rumahku tidak ikut lenyap. Aku dan keluargaku masih bisa tinggal di rumah kami yang cukup besar itu. Setidaknya hal itu bisa menutupi kebangkrutan bisnis papaku. Jujur, aku begitu kesal. Kenapa semua ini harus terjadi. Ingin rasanya aku marah pada papaku, tapi aku sadar tentu bukan papa yang mau semua ini.

Terpaksa aku pun harus mengubur dalam-dalam impianku untuk sekolah kedokteran di Jerman. Jangankan di Jerman, di Indonesia pun aku tidak yakin. Papaku sekarang hanyalah pegawai kecil di perusahaan swasta kecil. Dengan pendapatan yang amat terlampau pas-pasan atau bahkan bisa di bilang kurang. Namun kami semua berusaha untuk survive.
” Ma, temen-temen ngadain wisata bareng minggu depan! “ Kataku yang baru pulang.

” Kamu mau ikut sayang ? “ tanya mama mengelus rambutku dengan hangatnya.

Air mukanya terlihat menyimpan lara. Aku tak sanggup melihatnya.

“ Nggak ma! Biayanya terlalu mahal, 250 ribu! “
” Kalau kamu memang mau ikut, mama papa usahain cari pinjeman dulu ya?! “
Sungguh, aku tak sanggup melihat wajah mama kala itu. Matanya nampak menahan air mata. 250 ribu memang bukan jumlah yang besar, tapi itu dulu. Sekarang 50 ribu saja terasa berat untuk kami. Ku peluk mama erat-erat dengan sedikit air mata yang jatuh ke pipi namun segera ku hapus karena aku tak ingin terlihat sedih.

“ Nggak usah ma, Mela nggak pengen kok! Lagian mendingan Mela bantuin kak Nana di TK kan? Soalnya kemarin Mela dah ngomong ma kak Nana, nggak enak kalo di batalin. Lagipula lumayan, Mela bakal di kasih HR, bisa buat uang jajan Mela. “ Jawabku menenangkang orang yang paling ku kasihi di dunia ini.

Aku, seorang Pamela Prisilfia yang dulu puteri konglomerat yang bisa melakukan apa saja hanya dengan memetikkan jari, kini hanya seperti macan ompong yang sudah tak punya daya lagi. Aku seperti kehilangan energy saat harta kekayaan keluargaku raib karena pailit.

Perlahan, ku lepas pelukanku dan ku seka air matanya.

“ Mama nggak usah sedih, kita harus bersyukur ma, masih di izinin Allah untuk tetap tinggal di rumah sebesar ini. Kalau kita lihat di luar sana banyak orang bangkrut yang akhirnya tinggal di kolong jembatan ma! “  kataku berusaha menghibur meskipun rasa hati ku yang sebenarnya begitu hancur dan tak ikhlas.

Senyum tulus pun mengembang di wajah mamaku.
” Mama kasihan sama kamu Mel, kamu nggak pernah ngrasain hidup susah! “
” Udah lah ma, jangan buat Mela berfikir kaya dulu lagi! Mela yang cuma bisa ngamburin uang mama sama papa “

“ Sekarang kamu mandi gih! Biar mama siapin makanan buat kamu ! “
Aku pun menuruti apa saran mamaku.
Keesokan harinya, sepulang sekolah ku putuskan untuk pergi ke sebuah penerbitan di kawasan Jakarta Pusat.

Aku memilih kereta api sebagai transportasi. Karena lebih murah dan bebas macet.

Sejak kecil aku memang suka menulis. Novel pertamaku adalah novel yang aku buat saat kelas 5 SD, aku ingat betul judulnya adalah best friend. Dimana novel yang masih kutulis dengan tangan dan ku jilid sendiri lalu ku pinjam-pinjamkan pada teman-temanku untuk dibaca dan dikomentari.

Dan hari ini adalah hariku berharap-harap cemas. Karena aku akan menunjukkan novel karyaku pada salah satu penerbit ternama di Indonesia.
Tepat pukul 13.30, bel pulang sekolahku berbunyi. Aku bergegas menuju stasiun.  Mudah-mudahan novelku diterima. Amin..  gumamku berdo a. Aku sudah mendapatkan peron. Dan segera ku pacu langkahku memasuki gerbong kereta api kelas ekonomi, dan bisa dibilang ini pengalaman pertamaku.

Sungguh tak pernah ku bayangkan sebelumnya, kereta kelas ekonomi ternyata begitu sesak dan membuat perutku mual. Berkali-kali aku ingin muntah, tapi syukurlah aku masih bisa menahannya. Dan yang lebih menyebalkan lagi, ada beberapa orang yang merokok. Tak habis fikir, masih sempat-sempatnya mereka mengepulkan asap di tengah suasana se sesak ini. Ku coba tak menghiraukan suasana memualkan ini, toh kereta ini sudah hampir tiba di stasiun.
Begitu kereta ini berhenti, puluhan orang turun berdesak-desakan dan tak jarang yang saling mendorong. Aku pun begitu kesulitan melangkahkan kaki ini, aku tak bisa maju ataupun mundur apalagi tempatku berdiri begitu jauh dari pintu. Lalu kutunggu beberapa saat hingga gerbong ini lebih longgar sehingga langkahku lebih mudah. Dan begitu gerbong ini telah sepi, aku yang masih merasa sedikit mual melangkah terhuyung menuju pintu.
Ku turunkan kaki ku perlahan menginjak ubin stasiun tapi aku begitu tergagap saat pintu kereta ini tiba-tiba menutup dan menjepit tasku. Aku begitu panik, terlebih kereta ini kembali melaju perlahan. Aku begitu bingung harus melakukan apa, aku terus berlari mengikuti kereta itu agar aku tak terjatuh. Sungguh, kereta ini melaju makin cepat. Berkali-kali atau mungkin berpuluh-puluh kali ku ketok pintu untuk meminta pertolongan, tapi tak ada seorang pun yang menyahut.
” Buka pintunya! Woe! Buka woe!  “
Aku berlari semakin cepat mengikuti laju kereta. Sungguh, aku merasa tak sanggup lagi. Mungkin ini adalah akhir hidupku. Tapi, tiba-tiba kulihat bayangan seseorang yang berlari mengikutiku.

” Mela! Bertahan Mel! “ teriak suara yang tak asing lagi.
” Barrie?! “ gumamku.
Ia bertambah cepat, hingga akhirnya mampu meraih tanganku. Barrie, dia adalah seseorang yang aku anggap musuh. Sudah sejak SMP aku mengenalnya, dan sejak SMP pula ia menyatakan rasa sukanya padaku. Tapi ia begitu jahil dan tengil. Aku pun kerap menjadi korban keisengannya.
” Loe lepasin tas loe Mel! “
” Nggak, di tas itu ada novel gue! “
” Persetan dengan novel, nyawa loe lebih penting! “  katanya setengah membentak.

“ Loe gila! Itu novel karya gue! 2 bulan gue nulis dan nggak ada back up! “  bentakku.
Kami berdua terus berlari berusaha tak jatuh. Sungguh, jika aku lengah sedikit saja bisa ku pastikan  hidupku berakhir seketika. Barrie tak lagi banyak bicara, entah apa yang ia lakukan, ia memutar- mutar slempangan tas ku.
” Bar! Gue bilang…”  belum sempat aku meneruskan bicaraku tiba-tiba ia menatap tajam ke arahku.
” Loe diem! “ lagi-lagi ia membentakku. Tiba-tiba Barrie menarik ku ke tepian rel, aku pun terjatuh di atasnya.
” Mel! Mela! Loe nggak apa-apa? “  tanyanya yang berhasil membuatku berhenti berlari.
Aku tak menjawab pertanyaannya, aku hanya merunduk menyembunyikan wajahku di balik rambutku yang menghalangi sedikit wajahku. Dan sepertinya ia menangkap ketidakberesan padaku, tangannya pun memegang pipiku dan mendongakkan kepalaku.

Aku menangis kala itu. Sungguh-sungguh menangis.
” Pamela.. Nyawa loe lebih berharga dari apapun di dunia ini.. !  “ katanya parau.
Aku memeluknya tiba-tiba, rasanya begitu nyaman. Aku tak menyangka ia yang begitu slengekan bisa berlaku sedewasa ini.

“  Udah, jangan nangis! “ katanya perlahan melepas pelukanku seraya mengusap pipiku yang basah dengan jari jemarinya.

Hari itu pun aku pulang tanpa hasil. Setidaknya keselamatanku begitu tak ternilai harganya. Aku memilih diam, tak kuberitahukan semua kejadian tadi pada orang tuaku.

Lagi pula mereka tak tahu jika anaknya ini memiliki hobi menulis meskipun ini bukan hobi baru bagiku.

“ Kok baru pulang Mel?…” Tanya mama padaku yang tertunduk lesu.

“Iya ma, tadi ada kegiatan tambahan.” Jawabku berbohong.

Seraya segera ku pacu langkahku menuju kamarku. Ku rebahkan tubuhku di atas spring bed yang empuk.

Hari ini begitu melelahkan, baik untuk raga ku maupun hatiku.

Aku merasa diriku benar-benar bodoh. Bagaimana bisa aku membawa soft copy dan hard copy sekaligus di dalam tasku. Jika sudah seperti ini, tentunya aku sudah tak punya apa-apalagi. Print out dan flashdiscku ada di tas yang nyaris merenggut nyawaku itu.

Tapi sudahlah, memikirkannya hanya akan membuat dadaku sesak.

Keesokan paginya, aku pun pergi sekolah seperti biasa.

“Mela!… Pamela!!..” teriak seseorang yang sudah tidak asing lagi.

Aku pun terus memacu langkahku menyusuri koridor sekolah. Tak kupedulikan Barrie yang masih berusaha memanggilku. Tak ayal, ia pun langsung berlari menghampiriku.

“Mel! Lu nggak papa?” tanyanya seraya memegang tanganku.

“Lu lihat sendiri kan gue nggak papa!!” jawabku ketus seraya mengibaskan tangan Barrie.

“Kok lu jutek banget sih ma gue? Gue kan udah nolong lu!!” eluh Barrie padaku.

“Iya, makasih.” Kataku seraya berlalu meninggalkannya yang bengong.

Aku pun segera menuju kelasku, X-A.

Seperti biasanya aku langsung duduk di bangku ku yang terletak di deret kedua dari belakang nyaris pojok.

Pemandangan semrawut dan bunyi riuh tawa pun tak pelak dari kelasku itu. Candaan, gurauan, dan obrolan teman-teman merupakan keseharian.

Dan aku hanya diam di bangkuku. Melihat sekeliling. Sungguh mereka begitu terlihat senang. Mereka bisa tertawa lepas, seperti tanpa beban.

“Pagi Mel….” Sapa Haidar, cowok yang duduk di belakangku.

“Iya!! “ jawabku cuek.

Aku memang pribadi yang acuh. Bahkan mungkin bisa dibilang apatis. Tapi tak jarang juga orang-orang menganggap aku angkuh, galak, dan sombong.

Tersenyum ramah, nyaris tak pernah kulakukan pada teman-temanku.

Bahkan mungkin aku memang sudah lupa bagaimana cara tersenyum pada orang lain.

Yang aku tahu hanya lah bagaimana cara hidup perfect dengan harta orang tuaku. I can do anything with money. Money give me more.

Aku tak butuh teman apalagi sahabat. Semuanya sudah cukup bagiku.

Tapi apa yang aku rasakan kini, aku benar-benar merasa hidupku pupus. Semuanya telah berubah. Kondisi tak sesempurna dulu. Setidaknya itulah pandangan picik ku pada uang.

Namun aku tetap harus bertindak tegar dan kuat.

Ratu Apatis

Aku tetap Pamela yang angkuh dan apatis. Pribadi yang mulai terbentuk semenjak aku kecil. Dimana aku kerap melihat orang tuaku bertengkar. Terlebih papa yang kerap bertindak kasar pada mama. Hingga akhirnya papa meninggal akibat serangan jantung dan mama menikah lagi setelah kurang lebih tiga tahun menjanda.

Aku benar-benar seperti mati rasa. Aku tak menyukai papa tiri meskipun ia tak pernah memarahiku terlebih bertindak kasar padaku. Bahkan bisa dibilang papa tiriku tak menganggap aku sebagai anak tiri melainkan anak kandungnya sendiri. Tapi aku tetap tak bisa menganggapnya bukan sebagai orang asing di rumah ini. Rumah yang dibangun papa dan mamaku dengan penuh cinta sebelum papaku sakit jiwa dan mengubah segalanya. Papa tiriku sebenarnya sudah mengajak kami pindah ke rumahnya yang aku akui tak kalah megah dari rumah ini, tapi aku bersikeras untuk tetap bertahan di rumah ini dan semuanya pun setuju.

Meskipun banyak fasilitas mewah yang sudah diberikan papa, aku tetap tak bisa mempedulikannya. Bagiku dia tetaplah orang asing yang masuk tiba-tiba ke dalam kehidupanku dan mama. Mungkin aku terlalu naïf, karena aku menerima semua pemberiannya tapi aku tak bisa menganggapnya ada. Aku hanya menghormatinya sebagai suami mamaku. Dan aku memanggilnya papa hanya untuk membuat mamaku bahagia, Karena aku begitu menyayanginya. Bisa dibilang semua hal di dunia ini yang aku lakukan mama lah alasannya.

Terbesit di benakku, dengan aku yang apatis seperti ini ada keuntungan tersendiri yang ku peroleh. Aku bisa menutupi keadaan keluargaku yang tengah pailit. Apatis membuatku terlihat kuat dalam kondisi serapuh apapun, setidaknya itu yang ada di fikiranku.

Tiba-tiba terlihat Barrie menghampiriku seraya duduk disampingku.

“Mel…” sapanya lembut setengah terengah menyebut namaku.

Bisa ditebak kalau ia baru saja berlari menuju kelas ini.

“Apa?!!!”

“Gue….” Katanya terbata-bata melanjutkan kalimatnya.

Aku pun hanya diam seraya menatap tajam ke arahnya.

“Aduh Mel, jangan liat gue kaya gitu. Nggak kuat gue, tambah suka malah sama lu!!” kata nya dengan nafas yang mulai teratur.

Ia pun hanya nyengir seraya mengelus kepalanya itu.

“Temen-teman!! Minta perhatiannya sebentar!!!!!” seru Intan tiba-tiba yang sudah berdiri di depan kelas.

Sontak teman-teman pun terhenyak dan memperhatikan Intan, gadis tinggi kurus yang bagiku krempeng itu yang begitu terobsesi menjadi public figure.

“Sebentar lagi ada pemilihan putra dan putri sekolah. Dan setiap kelas diwajibkan menyetorkan dua nama kandidat calon putra dan putri sekolah tersebut. Nah… kira-kira siapa yang bersedia untuk mencalonkan diri????” kata Intan dengan semangat empat lima nya.

Langsung saja seisi kelas diam saling menatap ke teman-teman mereka mencari sosok yang bersedia atau pantas mengikuti acara tersebut.

Sementara Intan masih berdiri di muka kelas yang bisa aku tebak apa yang ada dalam benaknya. Ialah yang sebenarnya ingin mengikuti kontes semacam itu. Hanya saja ia berharap ada seorang saja yang akan menunjukknya.

Tiba-tiba saja Barrie berteriak menyebut namaku.

“Pamela!!!” kata nya menunjukku untuk mengikuti kegiatan itu. Kegiatan yang menurutku hanya buang-buang waktu dan lebay.

Langsung saja semua mata tertuju padaku.

“Wahhh…. Enggak-enggak! Mana bisa gadis jutek kaya gitu jadi putri sekolah… pokoknya enggak-enggak!” sergah Arrie tiba-tiba.

“Yee… kog lu gitu sih. Apa salahnya Pamela ikut? Toh dia cantik.” Kata Barrie mencoba membelaku.

“Bar,, udah… gue nggak mau!” bisikku dengan mata melotot ke arah Barrie.

“Udah Mel, lu tenang aja.. gue bakal belain lu..” kata Barrie dengan santainya.

“Yah… pokoknya gue nggak suka sama Pamela!!” sergah Arrie.

“Bohong banget lu, lu nggak suka apa karena lu sakit hati pernah ditolak sama Pamela?! Ahh, cemen lu!.” kata Barrie yang sepertinya membuat suasana tambah kacau.

“Hei! Jangan ribut!” kata Intan yang sejenak membuat mereka diam.

“Putri sekolah nggak cukup modal tampang doang.” Kata Intan menambahi yang cukup membuatku tersinggung.

Aku tahu, aku bukanlah orang yang begitu cerdas. Apalagi di kelasku itu, kelas yang notabene kelas unggulan. Bisa dibilang aku seperti nyasar berada di kelas itu. Dan aku tak pernah menyangka bisa masuk kelas yang menyiksaku seperti ini. Dimana para penghuninya hanya peduli pada diri sendiri. Pantas saja jika sikap apatis ku terpelihara di kelas ini.

“Udah-udah!!” teriakku menghentikan semuanya.

“Kalian semua nggak perlu khawatir, gue nggak mau dan nggak bakal ikut acara gituan. Nggak usah dengerin Barrie, toh dia bukan dari kelas ini.” Kata ku memberi penjelasan.

“Tapi Mel….” Kata Barrie yang masih ingin membelaku.

“Dan lu Tan, Bisa gitu lu ngomong gue modal tampang! Maksud lu apa? Emang gue segoblok itu? Asal lu tau ya, udah sering gue ikut acara semacam itu. Dan udah sering muka gue nongol di majalah. Gue nggak pengen sombong di depan lu, tapi kaya’nya emang gue perlu sombong ama orang yang blagu kaya’ lu!.” kata ku dengan mata yang berkilat-kilat pada Intan yang nampak emosi mendengar ucapanku itu.

“Dan lu nggak usah ikut campur urusan kelas gue Bar!.” Kataku pada Barrie seraya melangkah pergi menuju taman sekolah dan duduk di salah satu bangku taman itu.

“Awas lu Mel!” seru Intan dengan kerasnya agar terdengar di telingaku yang sudah berlalu dari hadapannya.

Tiba-tiba saja Haidar duduk di sampingku.

“Ini..” katanya seraya memberikan sapu tangan padaku.

“Gue nggak nangis, nggak perlu sapu tangan dari lu…” kata ku menolaknya.

Seraya ia jongkok di hadapanku dan mengusap lututku dengan sapu tangan itu.

“Lu ngapain?” tanyaku bingung dengan apa yang dilakukannya.

ia menunjukkan sapu tangannya yang ternoda darah.

“Lutut lu berdarah gara-gara tadi kebentur meja. Masa lu nggak ngrasa?”

Aku pun benar-benar terperangah kaget. Aku saja benar-benar tak tahu jika lututku terluka tapi bagaimana bisa Haidar tahu hal itu.

Setelah ia selesai membersihkan lukaku, ia pun menempelkan plaster antiseptic yang aku sendiri tak tahu darimana ia menyiapkan itu semua.

“Udah beres.” Katanya seraya duduk di sampingku.

“Makasih.” Ucapku lirih tanpa menatap wajahnya.

“Hmm.. iya, nggak usah bilang makasih juga nggak apa kalo emang nggak mau.” Katanya dengan tawa ringan.

“Ya udah nggak jadi!” kataku yang tak mau mengalah.

Ia hanya tersenyum memandangku.

“Ihh!!! Kok lu malah senyum-senyum gitu sih!!!” kataku menepok bahunya.

“Iya-iya, maaf. Hmm… gue seneng aja ngliat lu dari deket. Lu tuh cantik lho sebenernya, coba aja lu lebih sering-sering senyum.”

“Masalah buat lu?” tanyaku sewot tak bersahabat.

Tiba tiba ia malah memandangku semakin dekat.

Sontak aku meniupnya. Dan ia pun memerjih.

“Huftt!! Nggak usah macem-macem sama gue…” kataku membentak.

“Eh, hebat juga lu bisa bikin si nenek lampir itu mati gaya.” Kata Haidar yang malah memuji aksiku.

“Biasa aja!”

“Luar biasa kali, seneng gue liat dia mati kutu gitu. Haha.”

“Lu yang lebay, gitu doang. Cewek kaya dia emang perlu di kasih pelajaran. Kaya’ lu nggak sering buuar dia mati gaya aja karena saking terpesonanya ama lu.”

“Masa sih? Merhatiin orang juga lu.” Katanya meledekku.

“Rese lu!” jawabku kesal.

“Hmm.. emang bener lu pernah jadi model?” Tanya Haidar tiba-tiba yang nampaknya merasa penasaran dengan kebenaran ucapanku tadi.

“Lu lihat aja majalah teen edisi 5 sampai 10!” jawabku tegas seraya berdiri dari dudukku hendak pergi meninggalkannya.

“Bentar lah… jangan marah. Hmm.. anak-anak setuju kalau kamu yang maju buat ikut acara putra-putri sekolah. Mau ya? Sama aku kok….” Kata Haidar memberi penjelasan padaku.

“Terus emang kenapa kalo sama lu?!”

“Yah harus mau dong, inget.. disini banyak lho cewek-cewek yang mau jadi pasangan gue. Masa lu enggak?”

“Iya, itu mereka, bukan gue. Ajak aja si Intan, kan udah lama dia naksir lu!!” kataku.

“Siapa yang mau pasangan sama nenek lampir kaya’ dia?” kata Haidar jahil lagi lagi membicarakan Intan.

“Nggak usah ngomong gitu. Dar, emang bener ya gue modal tampang doang?” kataku sembari memegangi wajahku sendiri.

“Hem.. tumben lu butuh pendapat orang!” jawab Haidar tersenyum jahil.

“Dasar! Rese lu!” kataku seraya berdiri hendak pergi.

“Mel!! Mela!!” teriak Barrie yang lagi-lagi muncul di hadapanku.

Dua orang cowok di hadapanku ini benar-benar membuatku pusing. Meskipun tak dipungkiri jika merekalah yang selalu ada bersamaku. Karena aku tak punya teman apalagi sahabat. Mereka bersamaku sebagai orang asing. Bukan teman, kawan, apalagi sahabat. Hanya sebagai orang asing yang kerap membuatku muak, terlebih Barrie yang biasa ku sebut Barbie itu.

Aku mengenalnya sejak SMP, dan aku tak pernah akur dengannya. Meskipun aku tahu ia terlihat ingin mengakhiri permusuhan ini dengan cintanya yang sering diungkapkannya padaku. Sebenarnya bukan permusuhan, karena hanya aku disini yang menganggapnya musuh.

“Apalagi Barbie?!!!” tanyaku yang memang sengaja memplesetkan namanya.

“Yah, kok Barbie lagi sih? Udah keren-keren kaya’ gini masih dipanggil Barbie..” kata Barrie yang protes.

“Kenapa? Lu nggak suka. Ya udah, terserah gue dong. Mulut mulut gue!” kataku jutek.

“Iya iya, terserah lu deh. Gue suka apa aja yang lu lakuin. Mau manggil gue Barbie kek, kodok kek, atau lutung sekalian. Yang penting lu tetep Pamela gue yang cantik, manis, hmm.. biarkata apatis sih!” katanya menggodaku.

“Ihh!” eluhku geregetan dengan ucapannya.

Tak ayal ia malah mencolek daguku dengan senyum jahilnya.

“Barbie!” bentak ku yang lantas membuatnya terperanjatm kaget.

“Udah dong marahnya, bener kata Haidar tadi. Lu mau yah…. Gue juga ikut soalnya. Siapa tahu aja ntar yang menang dari kelas X-A sama kelas X-H.

Ceweknya lu, cowoknya gue deh…..”

“Eh… enak aja, pasti dari X-A semua yang bakal menang. Iya kan Mel….” Kata Haidar yang dari tadi belum melepaskan tanganku.

Sontak, Barrie yang melihatnya pun segera melepas genggaman tangan Haidar.

“Ihh… apaan sih lu?!” sergah Haidar.

“Lu tuh, enak aja pegang-pegang tangan Pamela.”

Aku hanya diam seraya berlalu dari hadapan mereka. Dan lagi lagi tanganku di tahan oleh seseorang yang kali ini giliran Barrie.

“Jangan marah dong Mel.” Kata Barrie padaku yang nampak kesal.

“Siapa yang marah?” kataku mulai gemas.

“Lu main pergi aja gue dating.” Eluhnya.

“Gue nggak marah.” Kataku yang berusaha melepaskan tangan Barie.

“Lu mau kemana? Jangan buru-buru dong!”

“Lepasin Bar! Atau gue bakal bener-beneer marah sama lu!” kataku yang mengibaskan tangan Barrie dan berlari meninggalkannya.

Aku tak marah, melainkan aku sedang ingin pergi ke toilet untuk segera buang air kecil yang dari tadi sudah ku tahan sejak Haidar menahanku.

Begitu selesai, aku kembali ke kelas sewajarnya. Aku tak menanyakan apa benar yang dikatakan Haidar tadi. Karena aku yakin, Intan tak akan setuju jika aku yang maju, lebih-lebih dengan Haidar, cowok yang sudah dikejar-kejarnya sejak SMP namun tak pernah ditanggapi itu.

Begitu bel pulang sekolah berbunyi, segera ku kemasi buku dan alat tulis yang masih tercecer di atas mejaku.

“Mel, temen-temen udah setuju kalau lu yang maju buat mewakili kelas kita.” Kata Laras yang memberitahuku mencoba ramah.

“Enggak! Gue nggak mau!.” Jawabku tegas tanpa pikir panjang.

“Kok lu gitu sih… gue kan udah ngomong baik-baik sama lu.” Kata Laras yang nampaknya kecewa mendengar jawabanku.

“Gue juga udah jawab baik-baik. Nggak bentak, nggak teriak-teriak.”

“Heh dasar lu! Blagu banget jadi orang. Syukur temen-temen masih mau ngasih kesempatan lu buat mewakilin kelas unggulan ini.” Kata Intan yang tiba-tiba menyahut dengan nada bicara yang aku tak suka.

“Heleh, gak usah sok yess deh lu! Bilang aja kalau lu yang pengin ikut acara kaya’ gitu. Udah basi gaya lu.”

“Mel, mau ya?” Tanya Laras yang masih mencoba merayuku.

“Udah Ras, buat apa lu ngrendahin diri lu Cuma buat minta si apatis ini ikut!” kata Intan yang semakin membuatku jengkel.

“Iya, mendingan lu suruh si nenek lampir tuh!” jawabku menunjuk Intan.

“Udah deh Tan, lu nggak usah ngrecokin suasana. Gue nggak bakal ngrasa rendah hanya karena gue minta tolong.” Kata Laras yang nampaknya ada di pihakku.

Seraya intan segera pergi membawa tasnya dengan gaya sok yess nya.

“Dasar lu berdua, sama aja blagunya.” Kata Intan sebelum meninggalkan kelasku.

“Lu tuh, norak!” sahut Laras yang tak kusangka sebelumnya.

Aku pun segera bergegas pulang tanpa memberikan jawaban apa-apa ke Laras.

“Mel!” kata Arrie memanggilku.

“Apalagi lu?!” jawabku setengah membentak.

Nampak nyali Arrie yang menciut mendengar tanggapanku itu. Ia pun mengurungkan niatnya untuk mengajakku berbicara.

“Pamela!!!” lagi-lagi terdengar teriakan Barrie memanggilku.

“Lu lagi!” bentakku pada Barrie.

“Yaelah.. ayo pulang bareng….” Katanya dengan senyum yang menunjukkan lesung pipitnya itu.

“Enggak….” Kataku langsung berlalu.

“Kenapa sih? Lu kesel ama gue tadi?”

“Bukannya emang gue selalu kesel sama lu!” jawabku sekenanya.

Tak kusangka Barrie malah mengejarku.

“Udah, ayo. Naik bis kan??? Ayo gue temenin….”

“Kok lu bisa tahu kalo gue naik bis?”

“Gue tahu semuanya, gue juga tahu kalo mobil lho nggak di bengkel.”

“Lu?????” aku tergagap, aku mulai takut jika Barrie tahu tentang kondisi keluargaku saat ini. Jujur, aku malu atau mungkin lebih tepatnya gengsi jika sampai teman-temanku tahu bahwa Pamela sekarang hanyalah gadis sederhana, yang tak bermobil mewah, berdompet tebel dan lain sebagainya.

“Iya, udah….. lu nggak usah khaawatir, gue nggak ember kok. Cuma gue yang tahu, dan bagi gue nggak ada masalah. Lu tetep Pamela gue yang cantik meskipun jutek. Nggak ada yang berubah…” kata Barrie menatap aku lekat-lekat.

Entah apa yang aku rasakan, aku merasa tenang menatap mata Barrie, dan aku merasa nyaman berada di dekatnya. Meskipun aku tetap tak bisa tidak menjutekinya.

“Udah, ayo.” Kata Barrie yang tiba-tiba menggonceng tanganku erat-erat.

Aku pun berjalan tergopoh mengikuti langkahnya yang panjang.

“Eh! Eh! Lepasin tangan gue….” Kataku lagi-lagi sewot saat aku tersadar dari lamunanku.

“Enggak mau….”

“Eh… lepasin! Lepasin!” kataku seraya memukul-mukul tangannya dengan tangan kananku. Tak pelak, genggamannya yang begitu erat terlepas.

Siang itu aku dan Barrie jadi pulang bersama, bahkan kami tak langsung pulang. Barrie memaksaku untuk ikut dengannya ke suatu tempat yang ternyata adalah bioskop.

Dia mengajakku nonton. Bukan film drama, horror, atau pun comedy yang kami tonton. Melainkan film kartun.

“Barr, lu bener-bener gila ya…. Pertama, lu udah maksa gue buat nonton, yang kedua lu ngajak gue nonton film kartun………” kataku protes karena merasa kikuk di bioskop yang dipenuhi anak-anak dan para orang tua yang mendampingi anaknya itu.

“Dan yang ketiga………………..”

Belum sempat aku melanjutkan kalimatku, ia pun menyela

“Karena aku cinta kamu. Aku sayang banget sama kamu. Aku benar-benar udah tergila-gila sama kamu.” Kata Barrie yang cukup membuatku kaget.

Ini kali ke 6 Barrie menyatakan perasaannya padaku. Dan saat ini, aku harus mengatakan hal yang sama. Aku belum bisa menerimanya. Bukan karena dia apa atau bagaimana, tapi karena aku. Saat ini aku benar-benar belum bisa memikirkan urusan cinta. Bagiku sekolah dan keluarga adalah prioritas.

Aku pun tertawa.

“Udah Bar, sama aja. Gue nolak lu.” Jawabku sekenanya.

“Yah…. Ditolak lagi, terima dong Mel….”

“Enggak, gue mau pulang!”

Aku pun segera pergi meninggalkannya yang tergagap. Aku tak tahu apa yang ada dibenak Barrie, cowok yang sebenarnya cukup rupawan atau bisa dibilang keren dan baik itu. Sepertinya ia benar-benar pantang menyerah mengejar cintaku. Tapi sudahlah, bagiku menolaknya adalah keputusan yang terbaik, setidaknya untuk saat ini.

Dengan langkah tergopoh, Barrie mengejarku. Dan diantarnya aku pulang ke rumah.

“Mel, gue mampir bentar ya?” Tanya Barrie seperti tak bertanya melainkan memohon.

“Enggak usah, karena lu udah bikin gue kesel. Masak nonton kartun di bioskop.” Jawabku cemberut.

“Yaelah, katanya lu suka kartun gitu?”

“Ya tapi nggak usah di bioskop juga kali nontonnya. Malu gue ma emak emak disana yang nemenin anaknya nonton.” Eluhku.

“Oh.. jadi maunya nonton di rumah aja nih. Oke! Besok gue bawain dvd kartun seabrek ke rumah lu!.”

“Eh, enggak! Enggak! Lagian siapa yang suka kartun.” Kata ku beralasan.

“Ye…”

“Buruan pulang sana!”

“Mampir bentar ya Mel, 5 menit aja deh. Abis lu kasih minum gue langsung pulang deh.”

“Siapa juga yang mau ngasih lu minum.”

“Gue minta, tega banget. Haus banget gue. Dehidrasi nih. Bisa pingsan di jalan ntar.”

“Ya bagus kalo lu pingsan di jalan. Daripada pingsan di rumah gue yang nantinya malah bikin repot.”

“Gue pingsan sekarang lu kalo nggak buru-buru lu ambilin minum.” Kata Barrie yang semakin tengil saja.

“Iya iya, gue ambilin.” Kataku seraya pergi ke dapur mengambil segelas air putih untuk Barrie yang kubiarkan menunggu di depan pintu.

“Eh, siapa yang nyuruh lu duduk? Berdiri berdiri!” kata ku protes yang melihat Barrie sudah duduk di sofa.

“Astaghfirullah Mel, gue kan capek berdiri terus.”

“Nih minum lu!” kata ku menyodorkan air putih pada Barrie.

“Kok air putih sih, gue kan pengen jus.”

“Udah, nggak ada nggak ada. Lagian lu pikir ini cafe apa bisa milih milih minum. Air putih juga bagus kali. Sehat!”

“Ya udah, kalo jusnya nggak ada, yang bikin jus aja deh gue bawa pulang.” Kata Barrie menggodaku.

“Udah udah minumnya, buruan pulang sana!” kataku seraya mengambil air yang masih diminum Barrie.

“Ampun deh Mel, lu tuh jahat banget sama gue.” Kata Barrie yang Nampak kewalahan menghadapiku.

“Eh, ada tamu. Di ajak makan sana Mel. Mama baru selesai masak.” Kata mamaku yang tiba tiba datang dan malah menawari Barrie makan.

“Enggka kok ma, Barrie udah mau pulang kok.” Kataku.

“Enggak kok tante, masak saya nolak masakan tante yang pasti enak. Pamali kan tante ya?” kata Barrie yang malah membuatku jengkel dengan ber sok akrab dengan mamaku.

“Ya udah, ayo makan bareng. Malah tambah rame.” Kata mama yang memang selalu bersikap ramah dengan semua tamu yang datang ke rumah.

“Iya, rame. Rame banget!” kataku menatap Barrie tajam yang malah membuatnya berjalan merangkulku.

“Ih, apaan lu!” kataku menepis tangan Barrie.

“Gue lemes, makanya gue pegangan pundak lu.”

“Ih, nggak ada! Nggak ada!” seru ku.

Barrie malah terlihat kembali menggodaku.

“Ma, Barrie…” kataku yang belum sempat kuselesaikan yang hendak mengadu pada mama.

“Iya-iya Mel, gue becanda doang.” Kata Barrie yang tak membiarkanku mengadu pada mama dengan membungkam mulutku.

Aku pun tersenyum bangga lagi lagi merasa menang.

“Ma, papa belum pulang?” tanyaku pada mama yang tak melihat papa duduk di meja makan.

“Kenapa nanyain papa?” kata papa ku yang tiba-tiba muncul dan terlihat keren karena sepertinya baru selesai mandi.

“Tanya doang.” Kataku ketus.

“Wah, bawa calon mantu papa ya?” Tanya papa begitu melihat Barrie yang tengah duduk di sebelahku.

“Iya om, kenalin Barrie!” kata Barrie yang segera berdiri menyalami papaku.

“Bukan! bukan! Barrie ini Cuma orang asing. Temen juga bukan!” kataku yang mungkin menjengkelkan untuk sebagian orang namun hal yang biasa untuk di dengar Barrie.

“Mela!” seru mama menegurku.

“Nggak papa kok tante, udah biasa.” Kata Barrie yang berbesar hati tanpa rasa marahnya sedikitpun.

Tanpa banyak cas cis cus lagi, kami pun makan bersama dengan penuh canda tawa. Meskipun sesekali diselingi celaan celaan ku dengan Barrie.

Hingga saatnya ajang pemilihan putra dan putri sekolahpun akan segera berlangsung.

Dan ternyata benar, aku harus benar-benar maju dengan Haidar untuk mewakili kelasku. Dan Barrie pun maju mewakili kelasnya.

Aku benar-benar merasa konyol mengikuti ajang seperti ini.

“Ihh…. Lebay banget. Ogah gue…” kataku yang masih berusaha menolak meskipun sudah siap dengan performku yang mengenakan dress warna putih dan sepatu high heels setinggi 11 centi itu.

“Udah, lu cantik kok.” Kata Haidar yang Nampak gagah dengan kemeja dan jas yang dikenakannya.

“Mel, senyum yah… aku tahu kamu bisa kok.” Bisik Haidar begitu acara ini segera dimulai.

Dari kejauhan nampak Barrie yang melambaikan tangannya padaku dengan senyum khasnya.

Rentetan sesi pemilihan pun dilakukan. Mulai dari berlenggang bak seorang model, diberi pertanyaan dari juri, serta adu bakat.

Dan tak kusangka saat itu aku menikmatinya.

Sejenak aku seperti lupa dengan semua masalahku. Aku berlenggang dengan santai, menjawab pertanyaan juri dengan antusias dan aku menyanyikan sebuah lagu yang cukup mendapat respon positif. Setidaknya itu yang aku rasakan saat para audience memandang ke arahku dan tersenyum kepadaku.

“Pamela!! Kita pasti menang!” ucap Barrie dari kejauhan dengan isyarat.

Dan aku tak menyangka, jika Barrie benar-benar menyabet gelar putra sekolah. Dan tinggal pengumuman siapa putri sekolah lah yang ditunggu-tunggu.

Aku pun tak terlalu memikirkan hal ini. Bagiku menang tak penting, yang penting hari ini aku lalui dengan lancar dan aku bisa membuktika pada Intan bahwa seorang Pamela Prisilfia tak sebodoh yang difikirkannya. Aku memang bodoh untuk beberapa hal, tapi bukankah manusia selalu diberi kelebihan dibalik kekurangannya.

“Pamela Prisilfia…!!……….” terdengar suara ku disebut oleh dewanjuri yang tengah berdiri di atas panggung.

Aku tak meyimak ucapan orang-orang di panggung tadi. Yang aku tahu hanya Barrie menyandang predikat putra sekolah. Lalu apa maksudnya dewanjuri menyebutkan namaku. Aku hanya diam terpaku tak bergeming dari tempatku berdiri.

“Mela… Mela…” kata Haidar berbisik dengan tangannya yang disenggolkan ke tanganku.

“Haa? Apa Dar?…” Tanyaku dengan polosnya.

“Lu dipanggil suruh maju tuh…” katanya yang masih berbisik.

Aku pun terhenyak dan segera maju ke panggung.

Tak dinyana, aku di sodori tongkat putri sekolah dan dislempangi tulisan yang bertulikan Putri sekolah.

Aku tak tahu apa maksudnya, tapi setahuku hal seperti ini hanya akan dilakukan pada putri sekolah. Artinya aku menang, aku menyandang predikat putri sekolah. Seorang Pamela Prisilfia, gadis angkuh, galak, dan sombong yang tak begitu disukai orang-orang menjadi duta sekolah.

Barrie pun terlihat tersenyum bahagia menatapku. Ternyata aku benar-benar dipasangkan dengan Barrie sebagai duta sekolah. Aku tak tahu harus senang, gembira, sedih, ataukah bagaimana. Aku hanya tersenyum ke hadapan audience.

“Lu cantik Mel kalo senyum…” bisik Barrie yang mencuri curi kesempatan memegang tanganku.

“Lepasin tangan gue…” kataku berbisik yang masih berusaha tersenyum ke hadapan audience.

“Biar kelihatan kompak kok… kan sekarang kita dah jadi putra-putri sekolah…” kata Barrie yang mencoba beralasan.

“Lepasin atau gue injek kaki lu?…” Tanyaku dengan juteknya.

“Injek aja… nggak papa mah kalo diinjek kaki doang ma cewek cantik kaya lu.. jangankan kaki, semuanya juga gue kasih..” kata Barrie dengan gaya slengekannya.

Sontak, langsung saja kuinjakkan kakiku tepat di kaki Barrie.

“Auw!!” serunya setengah berbisik seraya melepaskan tanganku.

Aku hanya tersenyum merasa menang darinya.

“Mel… sakit…” eluhnya padaku begitu manja seperti halnya aku kekasihnya.

Aku hanya diam memandangnya dengan menunjukkan jari telunjuk dan jempol ku yang membentuk huruf L.

“Loser…” kataku begitu angkuh padanya.

“Awas yah…” katanya yang sama sekali tak marah padaku melainkan melempar senyum jahil.

Dan begitu semuanya selesai, selesai pula sandiwara ku. Dimana aku harus tersenyum kesana kemari yang bagiku hanya tebar pesona tak ada guna.

“Mel… selamat yah… “ kata Haidar begitu aku turun dari panggung.

“Iya, makasih…” jawabku datar.

“Sayang yah Mel… harusnya aku yang dampingi kamu jadi putra sekolah.. bukannya si Barbie, anak slengekan itu.

“Siapa yang Barbie… enak aja kalo ngomong!!!” kata Barrie tiba tiba yang merasa tak terima.

Lagi lagi aku merasa pusing dengan ulah dua orang di hadapanku ini.

“Cuma Pamela yang boleh manggil gue Barbie!!!!” kata Barrie seraya menggandeng tanganku dengan pedenya seraya mengajakku berlalu meninggalkan Haidar yang bengong sendirian.

“Ihh… Barbie…. Lepasin tangan gue!!” seruku lagi-lagi yang merasa jengkel.

“Enggak….”

“Barbie!!!!”

“Enggak!!”

“Ihh… lu tuh njengkelin banget sih!!”

“Biarin!… eh… ada apa tuh?!!!” seru Barrie tiba tiba menunjuk ke pojok. Seraya aku menoleh dan Barrie mencium pipiku dan langsung berlalu.

Aku pun terhenyak kaget.

“Barrie!!!!!!!!!!” seru ku begitu jengkelnya pada Barrie yang sudah berdiri jauh dari hadapanku.

“I love you Pamela!!!!!” seru nya dengan senyum mengembang.

“Ehh!! Jangan lari lu!!!!!” seru ku seraya mengejarnya yang malah memacu langkah untuk berlari.

Sementara Intan masih memandang sinis ke arahku.

“Ngapain lu? Heran modal tampang doang bisa jadi putri sekolah?” kataku yang begitu kesal melihat pandangannya padaku.

“Eh! Sombong ya lu baru menang gitu doang?”

“Sombong ma cewek blagu kaya’ lu tuh nggak dosa. Di wajibin malah.” Jawabku seraya pergi berlalu meninggalkannya.

Ia pun nampak begitu kesal padaku. Tapi apa peduliku. Berurusan dengannya hanya akan membuatku naik darah.

Hari itu pun berakhir tanpa dugaan. Aku, Pamela Prisilfia si ratu apatis kini menyandang duta sekolah yang seharusnya diberikan pada orang yang selalu peduli sekitar dan ramah pada orang-orang.

Celaan orang tak lantas membuat kita jatuh

Meskipun kata itu menjatuhkan

Jadikan hal itu cambuk

Cambuk tuk bisa jadi orang yang lebih baik

Dan menyombongi orang yang sombong

Bukanlah sesuatu hal yang picik selama niat kita baik

Karena dengan itu

Kita sedang berusaha untuk membuat orang itu lebih baik

Bukan hanya orang itu

Melainkan juga kita sendiri

Dengan kita sombong

Tentu kita harus punya sesuatu yang bisa kita sombongi

Dan sesuatu itulah yang membuat kita baik

Aku Malu

Keesokan harinya pun aku berangkat sekolah seperti biasanya. Dan tiba tiba saja aku dipanggil kepala sekolah untuk menghadap.

Dan perasaanku mulai tidak enak. Tak biasanya aku diminta menghadap kepala sekolah jika tak ada masalah yang amat sangat begitu penting, atau mungkin masalah pelik yang harus diselesaikan.

Aku pun pergi ke ruangan kepsek yang berada di seberang kelasku dekat ruang tata usaha itu. Aku berusaha tenang, karena aku memang sedang tidak melakukan kesalahan. Kulangkahkan kaki ku perlahan memasuki ruangan yang cukup nyaman di sekolah itu. Karena dilengkapi dengan AC dan TV layar datar yang cukup besar. Aku tak tahu juga apa manfaat TV sebesar itu di ruangan kepala sekolah yang bagiku hanya symbol kemewahan saja.

“Selamat siang pak… bapak memanggil saya??” sapa ku seusai mengetok pintu ruangan orang nomor satu di sekolahku itu.

“Oh… iya Pamela, silakan kamu masuk.”

Aku pun segera duduk di depan kepala sekolahku yang berkumis tebal itu.

“Ada apa pak??” Tanyaku yang tak tahu menahu ada apa sampai aku dipanggil oleh kepala sekolah.

“Kemarin papa kamu datang kesini. Dan mengajukan beasiswa kurang mampu buat kamu.”

Deg!!!!!

Hatiku berdesir jantungku berdetak tak karuan. Lebih tak karuan dari sesaat yang lalu dimana aku menerka-nerka apa yang akan dibicarakan kepala sekolah yang ternyata benar-benar membuatku sedikit syok.

Apa yang papa lakukan. Apakah papa sudah membeberkan semuanya pada kepala sekolahku. Aku benar-benar bingung harus berbuat apa jika semuanya sudah seperti ini. Aku seperti malu dan bingung mau menaruh muka ku ini dimana. Seorang Pamela Prisilfia yang selalu hidup mewah disbanding teman-teman lainnya justru kini tak mampu membayar uang sekolahnya.

Papa ku dulu adalah penyandang dana terbesar di sekolah ini tapi kini papa malah meminta keringanan biaya sekolah untuk aku.

Aku nampak kikuk dan mataku berkaca kaca.

“Apa maksud bapak? Apa papa benar-benar melakukan ini pada saya? Apa bapak tidak salah?” kataku berusaha meyakinkan apa yang aku dengar.

“Kamu nggak usah malu dengan kondisi keluargamu Pamela, papa kamu tetap orang hebat bagi bapak. Hanya mungkin keluarga kamu sedang mendapat ujian dari Tuhan. Kata kepala sekolahku itu yang nampaknya tahu apa yang ada di fikiranku.

“Bapak tau apa soal papa?” kataku yang mungkin sedikit tak sopan.

Kepala sekolahku pun mulai menangkap suasana ketegangan yang aku timbulkan.

“Lalu ?…” kataku menanyakan kelanjutan maksud kepala sekolah memanggilku.

“Tadi saya sudah membicarakan hal ini dengan dewan sekolah dan mereka setuju untuk memberikan beasiswa bantuan untuk kamu.”

“Dewan sekolah?” celetukku dengan angan-angan tak karuan.

Langsung terbayang di benakku apa yang akan aku dapatkan dari teman-teman jika dewan sekolah sudah tahu hal ini. Terlebih, mama Intan juga salah satu aanggota dewan sekolah yang pastinya akan membuatnya bercerita pada Intan anak kesayangannya itu.

Seluruh sekolah akan tahu jika si ratu apatis ini bukan lagi seorang princess yang bisa mendapatkan apapun hanya dengan tepuk tangan atau memetikkan jari. Bahkan mungkin akan banyak mulut yang mencibirku dan mengolokku. Mungkin aku hanya tinggal tunggu waktunya saja dan aku harus menyiapkan mentalku sekuat baja, atau mungkin lebih kuat dari itu.

“Iya, dewan sekolah. Kenapa Pamela? Ada masalah?”

“Jadi seluruh sekolah akan tahu perihal berita pengajuan beasiswa kurang mampu ini pak?” kataku yang mulai tidak tenang menghadapi situasi yang akan kuhadapi.

“Dari pihak kami tidak ada publikasi, jadi kamu tidak perlu khawatir.”

“Tapi pak, Intan?” tanyaku yang berusaha mendapatkan jawaban yang akan membuatku tenang.

“Hal semacam ini tidak ada publikasi, meskipun tidak mungkin sampai diketahui orang. Lagi pula menurut bapak kamu tidak perlu malu karena kamu tidak sedang mencuri ataupun merampas hak orang lain. Kamu hanya sedang memerlukan bantuan karena kamu dalam kesulitan, itu saja. Tidak ada salahnya Pamela, sekali lagi kamu tidak perlu malu.”

“Tapi apa bapak bisa menjamin kalau saya tidak akan mendapat celaan dan olokan dari teman-teman?” kataku yang berusaha menghapus air mata yang sejak tadi berusaha jatuh.

Sesaat aku benar-benar marah dengan apa yang dilakukan papa. Tanpa pemberitahuan dan apa, papa langsung saja melakukan ini tanpa meminta persetujuanku. Apa papa benar-benar sedang ingin membuatku malu?. Setidaknya hal itulah yang tergambar di benak ku kala itu

“Tapi Mel, kamu bisa dikeluarin dari sekolah kalau kamu belum bisa bayar uang sekolah akhir bulan ini!” kata kepala sekolah yang memperingatkanku.

“Mela masih punya handphone dan juga laptop yang bisa Mela gadaiin pak.” Jawabku labil.

“Sudahlah Mel, kamu masih perlu barang-barang itu semua. Jadi bapak mohon, kamu terima saja bantuan dari sekolah ini.” Kata kepala sekolah yang sebenarnya ku ketahui sedang berniat baik itu.

Tapi dari lubuk hatiku yang paling dalam ini, rasa gengsiku begitu besar. Dan mungkin sifat inilah sifat terburuk ku selain apatis yang aku miliki. Hingga tak disangka-sangka papa datang dan berdiri di sebelahku.

“Mela…” kata papa memanggilku yang sudah duduk dari tadi di hadapan kepala sekolah.

Aku pun marah pada papa.

Bisa dibayangkan bagaimana sikapku kala itu. Jika tak marah saja sikapku sudah tak baik pada orang yang berjasa membesarkanku meski bukan siapa siapa ku, apalagi saat sedang marah.

“Kenapa papa nggak ngomong dulu sama Mela kalau papa nggak sanggup bayar uang sekolah Mela?! kenapa pa?” Tanya ku pada papa yang aku ketahui terkesan sedikit kasar.

“Maafin papa sayang, tapi papa bener-bener nggak tega harus bicara sama kamu. Makanya papa punya keputusan untuk minta bantuan pada pak Tomo, kepala sekolah kamu ini.” Kata papa mencoba menerangkan dengan mimic sedih yang membuatku tak tega untuk berdebat lebih lama lagi dengannya.

“Papa nggak tega kalau lihat kamu sampai putus sekolah atau pindah ke sekolah yang jelek.” Lanjut papa.

Hingga akhirnya aku terpaksa menyetujui menerima bantuan dari sekolah itu. Dan aku harus benar-benar bersiap mental.

“Minggu depan, kamu udah bisa langsung ikut ujian tanpa harus mengurusi administrasi sekolah lagi Pamela.”

“Oh… iya pak, terimakasih banyak.” Kataku dan papa hampir bersamaan.

“ Maaf, apa bapak udah selesai?” tanyaku pada kepala sekolah.

“Iya, hanya itu yang mau saya sampaikan.”

“Kalau gitu saya permisi pak….” Kataku seraya berlalu keluar meninggalkan ruangan itu tanpa berpamitan dengan papa.

Air mataku pun luluh dan sanggup membuat kaki ku lemas hingga aku tak sanggup lagi berjalan. ku dudukkan tubuh ini di bangku taman dekat ruang kepala sekolah.

Tak lama, Barrie datang menghampiriku.

“Mel…… lu kenapa?..” Tanya Barrie begitu perhatian.

Tangiskupun tak bisa kusembunyikan. Entah apa yang aku rasakan, mungkin tak seharusnya aku merasakan rasa ini, rasa malu akan status social keluargaku saat ini. Tapi aku tak bisa memungkirinya, aku malu.

“Barr… gue boleh pinjem bahu lu?” tanyaku dalam tangis pada manusia paling menjengkelkan itu.

“Jangankan bahu, dada juga gue kasih…….” Jawab Barrie yang membuka tangannya untuk ku.

Aku pun langsung menangis di pelukan Barrie. Saat itu aku tak berfikir, siapa Barrie. Aku hanya ingin menenangkan diri.

“Ada apa?” Tanya Barrie.

“Gue malu………. Gue malu Bar…”

“Malu?…”

“Gue bukan lagi Pamela si princess yang bisa nglakuin apa aja. Yang punya kekuasaan dimana aja…. Gue udah bukan Pamela si princess.”

“Pamela… Pamela… siapa yang bilang kalau lu bukan princess lagi?.. bagi gue, dari dulu sampe sekarang lu tuh tetep princess gue…” kata Barrie yang tertawa renyah.

Langsung saja ku tinju bahunya.

“Lu malah bercanda…” kata ku dengan nafas yang masih tersengal-sengal.

“Apa gunanya kekuasaan kalo kita nggak punya teman, dan apa gunanya uang kalau kita nggak peduli kawan?…” kata Barrie yang nampaknya ingin memberitahuku.

Aku pun memandangnya bertanya-tanya maksud apa yang dikatakannya.

Dengan sabarnya, Barrie menyeka air mataku. Aku pun terhenyak.

“Maksud lu apa?” tanyaku dengan suara yang masih sumbang.

“Udahlah…. Emang segalanya butuh uang, tapi uang kan bukan segalanya. Yang penting lu masih bisa makan, lu masih bisa sekolah di tempat yang bagus, dan lu masih punya teman-teman kalau lu mau bertemen….”

“Emang aku jahat banget ya Bar?”

“Kamu tuh nggak jahat, kamu nggak pernah ngina orang, ngremehin orang, meskipun kamu tajir. Cuma.. kamu kurang peka sama orang-orang di sekitar kamu. Cuek, dan terkesan apatis. Tapi nggak tau kenapa aku tetep aja suka sama kamu. Sejak dulu malah, sejak SMP, belum kenal cinta.”

Aku pun hanya diam dengan kepala menunduk.

“Mel…”

“Kenapa sih kamu tetep suka sama aku? Padahal aku dah jahat banget gitu sama kamu…”

“Mungkin emang kamu jodoh aku…” jawab Barrie yang mulai menunjukkan sikap slengekannya.

“Cie….. cie……..” ledek Laras yang tiba tiba lewat di depan ku dan Barrie.

“Ihh!! Apaan sih lu!!” bentakku tiba tiba pada Barrie seraya berlalu meninggalkannya dan bergegas mencari papa yang mungkin belum pergi dari sekolah ini. Segera ku pacu langkahku menuju parkiran tamu yang mungkin saja papa masih disana bersiap pergi.

“Papa!” seru ku memanggil orang yang begitu berjasa dalam hidupku itu.

Papa yang hendak mengenakan helm itu pun segera menoleh padaku.

Ku peluk tubuhnya seperti anak SD yang sedang memanja, dan ini kali pertamanya aku memeluk papa yang aku anggap orang asing selama ini.

Dan kurasakan kehangatan pelukan seorang papa yang sudah sekian lama tak pernah ku rasakan. Yang aku ingat terakhir aku merasakan pelukan seorang papa adalah saat aku mendapat ranking sewaktu aku duduk di kelas satu sekolah dasar. Bisa dibayangkan berapa lamanya.

“Pa, maafin Pamela. Pamela udah salah sangka nilai papa. Pamela udah salah pertahanin gengsi Pamela.” Kataku meminta maaf dengan air mata luluh.

Terlihat papa hanya tersenyum tanpa terlihat wajah kesalnya sedikitpun.

“ Iya, kamu nggak salah. Memang papa yang salah. Nggak seharusnya papa buat kamu ngrasain kekurangan kaya’ sekarang.”

“Papa jangan ngomong gitu.”

“Ya udah, papa mau balik ke kantor. Sekolah yang bener ya sayang..”

“Yes bos!” kataku pada papa yang sudah siap melajukan matic barunya yang dibeli dari hasil jual mobil itu.

Aku benar-benar menyesal dengan sikapku tadi.

Bagaimana bisa aku berontak saat seseorang sedang mengusahan pertolongan dan hendak menolongku.

Apa gunanya dengan gengsi jka hanya akan membuat kita sakit hati.

Dan aku mulai berfikir, jika semua yang dikatakan Barrie barusan sepertinya benar. Sebenarnya bukan kebangkrutan papaku lah yang kelak akan membuat teman-teman mencelaku. Melainkan karena sikap apatis dan gengsiku inilah yang nantinya harus aku pertanggung jaawabkan.

Sejak hari ini, aku pun tak lagi menjaga jarak dengan orang yang kusebut papa meskipun bukan siapa siapa ku dari segi biologis itu. Aku baru sadar, jika papa benar-benar peduli padaku dan ikut memikirkan masa depanku. Aku sudah salah sangka hingga sejauh ini, dan aku menyesal.

Sementar Barrie yang tadi kutinggal pun hanya geleng-geleng kepala dan Laras masih berdiri memandangi Barrie yang terlihat senyum senyum sendiri.

“Bar… lu beneran suka ya ama Pamela??” Tanya Laras ingin tahu seraya duduk di samping Barrie.

“Ihh… apaan sih lu mau tau aja..” jawab Barrie cengengesan.

“Ya nggak… yah lucu aja gitu kalo sampe kalian berdua jadian. Yang satu apatis, yang satu slengekan…”

“Tapi ganteng dan cantik dong?…”
“Pamela sih emang ketahuan cantik, nah kalo lu?… heleh…” jawab Laras bercanda.

“Ihh.. dasar lu!!” protes Barrie mendengar jawaban Laras.

“Tapi menurut lu Pamela gimana?”

“Gimana maksudnya?”

“Yah gimana?…”

“Aduh.. Pamela kan terkenal apatis, mana gue tahu soal dia?.. tapi denger-denger sih si playboy Haidar tuh lagi ngejar ngejar Pamela gitu..”

“Hmmm.. gue tahu! Tapi gue pastiin si kunyuk itu nggak bakal dapetin si Pamela.” Kata Barrie penuh keyakinan.

“Ehh… siapa bilang, ati-ati loh yah.. kemarin aja gue liat mereka makan bareng di kantin.”

“Pamela ma Haidar??!!! Ahh.. yang bener lu?!” Tanya Barrie yang mulai nampak khawatir..

“Heleh……. Tadi aja bilangnya Haidar bukan rintangan, sekarang malah kebakaran jenggot gitu….”

“Yah… namanya juga takut kehilangan Ras.. masa lu gak ngerti?”

“Iya-iya, gue ngerti. Tapi Haidar tuh orangnya juga pantang menyerah kalo belum bisa dapetin apa yang dia pengen. Apalagi dia pinter banget ngrayu cewek, ganteng pula!”

“Dasar lu Ras, bikin ati gue panas aja.” Seru Barrie.

“Terus?”

“Nggak ada terus terus, yang jelas gue yakin bakal dapetin cinta Pamela.” Barrie pun mengacak acak rambut Laras seraya berlalu.

Laras hanya manyun sembari membetulkan dandanan rambutnya.

Dan lagi-lagi aku teringat Barrie.

Aku benar-benar tak tahu apa yang ada di benak Barrie, cowok slengekan itu.

Bagaimana bisa ia menyukai aku dan mempertahankan rasanya hingga sejauh ini. Jujur, aku merasa kasihan padanya jika ia terus menungguku. Tapi aku juga tak mungkin menerimanya hanya karena rasa kasihan. Dan aku tak mau memberinya harapan karena aku takut akan melukainya.

Bel pulang pun berbunyi, itu tandanya aku harus segera pulang. Tak ada lagi mall, cafe, ataupun jalan-jalan kesana kemari menghabiskan uang.

“Mel… gue anterin pulang ya….” Kata Haidar tiba tiba padaku.

“Nggak usah, makasih…”

“Tapi Mel…”

“Udah, gue pulang sendiri aja!!” kata ku yang masih ketus meskipun mendengar niatan baik Haidar.

“Mel, tapi lu pucet banget. Gue anterin lu pulang ya?” kata Haidar yang belum menyerah.

“Gue bilang enggak ya enggak! Telinga lu baik-baik aja kan?!” bentakku kasar.

Kepalaku benar-benar serasa pecah. Hingga emosi ku benar-benar tak terkendali. Tak pelak orang-orang di sekitarku pun menjadi sasaran kemarahanku. Termasuk orang-orang yang berniat baik seperti halnya Haidar.

 Banyak kata melukiskan ibu

Bahkan mungkin semua kata tak cukup melukiskan keagungan ibu

Tapi apakah lantas kita lupa

Disamping ibu masih ada ayah…

Orang yang selalu ikut serta memberikan kehidupan

Memberikan nafas        

Memberikan detak jantung

Dan memberikan aliran darahnya untuk kita

Disamping ibu masih ada ayah…

Yang berjuang sekuat tenaga

Memberikan ini dan itu yang kita pinta

Tangisnya mungkin tak pernah kita lihat

Eluhnya mungkin tak pernah kita dengar

Dan lelahnya mungkin tak pernah kita rasa

Jikalau boleh mereka mengeluh

Tentu banyak hal yang akan mereka ucapkan

Mengapa ada hari ibu tanpa hari ayah

Padahal tanpa ayah tak akan tercipta kehidupan untuk kita

Hormati ibumu

Begitu pula ayahmu

Mereka Seperti Memperebutkan Aku

Entah ada apa dengan tubuhku saat itu. Aku merasa benar-benar lemas dan pusing luar biasa. Aku pun tak bisa mengontrol langkahku dengan baik. Hingga aku pun terjatuh.

“Mel!! Pamela!!!” seru Haidar yang langsung menangkap tubuhku dan mengangkatku.

Aku setengah sadar kala itu. Yang jelas aku hanya melihat Haidar yang mengkhawatirkanku. Tapi aku tak sanggup bicara apalagi bergerak. Aku pun pingsan di gendongan Haidar. Dan aku tak sadar apa yang terjadi padaku selanjutnya.

Dan begitu aku terbangun, aku sudah berbaring di ranjang UKS dan mendapati senyum Haidar yang entah membuat hatiku merasa nyaman.

“Haidar…..” kataku lirih menyebut namanya karena memang hanya dia yang ada di ruangan itu bersamaku.

“Iya Mel, gue disini. Lu tadi pingsan, makanya gue bawa ke UKS. Lu sih gak mau gue anterin pulang udah tau mukanya pucet gitu juga….”

“Makasih…” kata ku.

“Iya, sama sama. Nah gitu dong senyum… “ kata Haidar.

Aku sendiri tak sadar akan senyum yang kusunggingkan untuknya.

“Ya udah, sekarang mesti nurut. Lu gue anterin pulang, titik!!!” kata Haidar tanpa kompromi.

Tiba-tiba saja Barrie muncul.

“Ehh.. mau ngapain lu?!!! Udah udah! Biar Pamela gue yang nganter!!!” kata Barrie yang berusaha menjauhkanku dari Haidar.

“Lu tuh kenapa sih?… hobi banget gangguin gue ama Pamela!!!!” seru Haidar yang menyatakan protesnya.

“Pamela tuh calon isteri gue!!” kata Barrie yang nampaknya mulai nglantur.

Tiba tiba saja Laras datang menghampiri kami bertiga.

“Barrie, Pamela, dicariin pak kepsek tuh!” kata Laras yang Nampak ngos-ngosan. Bisa ditebak jika ia baru saja berlari kesana kemari mencari Barrie.

“Aduh Ras… bilang ma kepsek deh, gue mau nganterin Pamela pulan. Pamela lagi nggak enak badan.”

“Nggak bisa Bar, katanya penting. Lu berdua kan duta sekolah. Cepetan deh!!”

Nampak Haidar tengah memegangi Pamela membantunya bangun dari tempat tidur..

“Kepsek manggil gue juga?” tanyaku meyakinkan.

“Iya Mel.” Jawab Laras tanpa keraguan sedikitpun.

“Jangan Mel, lu kan lagi sakit. Mending gue aja yang nemuin kepsek.”

“Tapi…”

“Udah, lu langsung pulang aja.”

“Iya Mel, biar gue yang anter lu pulang.” Kata Haidar dengan senyum.

“Awas lu ya kalau sampe Pamela lu apa-apain…” kata Barrie bak anak kecil memperingatkan Haidar yang bermaksud mengantarku pulang.

“Iya, paling juga gue gendong. Hahahahaha” jawab Haidar dengan santainya secara tertawa merasa menang.

“Nggak!!! Gue nggak mau pulang sama lu atau lu!!” kataku dengan juteknya sembari menunjuk Barrie dan Haidar.

“Laras!.. tolong anterin gue pulang yah..” kataku meminta tolong pada Laras.

“Iya Mel, ayo!” kataku seraya berlalu pergi dengan Laras meskipun badanku masih sedikit lemas.

Terdengar mereka berdua malah saling ribut menyalahkan. Tapi sudahlah, lagi lagi aku hanya bisa merasa kesal jika mereka berdua bertemu di hadapanku. Aku bukan mainan atau pun barang yang patut diperebutkan. Aku hanya seorang Pamela, gadis biasa yang punya rasa yang bukan untuk dimainkan atau semacamnya. Dan bagiku pacar bukanlah prioritas hidupku. Toh tanpa pacar hidupku juga baik baik saja.

Setibanya di rumah aku pun segera membaringkan tubuhku. Aku tak enak badan karena mungkin aku terlalu stress memikirkan hal hal yang seharusnya tak perlu aku fikirkan. Dan keesokan harinya, tak dinyana Haidar menjemputku dengan motor sport miliknya.

Aku pun terperanga melihatnya yang sudah standby di depan rumahku.

Aku yang sudah siap pun segera keluar untuk pergi ke sekolah.

“Pagi Pamela…..” kata Haidar dengan senyum mengembang yang membuatnya tampak semakin keren.

“Lu ngapain disini?” tanyaku setengah membentak.

“Kok ngapain sih?… ya jemput lu lah…. Ayo’ buruan naik!!”

“Nggak usah!! Makasih, gue bisa berangkat ke sekolah sendiri.” Jawabku yang langsung berlalu dari hadapannya.

Iapun mengejarku.

Ditariknya tanganku dan diajaknya aku duduk di atas motor miliknya itu.

Dengan terpaksa akhirnya aku pun berangkat bersama Haidar, si seleb skul itu.

“Dar, kita lewat mana sih? Kok perasaan nggak nglewatin jalan yang biasa gue lewatin. Lu nggak lagi nyulik gue kan?” kataku pada Haidar yang dari tadi mengawasi jalanan yang bagiku asing ini.

“Udah, yang penting sampe sekolah.” Jawab Haidar santai.

Aku tak tahu, dia sengaja atau tidak. Tiba tiba saja ia mengegas motornya begitu kencang hingga aku terperanjat dan langsung mendekapnya erat erat.

“Gila lu ya!” bentakku pada Haidar seraya menabok keras bahunya.

“Sorry sorry! Kan udah siang, kalo nggak ngebut keburu telat ntar. Lu mau telat?” balas Haidar yang malah mengancamku.

“Ngebut sih ngebut! Iya kalo sampe di sekolah, awas aja kalo sampe rumah sakit!!” balasku membentaknya.

“Pegangan Mel!” kata Haidar yang nampaknya tak menghiraukan protesku.

“Ih ogah!” jawabku tegas yang tiba-tiba langsung mendekap Haidar erat-erat karena motornya yang dilajukan dengan kecepatan super.

Dan begitu tiba di sekolah, terlihat Barrie yang sudah berdiri di parkiran yang sepertinya ia sedang menunggu seseorang.

Dan ia pun terlihat sedang menahan amarah begitu ia melihat aku dibonceng Haidar.

“Mel!… kok lu berangkat bareng si kodok ini?” Tanya Barrie padaku begitu aku turun dari motor.

Ia nampak kesal karena mungkin merasa cemburu.

“Terserah Pamela dong… lu kan nggak punya hak buat nglarang nglarang dia!!” jawab Haidar.

“Gue Tanya Pamela yah… bukan lu.”

“Udah deh, nggak usah mulai berantemnya.” Kataku menengahi adu mulut dua bersaudara ini.

Barrie terlihat bersungut-sungut menahan amarah. Sementara Haidar sedikit bisa lebih tenang karena aku tahu dia punya control emosi yang lebih baik dari si Barbie Barrie.

“ Tadi Haidar jemput gue Barbie… dia maksa gue, gue juga nggak mau sebenernya dibonceng dia.” Kataku ketus menjelaskan pada Barrie yang setelah ku pikir-pikir tak terlalu penting juga menerangkan ini itu pada Barrie yang bukan siapa siapaku itu.

Haidar hanya diam mendengar ucapanku. Aku tak tahu apakah dia tersinggung atau apa tapi dia masih terlihat menyungging senyum padaku.

“Tadi kalian lewat mana? Tadi gue juga jemput lu Mel. Tapi katanya lu udah berangkat bareng cowok, ternyata dia. Tapi sampai disininya malah duluan gue.”

“Gue nggak kemana mana, nggak tahu nih Haidar tadi lewat mana.” Kataku seraya menyatakan protes pada Haidar yang sedang melepas helm full face nya.

“Nggak, gue Cuma ceri jalan yang enak aja. Yang nggak rusak.”

“Enak nggak rusak apa enak lama-lama sama Pamela!!” kata Barrie yang kesal.

“Dua-duanya!” jawab Haidar berbisik di telingan Barrie yang membuatnya terlihat semakin kesal.

“Udah! Udah! Yang penting gue baik baik aja dan tadi gue cuma dibonceng sama Haidar, udah nggak lebih. Makasih ya Barbie udah perhatiin gue….” Kataku seraya mencubit pipi Barrie seraya hendak pergi ke kelas.

“Oh iya, makasih juga Dar, lu udah hampir bikin gue jantungan!” kata ku pada Haidar yang malah Nampak tersenyum menatapku.

Aku pun segera pergi ke kelasku.

“Wahh……….” Celetuk Barrie sembari mengelus pipi yang tadi kucubit dengan senyum mengembang di bibirnya.

Aku pun hanya tersenyum melihat cowok satu itu.

“Ah, dasar lu!” kata Haidar tersenyum seraya menjitak kepala Barrie dan berjalan menyusulku masuk kelas.

Dan setibanya di kelas, aku mendapati teman teman memandang aneh ke arahku.

“Mel… jadi mau nih di deketin cowok cowok setelah nggak punya apa apa lagi?… “ kata Intan tiba tiba yang mengejutkan aku dan cukup membuatku sedih. Apa maksudnya, aku tak mengerti tapi aku tahu bukan maksud baik yang ingin diungkapkannya.

“Maksud lu apa?” tanyaku memandang tajam ke arahnya meskipun di sudut mataku sudah ada air mata yang berusaha aku tahan sekuat tenaga.

“Lu mau manfaatin duit Haidar dan Barrie biar lu tetep bisa hidup glamour kaya’ dulu sebelum papah lu yang hebat itu bangkrut!!!!!” kata Intan dengan beraninya.

“Eh!! Jaga ya mulut lu!!! Gue bukan cewek kaya’ gitu. Gue nggak pernah manfaatin mereka atau bahkan ngedeketin mereka.!!”

“Heleh… ngeles aja lu!!”

“Terserah ya lu mau ngomong apa. Paling juga karena lu sirik ama gue. Sirik tanda tak mampu!” kataku santai menanggapi komentar miring nenek lampir yang krempeng itu.

“Sirik? Buat apa gue sirik ama cewek murahan kaya’ lu!” kata Intan yang semakin berani mencelaku.

“Intan..!!!! keterlaluan banget sih lu!” kata Laras dengan beraninya menantang Intan demi membelaku, si ratu apatis.

“Lu juga ngapain Ras ikut ikutan?” Tanya Intan yang malah semakin blagu dan nyolot.

“Udah Ras, nggak usah diladenin cewek kamseuplay kaya’ dia!! “ kataku yang langsung menarik tangan Laras untuk lenyap dari hadapan Intan.

“Hei! Lu berdua tuh yang kamseuplay!” seru Intan marah.

Intan pun terlihat begitu jengkel.

Langsung saja kubalikkan badanku dan kembali ku hampiri Intan.

“Huft!” kutiup wajahnya sekuat tenaga ku untuk menunjukkan kekesalanku. Ia pun memerjih. Dan aku segera berlari meninggalkannya merasa menang.

“Pamela!!!!!” seru Intan yang sepertinya begitu jengkel padaku.

Aku pun berpapasan dengan Haidar yang masih hendak masuk ssementara aku melangkah keluar.

“Ada apa nih?” Tanya Haidar pada teman-teman.

“Ah biasa, si ratu apatis ama nenek lampir.” Jawab Arrie.

Haidar pun segera menghampiri Intan. Intan Nampak tersenyum senang Haidar menghampirinya.

“Lu nggak usah gangguin Pamela lagi. Dan lu juga mesti tau, kalau dia bukan cewek matre atau cewek yang suka manfaatin orang seperti halnya lu!” kata Haidar yang langsung merubah senyumnya menjadi cemberut kesal.

 

“Ras, makasih ya..” kataku dengan senyum pada seseorang yang aku sebut teman itu.

Baru kali ini aku merasakan mempunyai seorang teman yang mau membelaku dan membantuku.

“Iya… nggak masalah kok bela orang bener…” kata Laras yang begitu ramah.

“Gue minta maaf ya Ras.. pasti anak anak udah pada tau ya soal bokap gue?…”

“Hmmm… iya sih, siapa lagi kalau bukan si mak lampir itu yang heboh ngasih tau. Tapi anak anak nggak peduli kok. Cuma si mak lampir tuh ajah yang jaius!!” kata Laras.

“Maafin gue selama ini ya…… gue baru tahu, kalau temen tuh penting. Uang nggak bisa membuat kita tenang setenang saat kita memiliki teman.”

“Wahh… gue jadi temen si princess nih… si ratu apatis?!!!!” kata Laras yang malah menggodaku. Aku pun hanya tertawa renyah dibuatnya.

“Mel, lu nggak kenapa-napa?” Tanya Haidar yang tiba-tiba lagi m,enghampiriku.

“Enggak, kenapa lu?”

“Gue denger tadi lu baru rebut sama Intan.”

“Terus, pernah gitu denger kabar kalau gue nggak bisa ngadepin Intan.” Jawabku ketus.

“Iya, gue percaya sama lu.” Jawab Haidar.

Semua tak seburuk yang aku bayangkan. Anak anak tak begitu peduli dengan keadaanku. Syukur tak ada bibir yang mencibirku kecuali nenek lampir itu.

Hingga akhirnya hari ujianku pun sudah di depan mata.

Malam ini kuputuskan untuk tidur lebih cepat agar aku bisa bangun pagi esok sehingga lebih fresh dalam menghadapi ujian. Ujian matematika, pelajaran yang sangat lemah bersarang di otakku.

Tapi entah kenapa, aku tak bisa segera memejamkan mataku malam ini. Aku tak mengantuk bahkan mataku masih sanggup terbuka lebar.

Tiba tiba saja aku mengingat ulah ulah lucu Barrie dan Haidar, lebih lebih Barrie yang amat slengekan itu. Tak jarang aku senyum senyum sendiri mengingat hal itu.

“Apa apaan sih gue ini. Bukannya tidur malah inget si Barbie ma Haidar..” kataku yang berusaha mengusir bayangan mereka agar aku bisa cepat tidur dan bisa bangun lebih pagi dari biasanya sehingga aku punya kesempatan untuk memperdalam materi esok pagi dan tidak terburu-buru.

Hingga akhirnya aku benar-benar tidur meskipun sudah cukup larut malam.

Dan tak seperti rencanaku, aku bangun kesiangan dan harus buru buru bersiap untuk pergi ke sekolah dan menghadapi ujian.Aku pun sudah tak sempat untuk membuka buku materi matematika ku untuk kembali ku pelajari walau hanya untuk sejenak. Karena jika aku paksakan sudah pasti aku akan kekurangan waktu mengerjakan soal ujian nanti Karen kedatanganku yang terlambat.

“Ma,Pamela berangkat dulu. Assalamualaikum…” kataku terburu buru pada mama yang sudah menyiapkan sarapan di meja makan yang tak sempat ku sentuh karena aku akan telat jika tak segera berangkat.

Dan tepat, aku tiba di sekolah bersamaan dengan bunyi bel masuk kelas pertanda ujian akan segera dimulai. Aku pun berlari sekuat tenagaku untuk segera masuk kelas.agar tak membuang waktu mengerjakan ujian yang begitu berharga. Dan syukurlah, aku belum terlambat tiba di kelas. Pengawas masih berjalan menyusuri koridor dan aku berhasil mendahului mereka meskipun dengan berlari sekuat tenagaku hingga nafasku ngos ngosan dan peluhku meniti.

Langsung saja ku atur nafasku sejenak hingga akhirnya aku duduk di bangku yang bertuliskan nama dan nomor ujianku. Dan ternyata apa, aku duduk di bangku paling depan.

“Mati gue!!” celetukku seraya menaruh kepalaku di dahiku begitu tahu tempatku paling depan.

Pengawas pun membagikan lembar soal dan jawaban satu persatu ke seluruh isi kelas.

Pengawaspun melarang kami untuk segera membuka lembar soal itu melainkan mengisi identitas diri selengkapnya di lembar jawab yang kelak akan jadi masalah jika kami sampai lupa mengisinya karena terlanjur panic melihat soal yang mungkin saja akan sangat membuat perut mual dan kepala pusing.

Ku isi semua kolom identitas yang telah disediakan. Dan kembali ku atur nafasku untuk mengurangi rasa gugup yang menyerbuku. Hingga bel pertanda ujian dimulai pun berbunyi.

Aku pun langsung membuka soal soal di hadapanku itu yang sebenarnya sejak tadi sudah kuintip karena merasa penasaran..

Hanya dua puluh lima soal, tapi sepertinya akan sanggup membuat kepalaku ini berasap.

Dua pengawas di depanku pun membuka matanya lebar lebar dan mengawasi ke seluruh penjuru arah bagaikan predator yang siap menerkam mangsanya.

“Aduh, bu Widia lagi!” batinku dalam hati yang sudah hafal dengan gaya mengawasi guru ekonomi setengah baya yang belum menikah itu hingga dijuluki perawan tua oleh teman-temanku. Ditambah perangainya yang judes dan sadis yang kerap membuat anak-anak mengeluarkan keringat dingin saat diajarnya.

Aku seperti dibuat lumpuh oleh tatapan mereka, dan aku seperti ditindih beton ber ton ton dengan dua puluh lima soal yang tak bisa aku jawab sama sekali itu.

Berkali kali ku baca soal yang tertera di lembar soal itu, dan berkali kali juga aku berusaha menghitung mencari jawaban dengan rumus rumus yang aku tahu sampai sampai lembar coretanku penuh sebelum waktunya. Meskipun demikian hasilnya nihil, semua rumus yang aku hafal dan aku gunakan sama sekali tak membuahkan hasil.

Aku pun terheran dengan diriku sendiri. Rumus apa saja yang aku hafal sampai tak bisa kugunakan sama sekali untuk mengerjakan soal di hadapanku yang hanya dua puluh lima buah. Betapa bodohnya aku. Apa saja yang aku perbuat di kelas hingga tak bisa mengerjakan soal-soal yang aku yakin sudah diajarkan oleh pak Murdhomo, guru matematika ku.

Hingga akhirnya pengawas ujian memberitahu jika waktu yang tersisa tinggal 30 menit dari 90 menit yang disediakan.

Lagi lagi ku bolak balik kertas di hadapanku itu hingga kusut. Aku benar-benar panic dan tak tahu apa yang harus kuperbuat. Mengumpulkan lembar jawabku yang kosong, tak mungkin ku lakukan. Menjawab asal-asalan pun juga tak mungkin. Aku pun berusaha menghitung dan menghitung lagi sampai akhirnya aku berhasil menjawab beberapa soal. Tak banyak, dan tak cukup membuatku tenang. Karena hanya lima soal yang berhasil aku temukan jawabannya.

Lalu dari mana aku bisa mendapatkan 20 jawaban soal lainnya.

Aku benar-benar mati gaya. Mau mencontek, tak mungkin. Mau bertanya teman, rasanya susah. Semua terlihat sibuk dengan pekerjaan mereka sendiri.

“Ssstt…. Ssttt…” terdengar desis yang sanggup membuatku menoleh.

Dan ternyata Haidar yang sedang memanggilku.

Entah mungkin dia melihat lembar jawabku yang masih kosong atau apa hingga dia menunjukkan lembar jawabannya yang sudah penuh padaku.

Aku pun segera memperhatikan jawaban miliknya itu dan langsung ku salin di lembar jawabku dengan penuh hati hati agar pengawas pengawas bak predator itu tak tahu.

Cukup sulit aku bisa melihat jawaban Haidar dengan jelas karena jarak kami yang cukup jauh. Tapi aku pun berusaha meskipun sesekali mataku memerjih.

Hingga pengawas itu mengatakan jika waktu mengerjakan telah habis dan masih ada lima nomor yang belum berhasil aku isi.

Aku pun segera memacu gerak jariku untuk memainkan pensil dan menghitamkan lingkaran lingkaran yang semoga benar.

Dan pengawas itu pun dengan cepatnya mengambil lembar jawabku yang untung saja sudah berhasil ku penuhi tanpa ada yang tertinggal satupun meskipun aku sangat tak yakin jika jwaban jawaban ku itu tepat.

Begitu aku keluar dari kelas, Haidar pun sudah ada di luar dan segera menyapaku.

“Gimana Mel?…” Tanya Haidar yang Nampak begitu peduli padaku.

“Udah selesai kok… makasih yah…” kataku dengan senyum mengembang ucapan terimakasih.

Kurang lebih seminggu lamanya ujian kenaikan kelas itu berlangsung. Dan setelah ini akan ada penentuan masuk jurusan.

Dan harapanku, tentunya aku bisa masuk IPA, karena aku ingin menjadi dokter.

Meskipun rasanya sedikit sulit karena aku memanglah tak begitu cerdas.

Hingga akhirnya pengumuman naik kelas pun tiba. Tepat hari Sabtu pukul 09.00.

Satu persatu penghuni kelas mulai dari X-H sampai X-B sudah mendapatkan pengumuman. Lalu dimana wali kelas ku hingga jam segini belum menampakkan diri.

Cukup lama aku dan teman teman lain menunggui bu Denok.

“Maaf anak anak, ibu terlambat. Tadi ada kecelakaan di jalan makanya macet panjang sekali.” Kata bu Denok yang akhirnya muncul juga.

Langsung saja bu Denok membagikan hasil evaluasi kami selama satu tahun ini. Dan bisa ditebak, kebanyakan teman teman ku masuk jurusan IPA, karena kelasku memang kelas unggulan. Sedangkan aku masih dag dig dug belum menerima hasilnya.

“Pamela Prisilfia……” seru bu Denok menyebutkan namaku.

Aku segera maju untuk mengambil hasil evaluasi itu. Sementara Haidar sudah berdiri di dekat bangku ku yang nampaknya juga merasa penasaran dengan hasilku karena ia sudah tahu akan hasilnya yang masuk jurusan IPA.

Ku buka perlahan lahan rapor ku itu. Dan apa yang aku lihat, aku masuk jurusan IPA. Jurusan yang benar-benar aku inginkan. Sontak aku pun bersorak sorai.

“Gimana Mel?…” Tanya Haidar padaku yang nampak ingin tahu.

Sontak aku segera memeluk tubuhnya dengan rasa penuh keceriaan.

“Gue masuk IPA, makasih Dar!!!!” kataku yang tak sadar telah memeluk tubuh lelaki tampan yang berpostur tinggi itu.

Namun dengan cepat ku lepas pelukanku itu begitu aku tersadar jika tak seharusnya aku melakukan itu.

“Sorry Dar… gue nggak sengaja.” Kataku yang merasa kikuk.

“Iya, nggak papa. Sengaja juga boleh kok………” kata Haidar yang malah menggodaku.

“Ihh! Apaan sih lu!!!!” kataku dengan ketusnya seraya meninju lengannya.

“Auw!! Masih aja lu!!!..” protes Haidar yang meringis kesakitan.

“Apa?!!!!”

“Ketus, galak!!!!”

Aku pun langsung menatap sinis ke arahnya.

Ia pun malah tertawa terpingkal pingkal. Sontak aku pun ikut tertawa.

“Ya udah, ayo’ pulang.” Kata Haidar yang mengajakku pulang bersama dengannya.

“Hmmm……….” Gumamku yang masih berfikir harus berkata ya atau tidak.

“Udah ayo……” kata Haidar yang tiba tiba menarik tanganku dan menggenggamnya erat erat.

Aku tak tahu apa yang dilakukannya itu sengaja atau tidak. Yang jelas aku merasa kikuk dan jantungku berdebar debar saat ia menggenggam tanganku dan tak kunjung melepasnya.

“Haidar!!!” seru ku padanya yang terus menggandeng tanganku.

“Iya, apa sih?…” Tanya nya yang belum melepaskan tanganku.

Aku pun hanya memandang tangannya yang menggenggam tanganku.

“Hem!! Hem!!” aku berdehem kecil untuk mengingatkannya.

Tapi Haidar nampaknya cuek tak peduli dan tak melepaskan tanganku.

“Dar… lepasin tangan gue!!!” kata ku padanya.

“Enggak… gue tuh megangin lu biar lu nggak ilang!!!” kata Haidar yang malah tertawa meledekku.

“Yew!! Emang gue anak kecil apa pake acara ilang…” kataku seraya menjambak rambut Haidar yang cepak itu.

“Auw auw!!!” serunya seraya melepaskan tanganku.

“Gue duluan yah………………..” seru ku yang berlari meninggalkannya sendirian. Tak dinyana ia pun segera berlari mengejarku.

“Pamela!!!!! Awas ya lu!!!!” serunya yang mengejarku.

Siang itu pun akhirnya aku pulang bersama dengan Haidar.

“Mel….. jangan langsung pulang ya….”

“Mau ngapain lu? Awas lu kalo nyuri nyuri kesempatan ama gue!!!”

“Makan doang kok….”

“Ogah! Gue mau pulang atau lu turunin gue disini.?!!” Kata ku dengan tegasnya.

“Iya-iya!! Gue anterin lu pulang…” kata Haidar yang nampak mengalah padaku.

Hingga aku benar-benar tiba di rumah.

“Mel… gue mampir ya?!!” kata Haidar yang menawarkan diri tanpa ditawari.

“Nggak usah… lu langsung pulang aja. Makasih udah nganterin gue… ati-ati di jalan..” kata ku yang langsung berlalu. Ia pun Nampak kecewa.

Dan betapa sumringahnya dia saat aku membalikkan badanku menoleh padanya. Mungkin ia berharap aku akan berubah fikiran, tapi toh aku hanya ingin mengucapkan salam padanya.

“Assalamualaikum…” kata ku dengan sunggingan senyum.

“Waalaikumsalam…” jawabnya yang juga melempar senyum ke arahku.

Ditutupnya kembali kaca helmnya dan ditariknya gas motornya itu perlahan hingga akhirnya tak terlihat lagi.

Barrie Barbieku

Tak disangka, begitu aku masuk ke dalam rumah, siapa yang tengah kudapati duduk di depan ruang TV yang asik ngobrol dengan mamaku.

“Barbie!!!” seru ku kaget melihat sosok yang ku maksud adalah Barrie.

“Eh! Mela… baru pulang?…” jawab Barrie dengan santainya.

“Kok baru pulang Mel?… ditungguin Barrie nih…”

Aku pun langsung memacu langkahku menuju kamarku.

“Pamela… Pamela…” panggil mama menghentikan langkahku.

“Iya ma, ada apa?..”

“Duduk sini dulu dong. Ngobrol ngobrol…”

“Iya Mel, duduk dulu gih… apa mau gue ambilin minum?” kata Barrie yang terlihat begitu akrab dengan mama.

“Ih.. siapa lu?!! Dah kaya’ tuan rumah aja ikut ikutan nyuruh duduk pake acara nawarin air minum segala.” Kataku jutek yang langsung saja duduk di sebelah mamaku.

“Ada apa ma?…” tanyaku lembut pada mamaku, wanita yang amat sangat begitu ku cinta.

“Gimana hasilnya?… Barrie masuk IPA lho…” kata mama ku dengan bibir yang melengkungkan senyum.

“Ha?… Barbie masuk IPA?….” kataku ternganga mendengar kabar itu.

Namun Barrie hanya Nampak cengengesan.

“Iya Mel, gue kan pengen satu jurusan sama lu…” kata Barrie yang sok manis.

“Emang lu tau kalau gue masuk IPA? Kalau gue masuk IPS gimana?…”

“Ya gue pindah ke IPS, susah banget. Emang lu masuk IPS Mel?…” nampak Barrie yang ganti ternganga mendengar ucapanku yang bermakna seandainya itu.

“Sayang… kamu masuk IPS?..”

“Kan tadi Mela bilang seandainya ma…….”

“Jadi, kamu masuk IPA sayang?!!!” Tanya mamaku meyakinkan menaruh harap.

Aku pun mengangguk dengan senyum bahagia.

Mama ku pun langsung memelukku. Aku merasa senang dengan hari ini. Karena aku mendapat kebahagiaan dan bisa membahaiakan orang lain lebih lebih mamaku.

Barrie pun ikut tersenyum membuka tangannya hendak memelukku.

“Ehh…ehh…ehh…” seru mama menengahi melindungiku.

“Ehh… iya tante.. becanda kok…” kata Barrie yang nampak nyengir yang lantas membuat mamaku tertawa.

“Ya sudah, mama tinggal dulu ya. Kalian ngobrol aja berdua.” Kata mama ku yang bangun dari duduknya hendak pergi meninggalkan aku dan Barrie.

“Yah… jangan ma.. mama disini aja.” Cegahku.

“Iya tante, nggak papa kok…” kata Barrie yang tak kusangka.

“Biar mama masak dulu. Nanti kita makan siang bareng…” kata mama yang langsung pergi menuju dapur.

Barrie pun hanya menatapku dalam senyum.

“Barbie………..” kataku menyebut namanya tak sejutek biasanya.

“Apa?..” jawabnya lirih.

Aku pun mendekatinya. Ia pun terlihat begitu senang.

“Lu merem deh….” Kataku yang mendekatinya perlahan.

“Mel, jangan disini dong. Kan malu kalo diliat mama lu…” kata Barrie yang nampak kikuk.

“Udah… lu merem aja..” kataku yang sudah semakin dekat dengan tempat duduk Barrie.

Barrie pun mengikuti saranku untuk memejamkan mata. Entah apa yang ada dibenaknya hingga ia terlihat kaku seperti itu. Aku pun tak mengerti. Dan tanpa pikir panjang, dengan sekuat tenaga ku tepok dahinya.

“Auw!!!” seru Barrie yang langsung membuka matanya.

“Nih… nyamuk!!” kataku seraya menunjukkan nyamuk yang berhasil ku tepok dari dahinya.

“Ya Allah… jadi lu dari tadi tuh mau nepok nyamuk. Bilang dong… kirain…” kata Barrie yang nampaknya sedang mengajukan protesnya.

“Kirain apa?… udah untung gue tepokin nyamuk di jidat lu. Kalo lu sampe kena cikungunya gimana?!!..”

“Huh!! Kirain lu mau nyium gue..” kata Barrie yang tak berani menatapku setengah berbisik.

“Haa?… apa lu bilang tadi?..” kataku yang hanya mendengar ucapannya samar samar.

“Enggak. Hmm.. perhatian juga lu sama gue.. sampe mikirin kalo gue kena chikungunya segala.. haha..” kata Barrie yang lantas tertawa bangga.

“Ihh.. dasar lu!!! Lagian ngapain sih lu kesini?!!”

“Mau main aja. Masa main ke rumah calon pacar gak boleh?..”

“Calon pacar??.. siapa?…”

“Ya lu lah….”

“Gue… enggak, siapa yang mau pacaran sama lu?..”

“Yaelah Mel… temen deh..”

“Bertemen pun ogah.”

“Ya udah… musuh… musuh dalam cinta.. hehe”

Kata Barrie iseng yang hanya membuatku tersenyum miring.

Tak lama kemudian, mama pun memanggil aku dan Barrie untuk segera makan siang. Dengan sok akrabnya, Barrie pun makan satu meja dengan ku dan mama sementara papa masih di kantor belum pulang kerja.

Siang itu pun rumahku riuh oleh canda tawa mama, aku dan Barrie tamu yang tak diundang itu. Tapi aku cukup senang dengan hari itu.

Hingga sore itu Barrie mengajakku pergi ke taman dekat rumah untuk sebentar saja.

Dengan senyum yang menghiasi wajahnya, ia menatap sekeliling taman yang dipenuhi pemandangan hijau rumput dan warna warni bunga yang sengaja di tanam.

Aku pun duduk di salah satu bangku yang kemudian diikuti oleh Barrie yang duduk di sampingku.

Tiupan angin dan sayap sayap kupu kupu yang beterbangan kesana kemari cukup menyegarkan mata dan fikiran sore itu.

“Mel, lu suka ya ama Haidar?..” Tanya Barrie tiba tiba padaku.

Aku pun diam menatap heran ke arahnya.

“Gue perhatiin lu makin deket ama dia. Dan jujur gue cemburu…”

“Ya iyalah gue deket, secara kita satu kelas gitu…” jawabku sekenanya.

“Lu pacaran sama Haidar?…” Tanya Barrie.

“Gue nggak pacaran sama dia, dan gue juga nggak lagi pacaran ama siapa siapa.” Kataku tegas.

“Andai lu pacaran juga nggak papa. Gue udah sering dan mungkin terbiasa liat lu pacaran ama cowok lain meskipun rasanya tetep nyakitin ati gue. Yang penting lu seneng dan bahagia.”

“Ihh… apaan sih lu..” kataku dengan senyum pada Barrie yang pantang menyerah itu.

“Tapi lu kudu tetep tau dan mesti tau, kalau gue tetep nggak bakal nyerah buat dapetin cinta lu..”

“Bar.. gue boleh ngomong sesuatu?..” tanyaku lirih padanya yang duduk tepat disampingku.

Ia pun tersenyum mengangguk pertanda iya.

“Gue mohon, buka hati lu buat cewek lain. Di dunia ini bukan hanya gue cewek satu satunya. Masih banyak cewek lain yang jauh lebih segala galanya dibanding gue..” kataku mencoba memberi pengertian.

“Nggak bisa Mel… gue cinta mati ama lu…”

“Lu yakin lu nggak bakal nyia-nyiain waktu lu cuma buat cinta sama gue?”

“Gue yakin lu jodoh gue.” Jawab Barrie tanpa keraguan sedikitpun.

“Terserah kalo itu mau lu. Tapi gue pesen sama lu, kalo lu udah capek, tolong lu berhenti berharap sama gue.”

“Gue nggak akan pernah capek, lu bisa pegang kata-kata gue!” kata Barrie yang tak goyah sedikitpun mendengar ucapan ucapanku.

Sore itu aku berusaha membuat Barrie mengerti akan perasaanku dan perasaannya. Tapi nampaknya semua itu sia sia, karena dia tetaplah keras kepala mempertahankan rasa cintanya padaku yang bertepuk sebelah tangan itu.

Aku Berteman dengan Barrie

Dua bulan setelah kejadian di kereta waktu itu, di sekolah nampak aneh. Semua orang memberi selamat dan terlihat sangat ramah padaku. Di tengah kebingunganku, Barrie datang dengan sebuah novel di tangannya.

“  Mel, gue mau nunjukin….. ini! “ katanya dengan senyum mengembang.
” Apaan ni? “ tanyaku mengamati novel itu. Mataku terbelalak begitu nama Pamela Prisilfia tercantum di novel yang berjudul  MEREKA  itu.

“ Barrie! Ini?… “  kataku yang tak sanggup melanjutkan kalimatku dengan jantung sesak karena berdebar-debar.
” Iya, itu novel lu!  kata Barrie.”  Dan lagi-lagi aku spontan memeluknya. Barrie nampak kikuk, aku pun segera melepas pelukanku.
” Maaf! “ ucapku malu. Ia hanya tersenyum manis.

“  Kok novel ini bisa terbit? Bukannya.. “
” Iya, gue udah hubungin pihak KAI dan mereka balikin novelnya, abis itu langsung gue bawa ke penerbit ! Ternyata tanggapan mereka positif lho! “
”Jadi… “
” Kenapa? Temen-temen? “
Aku mengangguk.

“ Ya iyalah, orang mereka dah pada baca novel lu! Novel loe laris, ntar sore ja loe disuruh dateng ke acara launching novel lu! Bakalan pegel tu tangan, tanda tangan terus.. “
” Kok launching? Bukannya…  “
” Buat cetakan kedua. “

“ Bar, thanks ya… Gue utang budi ama lu…”

“Bukan cuma utang budi, tapi lu juga utang cinta sama gue…”

“Udah deh nggak usah mulai… Gue harap kita sahabatan aja sekarang. Asal loe nggak ngejahilin gue! “ kataku menonjok bahunya pelan.

“ Hei! Setelah semua yang gue lakuin ke loe, cuma sahabat?! Gue tuh suka sama loe Mel, gue cinta ama loe! Cinta.. Banget! “
” Loe nggak ikhlas ni bantu gue?! “
” Yah.. Mela, kalo soal ikhlas jangan ditanya lagi. Gue tulus, ikhlas, bantuin loe. Mel, mau ya jadi pacar gue? “
” Barrie.. Barrie.. Loe tuh, nggak ada romantis-romantisnya nembak cewek. Padahal ini udah… “

“  Ke sebelas kalinya gue nembak loe! “ sahutnya.
” Barbie.. Loe tuh cakep, baik, tinggi! Tapi belum ada getar-getar cinta di hati gue buat loe! “
” Heleh! Lebai lho! Getar-getar cinta, sok puitis! “
” Biarin! Daripada loe,, gak romantis!  “
” Ya udah, ini gue diterima nggak? “
” Masih nanya lagi? Ya jelas nggak lah! Coba aja ya Bar ya.. Kalo loe bisa sedikit lebih dewasa, nggak jahil, nggak usil, nggak tempramen, mungkin gue bisa naksir ma loe! “
” Gue dewasa. Nggak tempramen, nggak jaius! “
” Udah,, kita sahabatan aja ya.. Kelihatannya kita bakal jadi sahabat yang asyik! ”

“ Oke untuk saat ini, tapi gue janji! Jangan panggil gue Barrie Herdiansyah, kalo gue nggak berhasil buat loe cinta ma gue. 5 tahun gue ngedeketin loe sampe akhirnya jadi sahabat, jadi bukan mustahil kalo kelak loe jadi pacar gue. Eits, bukan pacar lagi! Tapi istri ! “
” Sebegitu kuatnya pesona gue?.. “
” Gue bakal terus nyimpen hati gue buat loe Mel, nggak peduli harus berapa kali nembak loe. Sebelas, lima puluh, atau bahkan seratus kali pun, gue mau! “
” Udah ah! Gue mau ke kelas,, good luck barbie! “  kataku dengan senyum seraya menepuk pipinya.

“ I Love You Mel! “ teriaknya. Aku pun hanya tersenyum, berlalu meninggalkannya.

Kini hari hari ku di sekolah sudah semakin menyenangkan. Aku bukan lagi Pamela si ratu apatis atau si princess sok yang nggak disukai orang.

Aku punya banyak temen dan bahkan sahabat seperti Laras, Haidar  dan Barrie.

Dan bahkan aku menjadi penulis yang cukup kerap disibukkan dengan permintaan permintaan menulis beberapa genre novel.

Dan tak terasa kini aku sudah duduk di bangku kelas XII yang artinya tinggal sebentar lagi aku menikmati masa putih abu abu ku.

“Mel… malem minggu ada acara nggak?..” Tanya Haidar padaku yang tengah sibuk menghadap laptop di kantin sekolah.

“Oh.. lu Dar…” kataku begitu tau kalau lelaki yang mengajak ku bicara adalah Haidar.

“Iya, serius banget sampe gak liat gue dateng…”

“Iya, lagi dikejar deadline nih.. Hmm.. Tanya apa tadi? Sorry, gue nggak nyimak.”

“Gue pengen ngajak lu jalan malem minggu ntar…”

“Hei… ntar di marahin Hani lho…” kata ku menyebut nama seseorang yang tengah digosipkan menjadi pacar Haidar.

“Ehh… tau darimana lu soal Hani?..”

“Tau lah… mata ma telinga gue dimana mana kok…”

“Wih… serem dong. Haha… “ katanya lantas tertawa.

Dengan isengnya ku masukkan saja bakso ke mulutnya yang terbuka lebar itu.

Ia pun langsung mengunci mulutnya seraya mengunyah bakso itu.

Tiba tiba saja ia terbatuk batuk. Aku pun panic dibuatnya. Langsung saja kuberikan minumku padanya sebelum terjadi apa apa dengannya.

Ia pun Nampak sedang kesusahan bernafas, lantas kebingunganku bertambah. Bagaimana tidak, Haidar seperti ini karena keisenganku.

“Dar… aduh.. gimana nih?…” kataku panic pada Haidar yang masih sesak.

Ia pun menunjuk nunjuk bibirnya yang lantas membuatku menjambak rambutnya itu.

“Ahh… lu bo’ongin gue…” kataku yang segera duduk.

Ia malah tertawa terpingkal pingkal.

“Hahahahahaahahaha… lu khawatir ya ama gue?… ngaku deh..” kata nya cengengesan.

“Ya iyalah dodol, kan gue tadi yang udah bikin lu keselek. Kalo sampe lu mati y ague yang bakal disalahin…” kataku dengan pastinya.

“Nggak karena?…….” katanya yang tak melanjutkan kalimatnya lantas menaik turunkan alisnya menggodaku.

“Nggaklah!! Apaan sih lu!!!” kata ku yang sudah bisa membaca maksud dari polah tingkah lelaki yang semacam itu.

Untunglah… tak berapa lama kemudian Barrie dan Laras muncul bersamaan menghampiriku dengan Haidar.

“Wahh.. lu nyuri start dari gue ya Dar… curang lu!!!” kata Barrie pada Haidar.

“Start start… emang lomba lari…” kata Haidar dengan wajah malasnya.

“Iya, terusin aja ributnya. Biar gue pergi aja.” Kataku yang bosan melihat dua orang dihadapanku ini selalu tak pernah akur meskipun masih saudara sepupu.

“Jangan Mel!!!!..” seru mereka hampir bersamaan.

“Kalian ini kaya anak kecil aja…” kata Laras yang membelaku.

Barrie dan Haidar pun duduk bersebelahan dan nampak diam meskipun sesekali masih saling melirik kesal.

“Eh… udah udah!!” kataku yang tersenyum melihat mereka.

“Lagi pada ngomongin apaan ni? Asik banget kaya’nya…” tanya Laras.

“Enggak, lagi ngomongin pacar baru Haidar ni.. si Hani.” Jawabku langsung.

“Haa?… jadi lu beneran jadian sama si Hani?…” Tanya Laras yang merasa kaget.

“Alhamdulillah…” seru Barrie tiba tiba.

“Eh… enggak! Enggak!… deket aja kok, nggak pacaran.” Bantah Haidar.

“Kenapa nggak jadian aja?…”

“Ogah!!” jawab Haidar dengan lantangnya.

“Orang gue sukanya ama Pamela…” lanjutnya lirih yang tak terdengar jelas oleh telingaku.

“Haa?… apa Dar, lu ngomong apa tadi?…” tanyaku pada Haidar yang mendadak salah tingkah.

“Enggak kok, enggak ngomong apa apa.”

“Kenapa lu nggak pacaran ama si Hani aja sih….” Protes Barrie pada Haidar.

“Udah.. udah… orang yang ngejalanin Haidar kok yang ribet kita..” sergahku menengahi.

“Bukannya gitu Mel… tapi satu satunya saingan gue dapetin lu tuh ya Cuma si Darminto ini..” kata Barrie yang nampaknya keceplosan.

“Ha?… saingan?.. ya nggak mungkinlah… Haidar kan cuma sahabatan sama gue.. iya kan Dar??..” jawabku dengan senyum mengembang.

“Hmm… iya Mel.. bener bener..” jawab Haidar yang nampak kaku tapi tak kupedulikan.

Sampai akhirnya malam minggu itu Haidar benar-benar menjemputku di rumah. Tapi jangan sebut aku Pamela jika aku tak bersikeras dengan apa yang aku inginkan.

Aku menolak di ajak keluar olehnya, bagiku malam minggu tetaplah sama dengan malam malam lain. Bahkan terkesan menyebalkan karena di luar sana begitu ramai dan tak jarang terjadi kemacetan panjang saat malam minggu. Jadi lebih baik aku berdiam di rumah saja.

“Mel… keluar bentar yuk..” kata Haidar mengajakku yang sudah berpenampilan keren itu dan kurasa cukup wangi.

“Males ahh.. anak anak mana?..” tanyaku celingukan mencari sosok yang lain.

“Gue sendiri…”

“Ohh… hmm, di rumah aja deh. Gue temenin ngobrol.”

“Bentar aja Mel..” ajaknya yang masih berharap.

“Di rumah gue temenin ngobrol atau nggak sama sekali?!” tanyaku menggertak.

“Iya deh nggak papa, yang penting sama lu..” ucapnya seraya tersenyum.

Kami pun ngobrol banyak malam itu. Cerita cerita masa kecil, atau bahkan cerita soal aku yang dulu disebut ratu apatis. Malam ini ia benar-benar membuatku bisa tertawa lepas seperti tak punya beban sedikitpun.

“Mel… udah malem, aku pulang dulu yah..” kata Haidar yang berpamitan seraya mencari sosok mama dan papa ku untuk berpamitan pula.

Ku akui, Haidar memang cowok yang sopan. Tidak slengekan seperti halnya si Barrie. Bisa dibilang mereka berdua adalah pribadi yang begitu bertolak belakang. Dan lagi-lagi aku membandingkan seseorang dengan Barrie yang begitu menyebalkan.

Beberapa bulan sudah kulalui dengan baik di bangku kelas XII ini. Tak disangka seminggu lagi adalah hari ujian nasional. Dan setelah itu, berakhir sudah masa putih abu abu ku yang artinya aku akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa.

Prestasi ku sudah membaik tak seperti dulu, dan tulisan tulisanku tak hanya sekedar menjadi koleksi pribadiku melainkan konsumsi public. Aku benar-benar bersyukur atas segalanya ini. Banyak uang bagiku bukan prioritas lagi, melainkan sekedar cukup uang sudah membuatku senang.

Dan setelah ini aku akan menjadi dokter yang bisa membantu orang-orang untuk mendapatkan kesehatan atau bahkan hidupnya. Dokter Pamela, kelak begitulah orang-orang akan memanggilku. Setidaknya itulah harapanku saat ini.

“Barrie!!…” seru ku memanggil Barrie yang terlihat sibuk mencari entah buku apa di perpustakaan sekolah itu.

“Eh Mel!! Lu disini?… ngapain?…”

“Nyariin lu lah…” kata ku dengan senyum.

“Hmm… tumben, ada apa nih..”

“Enggak kok, nggak ada apa apa. Emang lagi pengen ke perpus aja. Eh, ternyata liat lu ya gue panggil.”

“Lu tuh sekarang beda ya Mel ama yang dulu. Jadi lebih ceria, terbuka, da ramah gitu sama orang..”

“Hehehehehehehe..”

“Eh.. malah mringis, tapi itu kadang malah buat gue khawatir.”

“Maksud lu?…”

“Lu kan cantik, kalo sekarang lu ramah gue takut lu diambil orang. Gimanapun juga gue masih sayang sama lu, bahkan tambah sayang dari yang dulu dulu. Dulu sampe sekarang, perasaan gue nggak pernah luntur buat lu.. bahkan malah bertambah…”

“Barbie.. Barbie… udah ah..” kataku seraya menarik hidungnya yang mancung itu.

“Auw… auw…” katanya yang mengelus hidungnya itu.

“Ya udah, gue keluar duluan,. Lu lanjutin deh bacanya…” kata ku langsung keluar dan meninggalkannya di perpustakaan.

Tak ku kira Barrie malah mengikuti ku keluar dari perpustakaan.

“Mel.. ke kantin yuk….” Ajaknya seraya menarik tanganku menuju kantin.

Begitu tiba di kantin ia pun segera memesankan makan dan minum untuk kami.

“Malem minggu kemarin lu kencan sama Haidar?…” Tanya Barrie tiba tiba padaku yang sedang menyedot es teh di hadapanku.

“Kencan?.. enggak, cuma ngobrol di rumah doang kok…” jawabku jujur.

“Kok lu tau kalo malem minggu kemarin gue sama Haidar?..”

“Ya iyalah… mana mungkin si ember itu nggak cerita ama gue,,, pamer pamer gitu..”

“Kok lu nggak dateng waktu tau Haidar di rumah gue?…” tanyaku pada Barrie.

“Enggak, buat apa gue dateng kalo ntar gue malah sakit ati.”

“Maksud lu apa sih Bar?..”

“Gue takut cemburu liat cewek yang gue sayang deket ama sepupu gue sendiri. Gue nggak pengen ada perang saudara.” Kata Barrie yang kali ini terlihat serius tak nampak sifatny yang slengekan sedikitpun.

“Barrie…..” ucapku lirih menyebut namanya karena terharu mendengar ucapannya.

“Udah nggak usah lebay, gue nggak bakal nyerah kok dapetin lu. Haidar mah bukan halangan..” jawab Barrie yang masih yakin akan mendapatkan hatiku.

Aku hanya tersenyum dibuatnya.

Barrie benar-benar pribadi yang pantang menyerah. Setidaknya aku cukup salut dengan hal itu. Dia masuk SMA ini karena aku, dan ia memilih jurusan IPA juga karena aku.

“Bar, emang lu nggak pernah gitu suka atau bahkan pacaran sama cewek lain?..” kata ku yang tiba-tiba ingin tahu sejauh mana perasaan Barrie padaku.

“Pernah, gue pernah pacaran. Tapi cuma sekali, dan itu pun gue nggak bisa yang bener bener sayang ama tuh cewek. Di hati gue cuma ada lu. Makanya gue bubarin cewek gue karena gue nggak mau nyakitin dia yang lebih dalem lagi. Dan sejak itu gue fikir nggak guna pacaran kalo hati gue belum bisa lepas dari lu dan nggak akan bisa lepas dari lu..”

“Barrie……….”

“Biasa aja, gue nggak papa. Hati gue seneng kok bisa cinta dan sayang sama lu meskipun lu belum bisa bilang iya ke gue. Tapi sekali lagi gue bilang, jangan panggil gue Barrie Herdiansyah kalo kelak gue nggak bisa buat lu jadi nyonya Barrie Herdiansyah..” katanya yang begitu yakin.

“Huuuuuuuuu..” sorakku seraya mengacak acak rambutnya.

Tak disangka, perkenalanku dengan Barrie yang dimulai sejak MOS SMP itu menimbulkan rasa yang begitu mendalam di hati Barrie.

Kala itu kami masih kecil. Belum tau banyak tentang cinta meskipun ia mengaku merasakan itu padaku pada pandangan pertama saat kami dihukum bersama oleh kakak senior kami. Kami di strap di depan tiang bendera dengan cuaca yang begitu panas sampai akhirnya aku pingsan dan di tolong olehnya.

Tapi apa yang ia dapatkan, justru aku malah memarahinya. Aku kata katai dia mencuri curi kesempatan menyentuhku karena menggendong tubuhku yang lemah. Ucapan terimakasih yang seharusnya kuberikan untuknya pun tak pernah ia dapatkan. Sungguh, aku benar-benar jahat dengan sikap apatisku.

Sejak itu, Barrie malah terus mengejar ngejar aku hingga benar-benar membuatku risih.

Bagaimana tidak, ia selalu menjahiliku, mengisengiku, dan juga mengerjaiku.

Dia benar-benar sosok yang menyebalkan untuk di ingat dalam benak ku meskipun aku tahu sebenarnya ia orang baik.

“Mel… Mela… Pamela….” Seru Barrie yang melambaikan tangannya tepat di depan wajahku menyadarkanku dari lamunanku.

“Iya…” jawabku terperanjat.

“Udah bel masuk, mau lu abisin makanan lu apa langsung masuk kelas?..” Tanya Barrie memperhatikan mangkuk mie ayamku yang hanya aku acak acak dengan sendok.

“Oh… masuk aja deh…” jawabku yang langsung disusul Barrie berdiri dan mengajak ku segera masuk kelas.

Aku pun masuk kelas dan mengikuti pelajaran terakhir dengan antusias meskipun sesekali aku menggunakan buku ku untuk kipas kipas karena cuaca hari ini yang begitu panas.

Aku sebut ini pelajaran terakhir karena hari ini adalah hari terakhirku sekolah di SMA ini sebelum minggu depan melaksanakan ujian akhir yang akhirnya akan sibuk kesana kemari mengurus kuliah.

Dan begitu bel pulang sekolah, aku pun segera menata buku-buku dan alat tulisku untuk kemudian bergegas pulang.

Aku pun celingukan kesana kemari mencari sosok yang biasanya selalu menggangguku dengan niat baiknya, Barrie.

“Tumben tuh anak nggak ada!! “ kataku seraya pergi.

Tiba tiba saja ada suara yang tak asing menghentikanku.

“Pamela!!!” sebut orang itu yang langsung membuatku menengok. Bisa ditebak, kalau itu memang suara Haidar.

Ia nampak tersenyum seraya menghampiriku dengan lari kecil.

“Makan es krim yuk!!!” ajaknya.

“Es krim?… berdua?” tanyaku.

“Iya, berdua. Ama siapa lagi?…”

“Enggak, kok tumben gitu si Barbie gak nongol gangguin gue?..”

“Kenapa?.. lu kangen digangguin dia?… lu suka ya ama dia?..”

“Ihh.. enggak kok! Ya tumben aja… ya udah, katanya mau makan es krim.. ayo!!” kata ku seraya menarik tangannya berjalan menuju kedai es krim dekat sekolah.

Aku pun asik bercanda dengan Haidar membicarakan hal hal konyol tak penting yang justru membuat suasana ceria.

Sementara Barrie yang baru keluar dari kelas bergegas pulang dan tak sengaja melihat aku dengan Haidar yang sedang asik ngobrol. Entah apa yang ada di benaknya, ia tak menghampiri kami. Ia hanya menatap aku seraya pergi. Tak seperti Barrie yang biasanya. Barrie yang usil dan tak perduli dengan kenyamanan orang-orang di sekitarnya.

Dan begitu kami selesai makan es krim, kami langsung pulang, dan tentunya aku di antar Haidar terlebih dulu.

“Assalamualaikum ma…” seru ku begitu tiba di rumah.

“Waalaikumsalam….. kok jam segini udah pulang sayang?…” Tanya mama dengan kemoceng ditangannya yang bisa ditebak mama baru saja bersih bersih rumah.

“Iya ma, kan udah mau ujian, makanya hari ini pulang lebih cepet.”

“Ow….”

“Tadi nggak ada yang kesini nyariin Mela ma?..” tanyaku yang berharap.

“Enggak, emang siapa Mel?…”

Aku pun enggan menyebut nama Barrie yang sebenarnya memang Barrie lah yang aku tanyakan. Bagaimanapun juga Barrie kerap muncul di rumahku tanpa undangan dan tanpa dugaan.

Aku segera pergi ke kamarku dan mengganti seragamku. Dan langsung saja ku bantu mama ku yang nampaknya sedang sibuk menyiapkan makan siang.

“Mel…. Kamu mau kuliah apa Mel?..” kata mama yang tiba tiba menanyakan soal masa depanku.

“Kalau bisa dokter sih ma, tapi Mela nggak cerdas cerdas banget. Ya nanti Mela coba milih dokter ama sastra Inggris, diliat deh mana yang keterima.” Kata ku yang sadar akan kemampuan otakku yang tak terlalu cerdas dalam analisa melainkan cerdas bermain kata kata ini.

“Ya terserah kamu. Mama dukung apapun pilihan kamu. Oh iya, Barrie kemana? Kok tumben nggak nongol?…” kata mama yang tiba tiba menanyakan si Barbie.

“Enggak tau, tadi dia juga melengos pas liat Pamela di jalan.”

“Emang tadi kamu sama siapa?..”

“Sama Haidar ma..”

“Ya pantes dia melengos, dia cemburu.”

“Ah mama, ya nggak mungkinlah…. Seorang Barrie bisa cemburu sampe segitunya.”

“Eits… siapa bilang, dimana mana kalau orang liat orang yang disayanginya jalan sama orang lain ya pasti cemburu. Apalagi udah dari SMP kan dia ngejar ngejar anak mama yang cantik ini….” Kata mamaku menyungging senyum memuji anaknya sendiri.

Aku hanya diam merenungi sesaat ucapan mama dengan kedua tangan yang masih memegang sendok dan garpu.

“Menurut mama Barrie tuh gimana sih?..”
“Hmm… Barrie ya?.. ganteng, baik, ramah, asyik juga.”

“Tapi kan slengekan ma……. Lagi pula kesel banget aku kalo inget di kerjain pas di SMP dulu. Masa dia naruh selai strawberry di bangku Mela sampe rok Mela merah dan disangka mens sama anak anak. Padahal Mela juga belum ngerti mens itu apa. Dia kan udah bikin malu Mela ma….”

Nampak mama malah tertawa mendengar ucapanku yang memanja itu.

“Ya ampun sayang, kok anak mama jadi pendendam gitu sih…… Barrie udah minta maaf kan?”

Aku mengangguk.

“Dan Barrie juga udah bantu kamu buat wujudin cita cita kamu jadi penulis kan?..” lanjut mama.

Lagi lagi aku mengangguk.

“Ya udah, anggap aja impas. Dia udah bikin kamu malu, tapi dia juga udah bikin kamu dikenal banyak orang lewat karya karya kamu…”

Aku pun mulai mengerti maksud yang dibicarakan mama. Dan aku mulai sadar jika alasanku terlalu naïf untuk menyimpan rasa dendam pada lelaki yang begitu baik padaku

Rasa Cinta Itu Muncul

Sudah sekitar satu minggu ini aku tak pergi sekolah dan tidak bersua dengan teman-temanku. Bukan karena apa melainkan karena libur.

Libur hari tenang menjelang ujian terakhir di bangku sekolah, Ujian Akhir Nasional yang santer diperbincangkan di berbagai berita stasiun televise seluruh penjuru itu.

Ujian yang selalu dijadikan momok oleh anak-anak sekolah dan orang tuanya itu. Sampai sampai kadang terdengar berita orang yang stress, atau sakit jantung karena terlalu menganggap betapa menakutkannya ujian itu. Dan yang jelas, aku tak mau demikian.

Dan aku tak mau melewatkan kesempatan libur ini hanya untuk bermalas-malasan atau jalan jalan kesana kemari sambil memikirkan bagaimana ujian nanti dan seberapa ketat pengawasan ujian nanti yang jelas akan membuatku merasa khawatir.

Setakut apapun kita menghadapi ujian, toh akan tetap dan pasti kita hadapi. Tergantung kita mempersiapkannya agar kita bisa tenang saat ujian. Dan tentunya hanya dengan belajar kita bisa.

Meskipun tak selalu aku belajar, setidaknya ku luangkan waktuku satu sampai dua jam untuk membaca materi pelajaran dalam sehari.

Dan tiba tiba aku mendengar telepon rumahku berdering.

Seraya ku angkat gagang telepon itu.

“Hallo…” sapaku pada orang yang ada diseberang sana.

“Hallo.. Mel, gue ke rumah lu ya?…” Tanya seseorang tiba tiba yang nampaknya ini adalah suara Barbie ku.

“Barbie?!!!..” seru ku tak percaya ia muncul setelah beberapa hari tak ada gangguan dari dirinya.

“Iya, gue Barbie.. gue main yah?…”

“Tumben lu main pake acara minta izin…”

“Gimana nggak minta izin, orang pintu rumah lu kekunci dan gue nggak bisa masuk…” kata Barrie yang ternyata sudah berdiri di depan rumahku.

“Iya gue bukain.” Kata ku seraya berlari membuka pintu.

Entah kenapa, aku merasa begitu senang mendengar suaranya apalagi akan bertemu dengannya. Padahal ia begitu menjengkelkan dan slengekan.

Dan begitu ku buka pintu rumahku, terlihat Barrie yang tengah berdiri dengan lesung pipit yang menghiasi pipinya.

Tak berapa lama tiba tiba muncul Haidar dan Laras dari belakangnya.

“Wow… rame rame nih…” kata ku yang tak menyangka.

“Iya, ngarep cuma gue ya?…” kata Barrie yang lagi lagi mencoba menggodaku dengan mencoleh daguku.

“Yee… dasar!!” seruku seraya menarik hidungnya hingga merah.

“Kita dibolehin masuk nggak ni?…”  Tanya Laras yang Nampak tak sabar untuk duduk karena lelah.

“Hehe.. iya. Sorry sorry, silahkan duduk…” kata ku yang mempersilakan sahabat sahabatku untuk duduk dengan senyum ramah.

Haidar pun Nampak memandangi ku. Sementara Barrie malah masuk ke dapur dan bertemu dengan mamaku.

“Assalamualaikum tante…” seru Barrie pada mama yang sedang memberieskan dapur.

“Waalaikumsalam.. eh Barrie, kok lama nggak main kesini? Sepupu kamu aja sering…” kata mama yang membicarakan Haidar yang sedang duduk manis di ruang tamu tak seperti halnya Barrie yang slengekan langsung masuk dapur.

“Haidar maksud tante?”

“Iya, Haidar. Lagi sibuk ya?”

“Ah, nggak juga tante. Pengen buat Pamela kangen aja tante. Tapi berhasil nggak tante?”

“Tanya aja tuh sama anaknya.” Jawab mama santai dengan senyum.

“Bar… jangan gangguin mama gue?…” seru ku dari ruang tamu.

“Ihh.. apaan sih lu!!!!” sahut Barrie yang tiba tiba sudah muncul di hadapanku.

“Nggak usah macem macem deh di rumah gue… nggak usah buat ulah!!!” kata ku memberi peringatan pada Barrie meski dengan nada bercanda dan senyum jahil.

“Mel…. “ kata Haidar lirih yang tiba tiba mendekati ku dan mengusap sudut bibirku yang nampaknya belepotan karena tadi mencicipi kue yang baru ku buat.

Seraya ku pegang tangannya ku pindahkan tangannya dari sudut bibirku karena merasa tak nyaman.

“Sorry Mel, lu sih pake acara cemong segala….” Kata Haidar yang mencoba mencairkan suasana dengan menyampaikan protesnya padaku.

“Aduh…. Gue jealous nih…” seru Barrie yang memang nampak kesal.

“Ih, apaan sih lu!!!” seru ku dengan tawa seraya menimpuk Barrie dengan bantal.

Ia pun tak terima dan malah membalas menimpuk ku dengan bantal pula. Hingga suasana sore itu benar benar riuh dan menyenangkan.

Tak disangka, tiga tahun berlalu begitu cepat dan sebentar lagi kami akan berpisah. Tak terbayang bagaimana rasa sedihnya nanti, tapi ku harap persahabatan ini tak berhenti sebagaimana masa putih abu abu yang usai.

Dan saat saat yang mendebarkan pun dimulai. Masa ujian telah tiba. Dan aku harus berperang dengan kertas soal soal itu selama empat hari lamanya.

Dan begitu empat hari itu selesai, ada kelegaan tersendiri yang aku rasakan meskipun aku belum tahu kelak bagaimana hasilnya. Tapi aku optimis, sebulan lagi pasti aku dinyatakan lulus dengan nilai yang cukup baik.

Dan sekarang yang harus aku lakukan adalah mempersiapkan diri untuk mengikuti test masuk universitas. Haidar pun bersedia membantuku, karena kuakui dia memang lebih cerdas dibanding aku, bahkan bisa dibilang ia sangat cerdas. Pantas saja jika gadis gadis di sekolahku menganggap dia perfect dengan wajah rupawan dan kemampuan yang excellent.

Tiap ada waktu di sekolah, kami selalu menyempatkan diri untuk belajar bersama.

Dengan sabar dan telatennya Haidar mengajariku materi ini itu. Bahkan sesekali ia harus mengulang karena aku tak menyimak dengan baik atau kesulitan menangkap materi yang disampaikannya. Aku cukup dibuat kagum olehnya. Dia terlihat begitu bersemangat bahkan lebih bersemangat dari aku yang menjadi murid dadakannya.

“Mel, kita pacaran yuk…..” kata Haidar tiba-tiba saat menerangkan materi fisika yang begitu susah untuk aku pahami.

“Lu ngomong apa sih?” kata ku yang terheran mendengar dia bercanda di saat yang serius.

“Iya, jadian. Lu ma gue, pacaran.” Katanya bermaksud menerangkan apa maksud hatinya.

“Dar……… lu bercanda kan?..” kata ku yang merasa kaget dengan apa yang baru saja ku dengar.

“Aku serius, aku beneran suka sama kamu. Dan aku jatuh cinta sama kamu. Belum pernah aku ngrasain rasa yang sedalam ini selama 15 kali pacaran. Baru sama kamu, aku berani bilang kalau aku beneran cinta.” kata Haidar yang menatapku lekat lekat lantas tangannya meraih tanganku.

Aku pun nampak bingung dengan situasi seperti ini. Aku benar-benar tak menyangka jika selama ini Haidar benar-benar menyimpan rasa padaku seperti halnya yang digosipkan teman-teman. Ku kira semuanya hanya gurauan atau perhatian seorang sahabat.

“Dar, tapi maaf.. gue nggak bisa.” Jawabku berat karena harus menyakiti hati seseorang.

“Apa lu nggak percaya kalau gue serius karena gue playboy. Lu nggak percaya kalau kali ini gue serius?” Tanya Haidar yang mencoba meyakinkan aku.

“Bukan itu, hatiku udah dimiliki orang lain.” Kata ku yang mencoba jujur dengan perasaanku.

“Barrie?…” Tanya Haidar.

Aku hanya mengangguk. Aku tak bisa bohong lagi akan hatiku. Aku benar-benar merasa sepi dan sendiri saat Barrie tak ada di dekatku. Dan aku begitu merasa nyaman saat aku bersama Barrie meskipun dengan bertengkar atau saling mencela bahkan. Meskipun ku akui aku sempat menyukai Haidar dengan pribadinya yang baik, penuh perhatian, dan romantic itu. Tapi aku sadar, rasa itu hanya lewat seperti angin yang hilang begitu cepat. Mungkin rasa itu hanya sekedar kagum, bukan cinta.

“Iya, gue nggak papa. Toh Barrie juga saudara gue. Mudah mudahan kalian bisa segera jadian dan langgeng. Yang terpenting gue udah ngutarain perasaan gue ke lu dan itu udah cukup buat gue lega.” Kata Haidar yang berbesar hati menerima penolakanku itu.

Aku hanya tersenyum menatapnya, kagum akan kebesaran hatinya.

“Mel, boleh gue peluk lu? Sebagai sahabat kok… abis ini kita juga bakal jarang ketemu atau bahkan nggak ketemu setelah kita sibuk dengan urusan masing masing.” Kata Haidar.

Aku pun tersenyum dan memeluknya. Pelukan hangat seorang sahabat.

Entah apa yang kami lakukan saat itu dan bagaimana pelukan kami terlihat.

Aku tak tahu, jika ternyata Barrie melihatku dengan Haidar yang tengah berpelukan.

Matanya berkaca kaca dan hatinya begitu hancur bukan hanya berkeping keping bahkan mungkin sudah seperti butiran debu. Ia pun tak menghampiriku atau apa melainkan langsung pergi.

“Mel, lu udah bilang soal perasaan lu sama Barrie?..” Tanya Haidar yang telah melepas pelukannya.

“Belum.” Jawabku dengan kepala menggeleng.

“Lalu kapan?… waktu lu udah nggak banyak lagi lho…. Lusa udah lulusan, dan setelah itu udah selesai.”

“Enggak, gue yakin hubungan gue ma Barrie nggak akan selesai seperti halnya masa putih abu abu ini.” Kata ku dengan penuh keyakinan.

Tiba tiba saja ponselku memekik dan ada satu pesan baru yang kuterima.

“Semoga lu bahagia dengan cinta yang lu punya..” isi sms yang tak lain dari Barrie.

Sejenak aku tak mengerti akan maksud isi smsnya itu. Hingga akhirnya aku mengira jika mungkin saja tadi Barrie melihatku dengan Haidar yang nampak berpelukan dan ia mengira jika aku dan Haidar berpacaran atau apa.

Degg!!!

Hatiku bagaikan disambar petir, kilat, atau semacamnya.

Segera ku pacu langkahku mencari Barrie. Aku berlari untuk mendapatkan cintaku yang telah lama aku sia siakan atau bahkan aku cela. Dan aku pun mendapatinya tengah menstarter motor sport nya itu. Segera ku teriakkan namanya bermaksud memanggil. Namun ia malah memacu motor merahnya itu dengan kencang hingga aku tak sanggup mengejarnya. Aku pun menangis, merasa menyesal dengan semua yang telah kulakukan padanya. Dan sekarang aku sadar, jika aku benar-benar mencintainya.

Berulang kali ku coba menelponnya namun tak diangkat dan berulang kali ku coba mengiriminya sms namun tak satu pun yang dibalas.

“Barbie… kenapa sih lu tolol banget?!! Kenapa lu nggak nyamberin gue waktu itu?.. kenapa lu malah pergi. Dan mana janji lu buat selalu ngejar gue, dapetin gue !!!” kata ku pada Barrie walau hanya dalam fotonya bersamaku saat SMP dulu.

Hingga keesokan harinya ku cari cari ia di sekolah namun tak kudapati kehadirannya. Bahkan aku tak melihat motor ataupun mobilnya di parkiran sekolah.

“Dar… Barrie kemana?” tanyaku pada Haidar yang tengah ngobrol dengan teman-temannya.

“Gue nggak tau Mel…emang dia nggak sekolah?..” Tanya Haidar yang nampaknya antusias mendengarkanku hingga ia bangkit dari duduknya seraya mengajakku mencari Barrie ke tempat tempat yang biasa dikunjunginya.

Beberapa tempat yang biasa dikunjungi Barrie pun telah ku datangi dengan Haidar. Tapi tak satu pun hasil yang kudapati. Barrie menghilang bagaikan ditelan bumi.

Hingga aku teringat tempat pertama kali Barrie mengenalku dan menyatakan perasaannya padaku.

Lapangan basket SMP ku. Aku pun segera mengajak Haidar untuk pergi kesana.

“Lu yakin Mel?…” Tanya Haidar padaku yang sudah menahan air mata di sudut mataku.

Aku mengangguk pasti dan langsung duduk di jok belakang motor Haidar.

Dengan cepatnya ia melajukan motor hitamnya yang terlihat garang itu.

Begitu aku tiba di lapangan basket itu, tak kudapati sosok Barrie yang kucari di sana.

“Nggak ada Dar…” kataku yang mulai putus asa.

Tiba tiba saja seorang bapak bapak tukang kebun menghampiriku.

“Cari siapa neng?..” Tanya bapak bapak yang giginya sudah mulai tanggal itu.

“Teman saya pak. Tapi sepertinya dia nggak ada disini.” Jawabku lesu.

“Laki-laki? Seumuran kalian? Pake motor merah?..” Tanya Bapak itu yang nampaknya tau dengan seseorang yang ku maksud.

“Tinggi, kulitnya putih, hidungnya mancung dan punya lesung pipit.” Lanjutku menggambarkan ciri-ciri Barrie.

“Iya, barusan aja neng dia pergi. Kira-kira lima menit sebelum neng sama mas ini dateng.”

“Dia pergi kemana pak?” Tanya Haidar yang nampaknya tak mau buang buang waktu dan segera mengantarku ke tempat Barrie berada.

“Wah.. saya kurang tau kalau itu.” Jawab bapak itu yang lantas membuatku kecewa.

“Ya udah, terimakasih pak.” Kataku pada bapak yang bersedia memberikan sedikit kabar tentang Barrie itu.

 Aku ingin bertahan

Jika kau pun demikian

Aku ingin bersama

Jika kau pun demikian

Aku ingin selalu menyayang

Jika kau pun demikian

Aku ingin selalu mencinta

Jika kau pun demikian

Namun jika jawabmu tidak

Aku bisa apa

Kecuali luput dari pandanganmu

Atau bahkan dari hidupmu

Dengan segera aku dan Haidar berpamitan dengan bapak itu dan melanjutkan pencarian cintaku. Tapi hasilnya nihil. Aku benar-benar kecewa.

Hingga aku dan Haidar beristirahat sejenak di kedai es krim langganan kami.

“Terus apa yang bakal lu lakuin?” Tanya Haidar yang masih begitu peduli padaku.

“Gue nggak tahu. Mungkin ini emang karma gue karena selama ini gue terlalu jahat sama Barrie.” Kataku dengan mata berkaca-kaca.

“Udah, jangan ngomong gitu. Besok kan pengumuman lulusan, semoga dia ke sekolah.” Kata Haidar mencoba memberiku harapan yang aku harap bukan hanya sekedar menjadi harapan.

Aku segera pulang diantar Haidar ke rumah.

Hari ini benar-benar melelahkan di tambah cuaca yang amat begitu panas karena matahari bersinar begitu teriknya.

Tapi panasnya matahari tak seberapa disbanding panasnya hatiku harus berharap-harap cemas menunggu cintaku yang mungkin saja akan segera hilang, setidaknya itu kemungkinan terburuk yang sama sekali tidak aku harapkan.

“Kamu nggak mau mampir dulu?..” tanyaku pada Haidar yang sudah berbaik hati menemaniku seharian mencari Barrie yang tak tahu kemana rimbanya.

Menemani gadis yang dicintainya mencari cinta lain yang aku tak tahu bagaimana rasa hatinya.

“Nggak usah Mel, gue mau langsung pulang aja. Nanti kalau lu udah ketemu Barrie kabari gue.”

“Iya Dar, makasih banyak.” Kata ku yang berusaha menyungging senyum agar tetap terlihat ramah meskipun dadaku rasanya sesak karena kehilangan.

“Lu yang sabar dulu ya Mel.” Kata Haidar yang ingin membuatku tenang.

“Iya, dan gue minta maaf banget kalo misalnya gue udah buat lu sakit hati.”

“Hati gue emang udah lu patahin, tapi nggak masalah. Gue yakin Tuhan masih punya takdir indah buat gue.” Kata Haidar tersenyum padaku.

Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya meskipun mataku bengkak karena terlalu lama menangis.

“Gue pulang dulu.” Pamit Haidar.

“Iya, ati-ati di jalan.” Kataku.

Besok adalah lulusan. Masa-masa terakhirku mengenakan putih abu-abu. Dan mungkin kesempatan terakhirku untuk mendapatkan hatiku kembali. Barrie, aku harap engkau datang menemuiku esok maka akan kubuktikan padamu jika penantianmu selama bertahun-tahun tidaklah sia-sia.

Malam ini aku tidur lebih cepat agar pagi segera datang dan aku bisa segera mengetahui hasil belajarku selama hampir tiga tahun mengenakan putih abu-abu. Dan tentunya juga agar aku bisa segera bertemu Barrie.

Dan pagi-pagi sekali aku sudah tiba di sekolah. Nampak papan pengumuman ramai dijubeli teman-temanku hingga papan pengumuman itu sendiri tak terlihat.

Aku pun segera masuk ke dalam kerumunan itu berusaha mencari nama Pamela Prisilfia.

Nama Haidar Winata nampak di deretan paling atas yang artinya ia berhasil mendapatkan predikat terbaik lulusan tahun ini. Sedangkan namaku terus kucari ke bawah dan terhenti di nomor 14. Aku lulus dengan hasil yang lumayan baik meskipun tak berhasil masuk sepuluh terbaik.

Tiba-tiba saat aku hendak keluar dari kerumunan itu aku melihat Barrie keluar dari ruang tata usaha dan berlalu menuju parkiran. Segera ku kerahkan seluruh tenaga ku untuk bisa menepis tubuh-tubuh teman-temanku yang berebut melihat papan pengumuman itu. Segera aku berlari mengejar Barrie begitu aku keluar dari desakan desakan teman-temanku.

Tapi lagi-lagi aku kehilangan jejaknya. Barrie sudah pergi bersama mobil nya.

Pupus sudah harapanku. Mungkin ini semua memang takdir Tuhan untuk ku. Dan mungkin aku dan Barrie memang ditakdirkan untuk tidak berjodoh. Aku hanya bisa menyesal dan menangis mengingat semuanya. Celaanku yang selalu disambut tawa, ejekanku yang selalu disambut dengan senyuman, dan kemarahanku yang selalu disambut dengan candaan. Semuanya telah hilang, meski tidak dengan cinta yang kupunya.

Barrie sudah pergi dan artinya aku harus berusaha melupakannya meskipun aku tahu hal itu akan sulit kulakukan atau bahkan tak bisa.

Ku coba menata hatiku kembali dan juga hidupku.

Ku sibukkan diriku untuk persiapan masuk perguruan tinggi. Hingga akhirnya aku berhasil masuk perguruan tinggi ternama dengan jurusan Sastra Inggris.

Aku akui ini memang tidak sesuai cita-citaku yang ingin menyandang gelar dokter dan bisa membantu orang-orang yang ingin hidup lebih lama lagi.

Tapi aku senang dengan takdirku ini.

Dengan belajar sastra Inggris aku bisa mendapatkan banyak ilmu yang menunjang karir menulisku yang sudah aku rintis sejak SMA.

Dan aku harap kelak aku bisa menjadi penulis yang hebat, bukan hanya sebagai side job melainkan sebuah profesi yang lebih matang.

Aku memang tak akan bisa menyembuhkan orang sakit, tapi lewat tulisanku aku berharap bisa membuat orang-orang lebih terinspirasi atau terhibur sehingga mereka tak akan sakit. Karena setahuku, penyakit bukan hanya datang dari virus ataupun bakteri melainkan juga dari internal seseorang yaitu fikiran.

Dan dengan karyaku aku harap fikiran para pembacaku akan terefresh dan terhindar dari penyakit yang disebabkan internal fikiran.

Ku jalani hari-hari ku dengan kesibukan menulisku. Tawaran menulis ini itu banyak yang menghampiriku. Itu artinya aku bisa mendapatkan aliran rupiah dari pekerjaanku itu. Hingga aku pun berhasil membeli mobil yang cukup bagus untuk ku dan keluargaku.

Hidup kami lambat-lambat mulai mencapai kesuksesan kembali karena kebetulan papa ku juga sudah bekerja di perusahaan besar dengan posisi penting.

Hidupku begitu indah. Prestasi ku di kampus juga cukup membuat orang-orang yang sayang padaku bangga.

Dan di semester ke enam ini aku sudah berhasil menyelesaikan kuliahku yang umumnya diselesaikan delapan semester.

Tuhan benar-benar memberikan nikmatnya padaku. Karir cemerlang, prestasi membanggakan, dan sahabat-sahabat yang baik seperi Karina dan juga Laras.

Karina adalah teman kuliahku yang selalu membantuku mengejar ketertinggalan jika aku sedang disibukkan dengan deadline menulis. Ia juga tak selalu membenarkan setiap langkahku melainkan berusaha mengajakku melangkah ke arah yang benar. Tak ada lagi Pamela yang apatis. Dan tak ada lagi Pamela yang sok dan angkuh meskipun kondisiku sekarang memungkinkan aku untuk bertindak seperti dulu sebelum kebangkrutan menimpa papaku. Tapi toh itu bukan jalan yang baik untuk dilalui kembali. Laras pun demikian, ia juga tetap menjadi sahabat baikku meskipun kami beda fakultas di unversitas yang sama.

Sesekali aku masih sering main ke rumahnya dan ia pun juga demikian. Tak seperti halnya Haidar yang sudah begitu jarang bersua setelah lulusan itu.

Aku Merindukannya

Jika aku mengingat lulusan itu, ingin rasanya air mata ini kembali meniti. Barrie, lelaki tangguh yang bersedia menunggu cintaku bertahun-tahun itu pergi begitu saja sebelum ia tahu jika penantiannya tidaklah sia-sia.

Sudah tiga tahun ku lalui hidupku tanpa dia, namun rasa hati ini belum bisa menghapuskan cintanya dari dalam sanubari.

Aku masih mencintainya dan belum bisa menemukan seseorang yang sanggup menggantikan tempatnya di hatiku.

“Mel…” seru Danar, teman kampusku memanggil.

“Selamat ya Mel…” katanya mengajakku bersalaman.

“Buat?..” tanyaku dengan sunggingan senyum.

“Karena lu udah bisa wisuda tahun ini dan buku lu yang jadi best seller.” Kata lelaki yang ku akui mirip dengan Barrie itu.

Sesaat aku terpesona dengan Danar. Tingkah dan lakunya, wajahnya, lesung pipitnya, semuanya mengingatkanku pada Barrie. Hanya saja Danar berkacamata, dan sedikit lebih malas dan tak begitu pandai, itulah perbedaannya.

Namun aku sadar, jika aku bukannya tertarik dengan Danar melainkan hanya karena dia mengingatknku pada Barrie.

Meskipun dengan terang-terangan Danar mengaku menyukaiku dan menginginkan aku menjadi kekasihnya.

”Hei!!!” seru Danar yang membuyarkan lamunanku.

“Iya!!” jawabku terhenyak langsung menjabat tangannya.

“Wah… curang lu Mel. Nggak nungguin gue lulus nya..” kata Danar menyatakan protesnya.

“Haha.. lu sih, bolos mulu. Main mulu. Tampang aja pinter berkacamata, tapi mainnya nggak ngalah-ngalahin anak SMA. Pantes aja lu belum lulus sampe delapan semester. Delapan!” Jawabku sekenanya dengan tawa.

“Ye, biasa aja dong ngomong delapannya. Gue juga udah ngerti kali.” Kata Danar meluapkan protesnya.

“Terus rencana lu?” tanyaku.

“Rencana apa?”

“Mau lulus di semester ke berapa? hahahahahaha” tanyaku yang bisa dibilang meledek ini.

“Ah bisa aja lu!!” seru nya yang mengacak-acak rambutku.

“Hmm… lagi ngapain lu?..” Tanya Danar yang meliatku sedang menghadap laptop.

“Nulis, biasa. Temen lu ini kan penulis hebat.” Jawabku yang tak bermaksud sombong melainkan hanya bercanda.

“Huu.. sombong. Nulis apa?”

“Novel.”

“Judulnya apa Mel?…” Tanya Danar yang nampaknya ingin tahu saja.

“Barbie.” Kataku yang memang sedang menulis novel berjudul Barbie yang sudah ku mulai seminggu ini.

“Barbie?.. pasti ceritanya cewek banget deh. Males gue.”

“Ih! Sok tahu lu!. Ini tuh ceritanya justru cowok yang berusaha ngejar cintanya sampai rela nunggu bertahun-tahun.”

Novel Barbie ini memang ku buat khusus untuk pujaan hatiku, Barrie. Dimana aku menceritakan perjuangannya demi merebut hatiku yang tak kunjung ia dapatkan.

Aku benar-benar merasa rindu dengan Barbie ku. Bukan Barbie boneka yang bisa aku mainkan sesuka ku. Melainkan Barbie yang sudah mengacak-acak rasa hatiku hingga tak menentu seperti ini.

“Emang ada gitu?..” Tanya Danar.

Tiba-tiba saja Laras datang menghampiriku.

Dengan cerianya ia langsung memelukku dan mengucapkan selamat padaku.

“Selamat ya Mel.. lu bisa lulus hanya dengan enam semester. Hebat banget lu. Bangga gue punya sahabat kaya’ lu.” Kata Laras yang terus nerocos tanpa ujung dan pangkal.

“Kok lu bisa tahu? Kan lu anak fakultas lain?” tanyaku heran.

“Yaelah Mel… dosen-dosen tuh pada heboh ngomongin lu. Contoh tu si Pamela anak Sastra Inggris yang berhasil lulus hanya dengan enam semester dan bahkan sudah jadi penulis professional. Dosen-dosen kan pada ngomong gitu Mel, gue aja sampe hafal kalimatnya. Tapi gue bener-bener bangga sama lu Mel.” Kata Laras senang yang kembali memelukku.

“Siapa Mel? Pacar baru lu?” Tanya Laras tiba-tiba yang melihat Danar yang masih duduk di sebelahku.

“Kenalin! Danar, pacarnya Pamela!” kata Danar yang langsung mengajak Laras berkenalan.

“Ehh… enggak enggak! Bukan Ras, dia ini temen gue.” Kataku segera mengklarifikasi

“Huh!! Ngarep lu!!” seru ku pada Danar yang lantas cengengesan.

Laras hanya tertawa melihatku dengan Danar.

“Kok bisa gitu lu nemu orang kaya’ dia?..” canda Laras.

“Iya, musibah gue ketemu dia! Haha” jawabku tertawa renyah.

“Dasar  lu berdua!!” balas Danar menanggapi.

Kami pun hanya tertawa karena memang bukan serius melainkan candaan belaka.

“Ya udah, gue masuk kelas dulu yah.” Kata Danar yang hendak pergi menuju kelas.

“Iya, pergi yang jauh.” Jawabku lagi-lagi bercanda.

“Hmm.. dasar lu!” kata Danar yang lantas menepok kepalaku dengan selembar kertas yang digulung di tangan kanannya.

“Ye…” eluhku pada Danar yang sudah lari duluan.

“Kok gue baru liat tuh anak Mel…” kata Laras bertanya padaku.

“Siapa? Danar?” tanyaku memperjelas.

“Iya, siapa lagi? Anak baru?”

“Baru apanya? Udah delapan semester belum lulus gitu.”

“Ha? Masak?. Tapi kok nggak pernah lihat?”

“Iya, dia jarang masuk. Kenapa sih lu nanyain dia? Lu naksir?”

“Allah.!! Enggak, ya gue nggak pernah liat aja. Tapi kok mirip Barrie?”

“Iya, awalnya juga gue ngrasa gitu. Tapi beda kok, baikan Barrie kemana-mana. Pinteran Barrie juga.” Kata ku yang lagi-lagi mengingat sosok Barrie.

“Lu masih contact-contact an ama Barrie?” Tanya Laras tiba-tiba yang membuatku cukup sedih.

“Enggak.” Jawabku menggelengkan kepala.

“Kok bisa sih?” lanjut Laras yang nampaknya merasa prihatin dengan kisah cintaku yang belum sempat aku ungkapkan.

“Semua emang salah gue, gue udah buat dia nunggu terlalu lama. Dan wajar kalau dia ninggalin gue. Mungkin emang Tuhan nggak ngejodohin gue sama Barrie buat bersama nglewati hidup.” Kataku yang mencoba tegar meski mata ku yang berkaca-kaca ini tak bisa bohong jika aku masih sangat mengharapkan Barrie kembali.

“Yang sabar ya Mela sayang..” kata Laras yang mengelus bahu ku berusaha tak membuatku sedih.

“Ih, apaan sih lu? Gue nggak papa kok. Ya Cuma kangen aja sih.” Kataku yang mengakui rasa rinduku.

“Iya, gue tahu. Kaya’ apa coba Barrie sekarang? Apa masih slengekan ya?” kata Laras menggurauiku.

Aku hanya tersenyum menanggapi candaan sahabatku yang satu itu.

“Ngomongin Barrie, lu masih suka ketemu Haidar nggak?”

“Hmm.. minggu kemarin sempet ketemu sih di mall.”

“Lagi ngapain dia?”

“Biasa, jalan sama cewek. Playboy kaya’ dia mana bisa jauh-jauh dari makhluk yang namanya cewek.” Kata ku bercanda.

“Haha. Nggak pernah jalan lagi sama lu?”

“Enggaklah. Orang ketemu aja nggak pernah sengaja. Contact contact an juga jarang.”

“Tapi kalian baik baik aja kan, nggak musuhan?”

“Enggak Laras sayang….. ya emang lagi sibuk sama urusan masing-masing. Dia kan kuliah hukum nah gue sibuk nulis, nggak sempet janjian.”

“Ow.. gitu. Ngomong-ngomong gimana Haidar sekarang? Makin cakep?”

“Hmm.. sama aja sih. Tetep nggak bikin gue tertarik.”

“Iya, lu udah mati rasa buat nungguin Barbie lu itu. Emang lu nggak pengin punya pacar Mel?”

“Hmm… enggak!” jawabku langsung tanpa berfikir panjang.

“Barrie kan udah pergi Mel, masih aja lu nungguin dia. Lu nggak takut kalau ternyata dia udah punya cewek lain gitu?” Tanya Laras yang sebelumnya tak pernah terlintas di benakku.

“Ya, gue nunggu orang yang tepat aja buat gue Ras. Dan gue belum nemu sampe sekarang.” Jawabku yang sebenarnya masih menunggu Barrie.

“Itu karena lu nggak nyoba buka hati lu buat cowok lain.” Kata Laras berpendapat.

“Eh! Gue cabut dulu ya. Ada janji sama penerbit nih. Kalau telat bisa-bisa buku gue nggak terbit lagi.” Kataku seraya menatap laptop dan membereskan nya ke dalam tas.

“Hm.. ditinggal lagi deh gue.”

“Ahh.. jangan gitu dong.” Kataku yang sebenarnya merasa tak enak meninggalkan sahabatku itu.

“Iya-iya! Nggak papa kok. Lu pergi aja.”

“Uhh.. thank’s yah. Lu emang sahabat yang paling bisa ngertiin gue, gue pergi dulu. Mmuach.” Kataku pada Laras yang memberikan kiss bye.

Ia pun tertawa melihatku.

“Ati-ati!” serunya padaku yang sudah agak jauh.

Aku pun menganggukkan kepalaku agar Laras tahu jika aku mendengarkan kata-katanya.

Ku pacu mobil merah ku menuju penerbitan yang kurang lebih dua puluh kilometer jaraknya dari kampusku.

Ku lewati jalan jalan yang sudah tak asing lagi bagiku. Dan entah apa yang aku rasakan, akhir-akhir ini semua hal seperti mengingatkanku akan Barrie. Aku benar-benar merindukannya.

Di tempat ini, di tempat itu, bayangan Barrie selalu hadir membayangiku.

“Barrie…” bisikku menyebut namanya mengingat akan dirinya.

Di telingaku ini jelas masih terngiang kata-katanya beberapa tahun yang lalu,

“Gue janji! Jangan panggil gue Barrie Herdiansyah, kalo gue nggak berhasil buat loe cinta ma gue. 5 tahun gue ngedeketin loe sampe akhirnya jadi sahabat, jadi bukan mustahil kalo kelak loe jadi pacar gue. Eits, bukan pacar lagi! Tapi istri ! “
     Jika aku sudah mengingat kata-katanya itu, hati ku ini rasanya yakin jika kelak suatu saat Tuhan akan mempertemukan kami. Meskipun sudah beberapa tahun ini aku benar-benar telah berpisah dengan Barrie.

Selama ini aku tak pernah mempunyai seorang kekasih. Hatiku benar-benar terasa beku karena Barrie. Mungkin perasaan inilah yang dulu dirasakan Barrie padaku. Setidaknya aku akan berusaha menunggu Barrie sekuat dan semampuku.

Dengan mengingat Barrie aku bisa tersenyum bahagia meskipun dengan mengingatnya aku juga bisa menangis tersedu karena rasa rindu.

Dan begitu urusanku dengan pihak penerbitan hari ini selesai, aku langsung saja pulang dan mengabarkan berita bahagia perihal kelulusanku pada mama dan papa.

Mama dan papaku pun senang bukan kepayang mendengar hal itu. Tak henti-hentinya mereka mengatakan rasa bangganya terhadapku.

Aku benar-benar merasa bahagia melihat orang tuaku bahagia.

Mama dan papa pun menciumiku sambil mengatakan rasa sayang mereka padaku. Aku sedang benar-benar dibanjiri karunia Tuhan yang maha dahsyat. Tentu aku harus bersyukur atas semua anugerah ini.

Meskipun karunia jodohnya belum aku rasakan sampai saat ini.

Tak pernah aku berpacaran. Meskipun banyak mulut lelaki yang menyatakan rasa sukanya padaku.

Rasa ku benar-benar telah terkunci oleh bayang-bayang Barrie yang belum kembali padaku sampai saat ini.

Hatiku benar-benar seperti telah hilang atau mungkin memang hilang karena telah dicuri Barrie.

 Kau datang mencuri hatiku

Aku tak berkehendak itu

Aku pun berusaha mengambil

Mengambil hatiku yang telah kau curi

Namun apa yang kudapati

Justru bukan hatiku yang kau curi yang ku ambil

Melainkan hatimu yang kini tercuri olehku

Kini Dia Berbeda

“Mela!!” sapa seorang rupawan yang sudah tak asing lagi bagiku.

“Haidar!” seru ku tak menyangka bisa bertemu dengannya di toko roti langgananku.

“Lu ngapain disini?” tanyaku menunjukkan wajah senang bukan kepayang bertemu karib lama.

“Pesen kue, oh iya! Minggu depan gue mau tunangan, lu dateng yah. Nanti undangannya gue kirim ke rumah lu deh/” kata Haidar yang belum berubah masih tetap mempesona meskipun tak sanggup membuatku jatuh hati padanya.

“Wow! Lu tunangan? Ama siapa, gue kenal enggak?” tanyaku yang kaget mendengar kabar itu yang cukup menjadi kejutan untukku.

“Ada kok, lu nggak kenal. Temen kampus gue.” Katanya yang Nampak serius dengan hubungannya itu. Tak seperti Haidar dulu yang tak pernah yakin dengan perasaannya meskipun ia mengaku yakin dan benar-benar mencintaiku dulu.

“Lama nggak ketemu makin cantik aja lu Mel. Lagi jalan ma siapa nih?” kataa Haidar memuji lantas menanyakan statusku.

“Ah lu bisa aja. Hmm.. high quality jomblo nih.” Kataku mengakui kesendirianku.

“Mau gue madu?” goda Haidar menggurauiku.

“Ih, apaan sih lu!”

“Hehe.. ya, becanda.” Katanya malah meringis.

Cukup lama aku ngobrol dengan Haidar membicarakan ini itu. Bisa dibilang nostalgia mengenang masa dulu.

“Dar, kabar Barrie gimana?” tanyaku tiba-tiba yang langsung membuatnya nampak bingung menjawab.

“Oh, Barrie? Dia baik-baik aja kok.” Kata Haidar yang kurasa aneh.

“Dia nggak pernah tanya ke lu soal gue?” tanyaku ingin tahu.

Haidar nampak bingung harus menjawab apa yang akhirnya dia hanya menggelengkan kepalanya.

Mataku berkaca-kaca, ingin rasanya aku menangis saat itu juga. Tapi aku juga tak boleh terlihat lemah seperti ini di depan Haidar, saudara Barrie.

Mungkinkah kini semua keadaan berbalik. Bukan cinta Barrie yang bertepuk sebelah tangan, tapi cintaku lah yang bertepuk sebelah tangan.

Badanku serasa lemas bukan karena sakit ataupun lelah melainkan karena hatiku yang terluka begitu parah.

Mungkinkah Tuhan benar-benar tidak menakdirkanku aku untuk berjodoh dengan Barrie. Dan mungkinkah penantian cinta yang aku yakini ini hanya akan menjadi sebuah penantian sia-sia.

“Pamela? Lu baik-baik aja kan?” Tanya Haidar yang mendapati aku tengah termenung dengan air mata yang tertahan di sudut mata ini.

Sebelum air mataku meniti, segera ku sapu dari sudut mataku.

“Sorry Dar, gue mesti pergi sekarang. Titip salam ya buat tunangan lu.” Kataku berpamitan seraya bangkit dari tempat duduk dan berlalu dari hadapan Haidar.

“Gue sampein salam lu buat Barrie juga Mel!!” seru Haidar yang mungkin tengah berusaha membuatku tak sedih.

Segera ku pacu mobilku dengan kecepatan yang lumayan tinggi karena hatiku yang terasa panas bagaikan terbakar api dari neraka.

Namun aku tak sanggup, seluruh ragaku terasa lemas dengan air mata yang terus meleleh membasahi pipiku. Langsung saja kupinggirkan mobilku dan berhenti sejenak untuk menata hati ku.

“Barrie, kenapa lu setega itu sama gue? Kenapa lu tega bales dendem sama gue? Gue nyesel Bar, tolong beri gue kesempatan..” rintihku dalam tangis.

Ku coba bertahan sekuat tenaga, karena mungkin ini sudah jalanku. Jalan terbaik untukku meskipun tidak terindah di mataku.

Aku masih percaya jodoh, dan aku masih prcaya jika aku dan Barrie akan bersama jika kami benar-benar di takdirkan berjodoh meskipun dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku merasa takut jika aku tak berjodoh dengannya sebelum kami berjodoh.

Beberapa hari setelah bertemu dengan Haidar di toko roti, undangan pertunangan Haidar pun tiba di rumahku. Bahkan Haidar dan tunangannyalangsung lah yang mengantarkan undangan itu.

Dan tentu aku merasa bahagia melihat sahabatku bahagia.

“Yah.. kok hari  senin Dar?” kata ku begitu membuka undangan itu di depan Haidar dan kekasihnya.

“Emang kenapa Mel? Lu nggak bisa?” Tanya Haidar yang terlihat khawatir.

“Gue ada launching. Gimana dong?”

“Yah… usahain deh Mel, ya? Please…” kata Haidar memohon padaku.

“Aduh, gimana yah? Mana acaranya lumayan lama lagi.” Kata ku yang sebenarnya ingin sekali menghadiri acara pertunangan itu tapi terganjal dengan acara launching novelku yang berjudul Barbie.

“Please Mel, telat nggak papa deh. Yang penting lu hadir. Demi sahabat lu Mel…” kata Haidar yang terus berharap aku bisa hadir ke acara pentingnya itu.

“Iya deh, gue usahain. Telat beneran nggak papa yah?” tanyaku pada pasangan itu.

“Iya.” Jawab mereka hampir bersamaan dengan senyum.

Hingga hari yang istimewa itu pun datang. Hari senin tanggal 23 April 2012. Hari dimana sahabat baikku bertunangan dan hari dimana novel istimewa ku launching. Aku menyebut Barbie sebagai novel istimewa karena memang mengisahkan orang yang istimewa atau bahkan teramat sangat istimewa dalam hidupku.

Pagi itu segera ku selesaikan tugasku dalam launching buku itu. Ku kupas tuntas isi novel dank u layani pers konferens yang ingin tahu banyak ini dan itu tentang aku dan novelku. Dan yang terakhir tentunya sesi tanda tangan, bagian launching novel yang selalu membuat tanganku sedikit pegal meskipun tak dipungkiri jika aku senang melakukannya.

Dan begitu acara launching buku ku itu selesai, aku segera bergegas menghadiri pesta pertunangan Haidar.

Dan ternyata benar dugaanku. Aku terlambat tiba di acara penting sahabatku itu. Para tamu undangan nampak tinggal sedikit karena yang lain sudah pulang. Mungkin hanya tinggal keluarga dekat dan sahabat dekat saja yang masih di situ.

Aku pun segera mengucapkan selamat pada pasangan calon suami isteri itu.

“Dar, gue numpang ke toilet bentar ya?” tanyaku meminta izin pada si tuan rumah.

“Oh.. iya, lu lurus aja. Deket pintu menuju taman.” kata Haidar menunjukkan letak toilet padaku. Aku segera bergegas mengikuti arah yang ditunjukkan Haidar. Dan begitu aku selesai buang air kecil di toilet itu, aku segera kembali ke ruang utama untuk ngobrol dengan orang-orang disana yang mungkin saja ku kenal sebelum akhirnya langkahku terhenti saat aku melewati pintu menuju taman.

Aku melihat ada seseorang yang tengah termenung disana dengan kursi rodanya.

Aku tak tahu pasti siapa orang itu karena aku hanya melihat punggungnya. Tapi hatiku merasa jika orang itu bukan orang asing dalam hidupku.

Aku pun mendekatinya tanpa ia tahu.

Lalu aku menyentuh bahu orang itu hingga sanggup membuatnya lantas menoleh.

Deg!!

Aku begitu terkejut dan jantungku serasa berhenti berdetak.

“Barrie!!” seru ku yang tak menyangka bahwa pemuda di kursi roda itu adalah Barrie, orang yang telah sekian lamanya ku nanti.

Seraya air mataku berlinang dan segera ku peluk erat tubuhnya.

Tapi ia nampak tak bergeming. Sepatah kata pun tak terdengar keluar dari mulutnya.

“Barrie, lu masih marah sama gue? Lu dendam sama gue?” tanyaku padanya dengan air mata yang terus meniti membasahi pipi.

Namun ia tetap bertahan dalam kebisuannya. Hanya saja ku lihat matanya nampak berkaca-kaca.

Tiba-tiba saja ada seorang gadis yang seumuran denganku datang seraya hendak mendorong kursi roda Barrie sebelum akhirnya ku hentikan.

“Lu siapa? Gue pengen ngomong sama Barrie.” Kataku pada gadis yang aku nilai cukup cantik itu.

Tapi nampaknya Barrie lebih memilih untuk pergi dengan wanita itu yang ditunjukkan dengan bahasa isyaratnya.

Lagi-lagi coba ku tahan Barrie.

“Bar, mana janji lu buat selalu nunggu gue. Siapa yang dulu bilang kalau jangan sebut gue Barrie Herdiansyah jika suatu saat gue nggak bisa jadiin Pamela Prisilfia istri gue. Siapa Bar yang ngomong gitu? Lu lupa? Atau lu marah dan kesel sama gue.?” Tanyaku dalam tangis yang membuatku semakin terisak.

Hatiku terasa begitu sakit, dadaku terasa sesak. Pujaan hati yang selama ini kun anti telah berpaling dariku dan tak mempedulikanku lagi. Dan bisa ditebak, mungkin karena wanita yang ada bersamanya ini. Jujur, aku merasa cemburu. Tak pernah aku merasakan rasa sakit yang sesakit ini sebelum hari ini.

Barrie mengajak pergi wanita itu meski tak sepatah katapun keluar dari mulutnya.

Ditinggalkannya aku sendiri dalam tangis ini. Semuanya pupus. Penantianku tak membawaku pada kebahagiaan kali ini.

Aku tersungkur di depan pintu tak sanggup berdiri menahan rasa sakit ini.

Tiba-tiba saja Haidar berdiri di depanku. Dibantunya aku berdiri dan duduk di sebuah kursi dekat taman.

“Barrie Dar, Barrie!! Dia marah sama gue, dia benci sama gue, dia udah nglupain semua rasanya buat gue.” Kataku yang terisak.

“Dia nggak lupa sama lu. Dia juga masih sayang sama lu.” Kata Haidar yang aku fikir hanya untuk membuatku tenang saja.

“Ngomong sama gue aja dia nggak mau! Dia udah temuin cintanya yang lain.”

“Lu belum tahu apa-apa soal sepupu gue.” Kata Haidar yang nampaknya ingin mengungkapkan sesuatu.

“Maksud lu apa? Apa yang gue nggak tahu dari Barrie yang udah jelas-jelas punya wanita lain!”

“Barrie lumpuh, dan pita suaranya juga rusak!” kata Haidar yang tak sanggup menyimpan rahasia lebih lama lagi.

Haidar nampak begitu sedih mengatakan kondisi sepupunya yang juga pujaan hatiku itu. Nampak air matanya jatuh meski tak sederas air mataku.

Deg!

Aku tertegun mendengar penjelasan Haidar mengenai kondisi Barrie.

“Maksud lu apa? Dan siapa cewek yang tadi sama dia?”

“Begitu pengumuman lulusan SMA waktu itu, Barrie salah sangka dengan hubungan kita. Dia kira kamu lebih memilih aku dari pada dia. Lalu dia segera mengurus kepergiannya ke Jerman dan kuliah disana. Aku pun sempat menyusulnya untuk menjelaskan semua yang terjadi. Dan ia pun sudah mengerti. Hanya saja, ia ingin tahu seberapa besar rasa cinta lu buat dia sampe dia balik ke Indonesia. Dia pengin tahu, seberapa sabar lu nunggu dia buat pertahanin cinta. Sampe akhirnya, sebulan yang lalu dia pulang ke Indonesia. Bahkan dia udah nyiapin kejutan buat lu di taman hiburan. Tapi ia mengalami kecelakaan saat dia bermaksud ke rumah lu buat jemput lu. Ia dinyatakan lumpuh dan tak bisa bicara karena pita suaranya rusak. Dan cewek yang lu liat tadi itu suster pribadinya yang udah dua minggu ini bantuin dia ini itu.”

“Tapi kenapa dia nggak mau ketemu gue dan malah ninggalin gue saat gue bener-bener ngrasa senang bisa ketemu dia?” tanyaku yang terus mengejar informasi dari Haidar.

“Dia ngrasa nggak bisa ngebahagiain lu dengan kondisinya saat ini.”

“Tolol!” kataku menilai sikap Barrie dengan pipi basah.

“Iya, gue udah sering bilang sama Barrie kalo sikapnya itu tolol. Tapi dia bersikeras.”

“Lu mau tolong gue Dar?” tanyaku yang mulai tahu harus bertindak seperti apa.

“Gue bakal bantuin kalian sebisa gue.”

“Tolong besok lu anterin gue ke rumah Barrie.”

“Nggak masalah, gue anterin lu besok ke rumah dia. Semoga dia bisa bersikap sebagaimana mestinya sama lu.” Kata Haidar yang lagi-lagi bersedia membantuku.

Seraya aku berpamitan pulang dan segera memacu mobilku ke rumahku.

Setibanya aku di kamarku, aku hanya bisa menangis tersedu. Aku tak menyangka jika Barrie telah mempersiapkan kejutan untuk ku yang akhirnya justru membuatnya celaka. Lagi-lagi aku seperti merasa bersalah.

Barrie tak akan seperti ini jika waktu itu dia tidak berangkat menjemputku. Jika ia tak menyiapkan kejutan untukku.

“Barrie, ribuan maaf mungkin tak akan sanggup membuatnya seperti sedia kala. Tapi satu yang pasti, aku masih sangat begitu mencintaimu tak peduli bagaimanapun kondisimu.

Hingga hari pun berganti dan aku telah bersiap untuk bertemu Barrie ditemani Haidar dan Rista, tunangan Haidar yang sudah menganggapku seperti sahabat.

“Mel, yang sabar ya.” Kata Rista yang coba menenangkanku karena aku Nampak tak tenang.

Aku hanya melempar senyum ke arahnya tanpa menjawab karena rasa hatiku bercampur aduk antara senang, sedih, bersalah, dan juga khawatir.

Kebahagiaan Itu Datang

 Semuanya serasa seperti mimpi

Setelah sekian lama aku menanti

Meskipun nanti caci yang kan ku dapati

Namun aku akan mencoba mengerti maksud hati

Ku harap semuanya akan baik-baik saja

Meski keadaan sekarang telah berbeda

Tapi apa guna raga

Jika dalam cinta hanya perlu rasa

“Mel! Udah sampai nih.” Kata Haidar yang telah menghentikan laju mobilnya di sebuah rumah.

Aku malah terhenyak kaget mendengar ucapan Haidar.

“Udah sampai?” tanyaku memastikan.

“Udah Mel.” Kata Rista dengan bibir yang menyungging senyum.

Aku merasa gugup tak tahu karena apa. Aku tak pernah merasa segugup ini saat akan berhadapan dengan seseorang, seperti menteri sekalipun. Tapi aku benar-benar merasakannya saat ini, saat aku hendak bertemu orang yang telah sekian lama kunanti.

“Mel, ayo turun.” Kata Haidar yang sudah membuka pintu mobilnya. Aku pun belum beranjak dari duduk ku.

“Mel..” panggil pasangan itu hampir bersamaan.

Aku segera keluar dari dalam mobil.

Ku langkahkan kaki ku perlahan memasuki gerbang rumah itu, gerbang rumah Barrie.

Di ajaknya aku masuk oleh Haidar dan Rista.

Dan di ruang tamu terlihat Barrie yang tengah makan disuapi oleh gadis yang belum ku ketahui namanya itu.

“Barbie…” panggilku lirih yang lantas membuat Barrie menoleh padaku.

Ia masih sama seperti Barrie yang dulu. Tak ada yang berubah dengannya kecuali kelumpuhan dan pita suaranya.

Haidar dan Rista pun meninggalkanku dengan Barrie di situ seraya mengajak gadis yang tadi menyuapi Barrie.

Barrie terlihat ingin sekali berkata-kata tapi tak bisa. Aku tak tega melihat kondisi Barrie yang demikian.

“Bar, tolong kamu jangan pergi lagi. Aku sadar kalo aku butuh kamu. Dan aku ngaku salah udah buat kamu sakit hati karena sikap-sikap aku yang mungkin keterlaluan. Aku baru sadar kalau aku cinta sama kamu, aku nggak sanggup kehilangan kamu.” Kata ku yang menunduk berlutut di hadapan Barrie yang sedang duduk di kursi roda.

Air mataku meniti, dan air mata ini akan meniti semakin deras jika aku menatap mata Barrie.

“Aku juga cinta kamu.” Sahut seseorang yang menurutku mirip dengan suara Barrie.

Aku pun langsung mendongakkan kepalaku dan apa yang kulihat benar-benar membuatku tercengang.

Barrie tengah tersenyum menatapku. Aku pun tertegun menatapnya.

“Mel, I love you.” Kata Barrie yang ternyata dapat mengeluarkan suaranya dengan baik dan begitu jelas sembari mengelus pipiku.

“Bar! Kamu bo’ongin aku!” kata ku seraya berdiri dan menghapus air mataku begitu melihat Barrie yang nampak baik-baik saja.

“Tenang Mel, aku bisa jelasin semuanya sama kamu.” Kata Barrie yang lantas berdiri dengan tegap tak terlihat seperti orang yang baru lumpuh.

“Tega Bar kamu!” kataku seraya berlari pergi merasa tak terima dibohongi Barrie. Barrie pun segera berlari mengejarku keluar. Namun aku sudah berhasil pergi menggunakan taksi yang kebetulan lewat tepat saat aku ingin pergi.

“Buruan pak!” kataku pada sopir taksi setengah baya itu untuk menambah kecepatan taksinya.

Taksi ku pun melaju begitu cepat hingga hanya dalam beberapa menit saja aku sudah tiba di rumah.

Segera aku berlari masuk ke kamar dengan tangis pecah.

Aku benar-benar tak menyangka jika Barrie mempermainkan perasaanku.

“Mel… Mela…” seru mama memanggilku.

Aku pun tak menyaut hanya diam sembari menghapus air mataku. tak berapa lama mama malah sudah terlihat berdiri di hadapanku.

“Ada tamu di depan nyariin kamu.” Kata mama memberitahuku.

“Siapa ma?” Tanya ku dengan suara sumbang.

“Udah, kamu temuin dia aja.” Kata mama yang lantas membuatku keluar kamar menemui seseorang yang katanya sedang mencariku.

Terlihat seseorang tengah berdiri di depan pintu menghadap keluar.

“Siapa?” tanyaku pada lelaki yang menggunakan kaos putih itu.

Segera ia membalikkan badannya. Aku pun segera memacu langkahku bermaksud hendak kembali ke kamar begitu aku mengetahui itu adalah Barrie.

“Tunggu Mel!” kata Barrie yang segera menahan tanganku. Please.. kasih gue kesempatan buat ngejelasin ini semua ke lu.”

“Oke, gue kasih 15 menit karena lu udah bener-bener buat gue marah.”

“Dikit banget!?..” eluh Barrie.

“Gue potong jadi 10 menit karena lu protes.” Kataku dengan juteknya.

“Gue nggak bohong soal kecelakaan pas gue nyiapin kejutan buat lu. Meskipun kecelakaan itu cuma buat gue lecet dan nggak sampe lumpuh ataupun kehilangan suara gue. Dan gue juga nggak bohong soal perasaan gue yang masih tetep sama kaya’ dulu dan bahkan malah bertambah. Dan gue nepatin janji gue buat lu jadi calon isteri gue.” Kata Barrie penuh keyakinan seraya memberikan sebuah cincin untukku.

Aku hanya diam memandang sinis ke arahnya.

“Dan gue bener-bener cemburu waktu liat lu pelukan sama Haidar dulu. Gue patah hati, gue nggak nyangka kalo lu cinta sama Haidar, sepupu gue sendiri.

“Gue nggak pernah jadian sama Haidar meskipun waktu itu Haidar emang nembak gue. Dan gue nggak nyangka lu bakal setolol itu langsung pergi aja ninggalin gue dan nggak ngasih gue kesempatan buat nyatain perasaan gue.” Kataku menjelaskan dengan mata berkaca-kaca.

“Iya, aku yang salah. Aku minta maaf.” Kata Haidar yang menurutku tulus jika dilihat dari matanya.

Namun aku hanya diam tak bergeming.

“Mel, udah dong marahnya, gue udah ngomong kok sama mama lu tadi kalo gue pengen nikahin lu. Dan mama lu udah setuju punya menantu keren kaya’ gue.” Kata Barrie yang membuat tanganku ini menarik hidungnya yang mancung itu.

Aku pun tersenyum menatap Barrie yang meringis kesakitan.

Barrie pun nampak tersenyum padaku.

Dipakaikannya cincin itu ke jari manisku.

“I love you Pamela Prisilfia.” Kata Barrie yang menyebutkan nama ku dengan manisnya.

“I love you too Barbie..”

Kami pun berpelukan untuk melepas rindu setelah sekian lama tak bertemu.

“Bentar deh! Jadi Haidar, Rista juga ikut ngrencanain ini?”

“Iya, maaf ya.” Kata Barrie yang sok polos.

“Terus perawat itu?”

“Perawat? Perawat apaan? Dia tuh adik aku. Adik kandung. Kenapa, jealous ya?”

“Jealous? Enggak!”

“Jealous deh, ngaku…”

“Enggak! Gue bilang enggak ya nggak!”

“Nggak salah pasti.”

“Kenapa coba kamu mesti pura-pura lumpuh dan nggak bisa ngomong. Aku sedih tau, aku nggak tega lihat kamu kaya’ gitu.”

“Cuma bikin surprise aja kok, kan waktu di taman hiburan nggak jadi gara-gara aku kecelakaan.”

“Apa kamu yang sakit?” tanyaku yang merasa khawatir dengan kondisi kekasihku itu.

Ia pun menunjuk bibirnya dengan manja menggodaku.

“Ih, apaan sih? Gak usah macem-macem deh.” Kataku yang malah menimpuknya dengan bantal.

“Eh, kalian ini! Udah lama nggak ketemu masih aja suka berantem. Ini, dimakan dulu kuenya, tante baru angkat dari oven nih.” Kata mama pada kami sembari menawarkan kue yang baru dimasaknya pada Barrie.

“Makasih mama…” jawab Barrie manja memanggil mamaku dengan sebutan mama. Mama hanya tersenyum mendengarnya.

“Ih, apaan sih pake manggil mama gue mama segala. Geli kali gue dengernya.” Kataku pada Barrie yang cengengesan.

“Ye, biarin. Kan nggak lama lagi juga bakal panggil mama. Ya mama yah?” kata Barrie yang malah melanjutkan panggilannya itu.

“Ye.. dasar Barbie!”

“Hmm.. gitu gitu juga kangen kan kalo aku tinggal, udah pernah pacaran belum selama aku tinggal? Nggak pernah kan?” kata Barrie yang begitu yakin.

“Siapa bilang, banyak kali yang nembak gue!!” jawabku tak mau kalah.

“Iya, gue tahu banyak yang nembak tapi kan nggak ada yang lu terima. Ya ma ya?..” kata Barrie yang lagi-lagi mencari pembelaan dari mama ku.

Mamakuhanya tersenyum geleng-geleng kepala melihat ulah kami.

“Pokoknya, begitu aku udah dapet gelar dokter di Jerman, aku bakal langsung nikahin kamu.” Kata Barrie yang juga di dengar oleh mamaku.

Aku hanya tersenyum mendengar ocehan Barbie ku sayang itu.

Hingga akhirnya aku harus siap untuk menunggu Barbie ku menyelesaikan studynya di Jerman beberapa tahun lagi.

“Keep your heart and I’ll also do it. I love you Pamela.” Kata Barrie yang sudah bersiap terbang ke Jerman untuk segera menyelesaikan sekolah dokternya.

“I love you too my barbie.” Jawabku seraya mencium pipi kekasih hati ku itu.

Dan akhirnya aku kembali sendiri disini dalam penantian cinta sejati.

Cinta sejati yang kan ku jaga sampai aku mati. Barbie ku, cintaku.

***

Tak ada penantian yang sia-sia dalam hidup ini

Penantian sia-sia hanya milik orang-orang yang tak yakin dengan apa yang dinanti

Segala penantian kan berbuah manis

Tinggal kesabaran dan keyakinan yang diuji

Menanti bukanlah suatu hal yang harus ditakuti

Justru dengan menanti cinta kita kan teruji

Dan dengan cinta yang teruji

Kan kita dapatkan cinta sejati

 Penulis: Djati Prihantono

Aplikasi AudioBuku

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: