Cerita

Tuhan Yang Kesepian – Pohon

Ia berdiri dalam sunyi di antara taman-taman yang indah di sebuah istana. Ia tumbuh menghunjamkan akarnya ke dalam bumi di sebelah barat Kota Tarai di wilayah Kathmandu, Nepal. Pohon itu rindang dan memberikan kesejukan juga kesegaran. Banyak burung hinggap di antara dahannya. Burung-burung itu tenteram dan nyaman singgah di situ, tidak terusik. Namun, banyak orang lupa bahwa pohon itu juga sesungguhnya adalah ayat dan ajaran yang bakal datang di bawahnya. Pohon itu juga sesungguhnya telah menjadi ayat sebelum ayat-ayat dalam kitab-kitab suci diturunkan oleh Tuhan kepada para nabi dan rasul-Nya. Pohon itu adalah ayat yang ditulis oleh tangan alam yang bersih dari hasrat, nafsu, juga ambisi, tidak seperti ayat-ayat dalam kitab-kitab suci yang kadang ditulis dengan kesepakatan dan persetujuan.

Pohon itu berdiri tegak dan otonom sebagai ayat yang tak terjamah tangan. Pohon itu berbicara banyak dalam diamnya di tengah hamparan sunyi di Taman Lumbini yang indah di Tarai, Kathmandu itu. Ia adalah bunyi yang nyaring dalam dekap kesunyian. Pohon Sal, namanya.
Kisahnya memelesat jauh ke belakang ke suatu masa yang jauh, lima abad SM. Saat itu, di Timur masih dikungkung oleh kekuatan gelap: kekuatan yang berpusat pada hasrat, nafsu, dan ambisi. Memang, ketika Sang Buddha Gautama belum lahir, sudah ada agama Hindu, bahkan bumi tempat Buddha Gautama lahir juga masih menjadi bagian dari wilayah kerajaan Hindu, India. Namun, manusia tetap masih dalam kungkungan kekuatan gelap karena agama Hindu belum bisa memberikan jawaban atas kegelisahan manusia pada saat itu.

Bayi Siddharta Gautama lahir di bawah pohon yang mungkin banyak dilupakan orang, pohon yang sebenarnya juga inti dari ajaran yang akan dibawakan dan dikabarkan si bayi. Ibunya, Dewi Mahamaya saat itu dikisahkan sudah mengandung bayi Siddharta Gautama lebih dari sembilan bulan umurnya, tetapi si bayi belum juga hendak lahir. Dewi Mahamaya siang itu sedang dalam perjalanan menuju rumah orangtuanya. Dia berjalan kaki dikawal staf Kerajaan Sakya dan para pembantunya. Namun, dia kemudian merasakan lelah. Lalu, dia berhenti dan berteduh di bawah pohon Sal itu. Dewi Mahamaya merasakan betapa sejuk dan tenteram singgah di bawahnya. Udaranya terasa begitu segar dan menyegarkan. Dia singgah layaknya burung-burung yang singgah di antara dahan-dahan setelah menjelajah angkasa ke sana kemari.

Akan tetapi, ketika dia sedang asyik berteduh di bawah pohon itu, sebuah keajaiban terjadi. Terasa ada yang bergerak di perutnya. Lalu, dia berdiri dan memegangi sebatang ranting dari pohon itu. Dan, bayi Siddharta Gautama lahir. Uniknya, menurut kepercayaan kaum Buddhis, dia langsung berdiri tegak. Tidak ada kotoran melekat di tubuhnya juga di ibunya. Dia lahir dalam cahaya. Saat itu juga dikisahkan ada dua aliran air yang memancar dari langit yang menyucikan tubuhnya dan tubuh ibunya. Kemudian, dia berjalan ke arah utara tujuh langkah. Setiap kali dia melangkah, bertumbuhlah pohon bunga teratai yang indah.
Pohon Sal pastilah dipilih atas kehendak-Nya untuk mengiringi kelahiran orang suci. Ia dipilih menjadi pohon yang meneduhi dan mengayomi manusia yang kelak akan mengajarkan jalan-jalan kebaikan hidup. Pohon yang menandai kelahiran bayi Siddharta Gautama ini kelak lebih dikenal dengan Pohon Bodhi atau pohon pencerahan karena Siddharta mendapatkan pencerahan ketika bersemadi di pohon Sal ini. Buddha sendiri artinya ‘yang tercerahkan’.

Cerita kelahiran Siddharta Gautama sebenarnya sangat unik. Dia lahir dari keluarga Kerajaan Sakya di wilayah Nepal. Ayahnya, Sudodana, adalah seorang raja. Ayahnya cemas kalau kelak anaknya menjadi seorang pencerah ketika ayahnya mendapat penjelasan dari seorang petapa Hindu yang meramalkan bahwa bayi itu kelak akan menjadi Sang Pencerah. Karena ayahnya tidak suka dengan takdir sang bayi, sang petapa itu kemudian memberinya cara untuk mencegahnya: “Hindarkan dia untuk bertemu dengan orangtua renta, sakit, orang mati, dan petapa!”

Akan tetapi, takdir yang ditulis di langit rupanya tidak bisa dihalau. Sang ayah mungkin lupa. Suatu ketika Siddharta keluar dari istana diam-diam dan menemui kenyataan hidup yang begitu berbeda dengan istana! Dia menemui si renta, si sakit, si mati, dan si petapa. Sejak saat itu hatinya kacau, lalu dia pergi meninggalkan kehidupan istana yang enak, nyaman, mewah, dan gemerlap. Dia memutuskan untuk menjadi Sang Pencerah. Dia kemudian melalui jalan-jalan sulit dan pelik: bertapa dan bersemadi hingga akhirnya menjadi Buddha atau Yang Tercerahkan!
Saya dan Anda mungkin berpikir mengapa dan ada apa dengan pohon itu?

Agama itu penghayatan atas pengalaman batin yang mendalam atas kuasa yang Mahakuasa. Pengalaman itu mengubah perilaku hidup seseorang dari yang sebelumnya menjadi yang baru. Seperti itulah Buddha, setelah dia mendapatkan pencerahan, dia lahir dalam sosok yang berbeda. Inti agama seperti itulah yang ditangkap kaum pragmatis sehingga mereka akan mengkritik buat apa beragama kalau orang tetap saja berperilaku jahat. Jika agama itu baik, mengapa orang beragama itu terus-menerus berbuat jahat? Bagaimana memercayai kalau agama kamu benar dan lurus jika kamu tidak bisa berlaku baik?

Kenyataan itu begitu anomalik dan ironis!
William James, penulis buku terkenal Varieties of Religious Experience mengatakan bahwa agama haruslah bisa melahirkan kekuatan yang bersumber dari agama yang mengakar di dalam batin. Agama tidak mengawang di otak sehingga agama itu hanya bisa melihat benar dan salah. Agama harus dihayati dan dirasakan sebagai pengalaman hidup yang mendalam.
Pohon Sal itu berdiri tegak seakan telah berpesan kepada manusia sebelum pesan-pesan pencerahan yang dibawa Sang Pencerah diturunkan. Pohon itu hendak mengingatkan manusia kepada akarnya yang menghunjam ke bumi, dahan-dahannya yang berserak di angkasa yang rimbun; menyejukkan dan menyegarkan. Ia menjadi tempat berteduh semua manusia dan hewan-hewan.

Agama dan kitab suci lebih sering diajarkan sebagai sumber-sumber kebenaran dengan pendekatan logika. Tafsir-tafsir yang merujuk pada zaman-zaman silam pada masa sahabat dianggap sebagai suatu yang paling benar dan final sehingga yang berbeda dari itu dianggap sesat dan mungkin kafir. Agama tidak menjadi seperti pohon yang memberi ketenteraman dan kenyamanan hidup bagi banyak orang, hewan, dan makhluk lainnya. Agama hanya menjadi tempat yang nyaman berteduh untuk spesies yang sama!
Kita juga tahu bahwa di tengah semaraknya kehidupan beragama di negeri ini, harapan dan bayangan munculnya kehidupan yang lebih tenteram, nyaman, dan berkeadilan justru sepertinya semakin jauh. Kenyataan ini terkadang memunculkan rasa frustrasi di dalam keberagamaan. Kejahatan yang dilakukan orang beragama kian menjadi-jadi. Kekerasan yang dilakukan orang atas nama agama kepada kelompok lain yang tidak sepaham atau semazhab tidak kunjung sirna. Kebencian kepada orang yang berbeda keyakinan dan agama terus tumbuh.

Kita tentu saja harus dapat belajar dari ayat yang berdiri tegak tanpa campur tangan orang itu, yaitu pohon. Kita juga bisa terbebaskan dari orang-orang yang kerap menafsirkan ayat-ayat-Nya dan berlagak seperti Diri-Nya, yaitu merasa paling benar, tetapi mereka menjalani hidupnya dengan cara-cara yang dikutuk oleh-Nya: menipu dan memakan uang yang bukan menjadi haknya.

Penulis: Tasirun Sulaiman

Read More