Blog

Cinta Mati – Sebuah Cerita Misteri di Menteng Pulo, Kota Jakarta

Bagikan dong

Kenalkan namaku Adi aku dari kampung, aku baru saja diterima bekerja di salah satu mal di daerah Jakarta selatan. Saat pertama datang ke Jakarta aku nyaris tidak percaya kalau di kota se ramai Jakarta ini masih ada hantu. Baiklah aku akan cerita saat  aku baru keluar dari mal, waktu pulang kerja aku mengalami kejadian aneh waktu itu  hari hampir maghrib.  

Aku naik ojek online.  “ Tebet ya mas?” Tanya Tukang  Ojek Online yang sudah dari tadi aku tungguin. Aku Cuma mengangguk dan segera membonceng di jok belakang motor abang  Ojek itu. Kami segera melaju saat melewati terowongan kasablanca hari mulai gelap motor terus melaju aku baru menyadari di sisi kiri – kanan jalan ternyata pemakaman luas. Awalnya tidak ada kesan sakral saat melewati pemakaman ini. Pikirku, tidak seperti di kampung setiap melewati pemakaman ada perasaan takut  ngeri sekaligus sakral  untuk di lewati. Tapi tidak di Jakarta suara mesin dan hiruk pikuk lalu lintas mengalahkan  rasa seram pemakaman itu. Ah aku juga tidak tahu, aku juga baru seminggu di Jakarta, tapii saat aku melewati pemakaman ini aku pernah lihat tukang baso dan pelangganya lagi asik nangkring di atas nisan sambil menikmati semangkok baso. Ah ada- ada saja Jakarta, nisan aja di pakai makan baso, itu kalau di kampung udah ditarik penghuninya  dari bawah, baru tahu rasa dia itu. Bathinku,

“ Daerah ini namanya apa Bang ?” Tanyaku Pada driver Ojek Online tsbt.

“ Menteng Pulo, mas….”

“Ooh, Saya kayak pernah denger ya bang “

“ Ya, pastilah, mas. Semua orang tahu daerah ini terkenal dengan …..” Tukang Ojek itu menghentikan ucapanya  tepat dititik rasa penasaranku.

“ Terkenal apanya bang?”

“ Ya itu mas…..” Tukang Ojek itu sepertinya  tidak berani untuk melanjutkan kata- katanya. Aku menengok ke arah kiri, tampak batu- batu nisan berjejer diantara rimbunan pohon- pohon perdu. Deg tepat di depan makam aku melihat seorang perempuan, tadinya kupikir perempuan itu hanya seorang karyawan yang sedang menunggu ojek, tapi ketika aku perhatikan dengan seksama aku mulai tidak percaya dengan akal sehatku sendiri, pakaian perempuan itu tampak aneh? Gaun putih seperti tanpa jaitan. Wajah perempuan itu pucat berambut sesaat menatapku. Aku reflek berpaling ke punggung tukang ojek, kalau tidak malu ingin rasanya kubenamkan mukaku ke punggung abang  ojek itu, aku mulai lega ketika  ojek terus melaju melewati apartement dan gedung – gedung, tak ada lagi pemakaman luas itu.  Akhirnya aku sampai kost juga,  “ Terimakasih, bang“ Ucapku pada Tukang Ojek sebelum aku masuk ke dalam. Kamar sebelah sepertinya ramai.

“ Mas nanti setelah ganti baju main kesini yaa” Ucap seorang tetangga kost, anak muda berbadan kurus. Aku hanya tersenyum, dan melongok kedalam kamar di dalam kamar aku melihat beberapa orang sepertinya sedang nonton DVD player, aku tidak bisa melihat layar TV karena terhalang badan seseorang berkaos security, aku kenal orang itu dia adalah Pak Aston  security di mal, di tempatku bekerja.  “ Kamar  Pak Aston  rame banget pada nonton pichi – pichi ya ??” Tanya seorang anak muda  agak gendut yang tahu- tahu sudah berada disebelahku. “ Pichi- pichi itu apa sih bang?” Tanyaku nggak ngerti. “ Bokaaaaap” Jawabnya Cengengesan

“ Hadeuuh “  Aku segera masuk kedalam kamar , ganti baju kemudian  mencoba untuk rebahan , istirahat setelah perjalanan dari tempat kerja ke kosan, lumayan juga nyaris  hari ini nyaris delapan jam aku berdiri Jaga counter, tapi suasana panas di dalam kamar membuatku ingin keluar dan bergabung dengan mereka. Dikamarku belum ada kipas angin, karena aku belum seminggu bekerja jadi aku belum mampu beli. Sebenarnya aku males keluar apalagi  Ba bang tadi kalau mereka lagi nonton video porno, haduuh pada tua-tua tapi nggak nyebut, bathinku. Sebenarnya aku males untuk keluar dan bergabung bersama mereka, tapi dikamar juga panas, yaa sudahlah sekalian silaturahmi, sebagai anak kost baru aku harus bersosialisasi dengan mereka. Aku keluar  menuju kamar Pak Aston.

“ Ayo masuk, mas, gabung sama kita. Ini Mas Adi teman baru kita “ Satu persatu aku diperkenalkan  Pak Aston  pada tetangga – tetangga baruku, baru ku tahu anak muda kurus itu bernama Arman dan Si gendut bernama Aldo, Aku segera bergabung bersama mereka ternyata aku salah mengira, tadi Si gendut Aldo bilang kalau mereka lagi nonton Pichi – pichi. Pichi – pichi adalah nama samaran film Dewasa. Meski baru jadi penghuni baru seminggu di Kostsan ini aku paham dengan perilaku mereka. Kalau kamar Pak Aston tertutup dan banyak sandal di depan kamar berarti mereka lagi nonton pichi – pichi. Untungnya sekarang tidak, kali ini mereka sedang nonton film “ HANTU TEROWONGAN CASABLANKA “ Ya terowongan casablanka yang kalau berangkat dan pulang kerja aku lewati. Mereka tak lagi khusuk menonton, mungkin karena kedatanganku mereka jadi asyik ngobrol.  

“Apakah, angkernya Casablanca karena tragedi pemerkosaan?” Tanya Aldo membuka percakapan setelah melihat hantu perempuan di layar TV.

“ Tidak. Dengar kisah ini.  Casablanca adalah nama sebuah jalan penghubung antara jalan Jenderal Sudirman dan Kawasan Kuningan dalam hal ini jalan HR Rasuna Said. Selain itu, kadang juga terlihat adanya sosok makhluk astral yang sedang jalan dipinggir trotoar karena kawasan ini juga banyak pengalaman mistiknya. Salah satunya adalah pengalaman tukang ojek yang kadang mangkal di depan area pemakaman….” Tutur Pak Aston. Aduuh baru gabung sama mereka udah diceritain kisah horror. Bathinku, mana tempat kejadianya nggak terlalu jauh juga dari sini, yaah mungkin sekitar satu kilo meteran dari kostsan ini. Aku melihat wajah Pak Aston security mal itu melanjutkan ceritanya dengan serius.

“Menurut tukang ojek di kwawasan itu, pernah ada seorang wanita minta diantar ke perumahan di belakang pemakaman. Dengan alasan untuk mempercepat waktu, sang wanita minta diantar dengan jalur memotong ke dalam area pemakaman yang menembus ke area perumahan di belakangnya. Saat diantar, wanita tersebut tak terlihat oleh orang lain dan seakan kita sedang mengendarai motor sendirian. Ia biasanya minta diturunkan dibawah pohon yang berada di tengah pemakaman.  Setelah sang wanita turun dari motor dan membayar dengan uang yang ternyata hanyalah sepotong daun, tiba-tiba sang wanita terbang keatas pohon dan menghilang. Tapi jauh sebelum ada jalan Casablanca dibuat, kawasan ini adalah sebuah tempat pemakaman umum Menteng Pulo. Pada waktu itu antara jalan jenderal Sudirman, jalan HR Rasuna Said (daerah Kuningan) dan jalan Dr Satrio (daerah Tebet) hanya terhubung oleh jalan kecil. Nah, untuk memperbesar lajur jalan, lalu dibuatlah jalan ini untuk mengubungkan secara horisantal terhadap jalan-jalan utama tersebut. Pemakaman umum Menteng Pulo ini tepatnya berada diantara jalan HR Rasuna Said, Kuningan  dan Dr Satrio, Tebet. Jadi sebelum dibuat jalan Casablanca, pertama-tama developer harus membebaskan jalur jalan dari batu-batu nisan di area pemakaman. Oleh karena itu, maka ratusan makam di areal pemakaman Menteng Pulo ini harus dipindah. Bisa jadi pada waktu itu, mungkin ini adalah proses “pemindahan massal” pemakaman umum terbesar  di Indonesia…..” Sejenak laki-lagi tegap berkulit gelap itu menghentikan ceritanya, dihisapnya dalam – dalam rokoknya. Aku sendiri diam –diam merinding mendengar cerita Pak Aston yang juga bekerja di mal tak jauh dari pemakaman yang Ia ceritakan itu.

“Setelah pemindahan ratusan makam ini selesai, maka dibuatlah jalan Casablanca yang tadinya bernama jalan Karet Kuningan yang jauh lebih kecil ini. Kini, dengan jalur yang lebih lebar, maka diharapkan kemacetan ibukota akan terurai. Oleh karenanya, jika anda lewat kawasan ini akan terlihat tempat pemakaman umum Menteng Pulo di kanan-kiri jalan yang seolah-oleh telah “dibelah”. Jadi, jika suatu saat anda melewati jalan Casablanca antara Kuningan dan Tebet, perlu diingat bahwa Anda sedang melalui area makam yang tadinya banyak terdapat batu nisan, baru tahukah anda? Begitu melegendanya peristiwa-peristiwa di area pemakaman Menteng Pulo dekat underpass Casablanca ini, maka dibuatlah sebuah film yang berjudul sama, Terowongan Casablanca, yang barusan kita tonton…”

Sejenak suasana hening, entah angin dari mana tiba- tiba aku merasakan udara menjadi dingin seperti ada hawa aneh yang berhembus masuk menelusuri lorong kost-kosan, sayup –sayup aku mendengar nyanyian kidung cinta sekian perempuan dari alam ke abadian, suara itu mengalun samar. Seperti  merasuk menyurup kedalam jiwa – jiwa kosong. Arman dan Aldo satu persatu beranjak ke kamarnya tinggal Aku dan Pak Aston.

“ Pak Aston siih cerita yang enggak- enggak aku jadi takut nih “ Ucapku, Usai ngomong tahu-tahu jendela kamar Pak Aston menutup paksa seperti ada orang yang sengaja menutupnya dengan paksa.

“ Kalau gitu saya kekamar dulu yaa, Pak Aston terlihat bingung. Aku keluar dari kamar Pak Aston, tanpa sengaja mataku menatap ke arah lorong yang memanjang  di ujung sana aku melihat angin berhembus aneh yang menggoyang – goyangkan dahan – dahan pohon di luar sana. Tiba – tiba aku merasa seperti tak berpijak di tanah, darah seperti tak mengalir di tubuhku ketika kulihat di ujung gang sana seorang perempuan menghadap keluar sedang duduk di bangku bambu yang ada di luar sana.

“ Pak Aston….” Seruku, Pak Aston ikut keluar kamar, matanya mengikuti arah telunjuk jariku

“ Itu, pak. Lihat perempuan itu?”  Ucapku

“ Mana ??” Pak Aston rupanya tidak melihat

“ Itu di amben bambu “   

“ Tidak ada siapa – siapa di amben”  Deg! Perempuan itu tidak ada lagi ditempatnya angin berhembus kencang, seperti hendak mematahkan dahan –dahan di depan kost- kosan kami. Aku buru- buru pamit pada Pak Aston untuk Kembali ke kamarku. Di kamar aku mencoba memejamkan mata namun tak bisa.

****** *****

Hari ini Aku masuk pagi, meskipun masih mengantuk karena semalem  ngobrol di kamar Pak Aston, tapi aku memaksakan diri untuk masuk kerja hari ini, Mal buka jam 9. 30 tapi jam 7.30 kami sudah datang untuk prepare dagangan kami. Di mal ini posisiku hanya sepele hanya tukang jaga counter tapi  aku beruntung juga di counter resmi handphone yang lumayan punya namalah, jadi lumayanlah gajiku sudah mendekati UMR, meski belum UMR, kalau tidak Aku bisa pontang – panting karena kebutuhan di kota besar seperti Jakarta juga nggak murah, apalagi Jakarta selatan mahalnya nggak kira- kira, belum lagi  kalau Ibu kostnya matre, minta iuran ini, iuran itu, dia pikir duit  tinggal metik kayak daun.

Siang ini aku agak santai karena di antara sales lain hari ini aku mampu menjual tiga handphone paling mahal yang biasanya paling sulit di jual oleh sales lain, Aku perhatikan  Si Adul temanku, di antara karyawan lain si Adul paling males juga penakut, uniknya dia itu penakut tapi sukanya nonton hantu di You tube, aku menghampiri si Adul yang lagi asyik nonton di handphondnya

“ Nonton apa sih Dul?” Tanyaku Si Dul tidak menjawab malah Asyiik cerita sendiri, matanya tak lepas dari layar handphonenya.

“ Lihat Hantu perempuan ini, masa bisa melayang dari tol, editan kali yaa…” Benakku langsung melayang pada kejadian semalam, juga saat aku sama abang Ojek melewati pemakaman luas itu. Baru saja aku tenggelam membayangkan perempuan itu. Pertanyaan Si Dul kembali mengagetkanku.

“ Kenapa sih hantu itu selalu perempuan ya, Di?”

“ Mungkin karena  perempuan itu mahluk yang lemah sehingga menjadi objek untuk disakiti. “ Manajer Store kami  Pak Rohman malah ikut Nimbrung.

“ Konon kabarnya perempuan lebih banyak dosanya dari lelaki, padahal perempuan seringkali jadi korban lelaki. Kalau mereka tak terima dicaci-maki, saat  berpulang pada Illahi dan jasadnya tak diterima bumi, konon  arwah mereka akan keluyuran malam hari, tepatnya selepas jam 12 dini hari. Bersiaplah, mereka akan mencari laki-laki tengik yang sering menghina mereka dengan multi  wujud.” Sambung Pak Rohman. Pikiranku kembali pada kejadian semalam, lalu salah apa diriku hingga di temui oleh hantu perempuan itu? Aku juga bukan cowok tengik, yang suka godain perempuan, bahkan pacaranpun aku juga belum. Pak Rahman  kembali cerita.

“ Sebagian dari perempuan yang akan melakukan aksi balas dendam ini berubah menjadi Kutil Anak , Kuntianak (Kuntilanak?) maksudnya,  Sundel Bocor eh, Sundel Bolong, Suster ngesong. Tentu pernah denger kan hantu- hantu populer seperti  Marijem jembatan Grogol,  Si Manis  Jembatan Ancol, Mak Lemper eh, Lampir, Wowo Gembel  dan lain sebagainya….”

“ Lalu bagaimana dengan hantu laki- laki, pak?”  Tanya Si Adul ingin tahu, dan dengan antusias Pak Rohman menjawabnya.

“ Memang banyak juga hantu-hantu yang berjenis kelamin laki-laki. Namun secara umum manusia lebih familiardengan hantu-hantu perempuan. Hantu perempuan kesannya memang lebih menakutkan dibanding Genderuwo atau Tuyul….” Jelas Pak Rohman panjang lebar, namun sepertinya ke ingin tahuan si Adul sangat besar.

“ Alasannya apa Pak, kalau hantu perempuan itu lebih menakutkan dibanding hantu cowok? Padahal semasa hidupnya cowok lebih ditakuti daripada cewek?” Tanyaku iseng

“ Eiiit jangan salah, siapa bilang cowok lebih ditakuti dari cowok, emak – emak di kontrakan gue kalau lagi nyabalak cowok berkumis aja bisa dibuat mengkeret …”  Sela Adul

“ Hadeuuh, Dul ini ngomongin emak – emak apa hantu siih ?? “ Ucapku.

“ Walah ini kok malah ribut sendiri “ Pak Rohman menengahi

“ Baiklah Aku jelaskan …” Sambung Pak Rohman

“ Alasan kenapa banyak hantu perempuan dibanding laki –laki mungkin karena gaya dandanan hantu wanita lebih  modis dengan baju kurung lengan panjang atau baju putih kafan.  Sementara tuyul nggak pake baju sehingga kesannya hantu norak. Tawa khas mereka yang melengking. Bandingkan dengan Genderuwo, tawanya tak bikin orang takut, tapi bikin kesel karena kesannya fals…”

“ Yeee Bisa aja, nih Pak Rohman emang ada hantu yang ketawanya fals, pak rohman kalee kalau nyanyi suaranya fals…” Protes Adul. Pak Rohman hanya senyam – senyum sebelum melanjutkan ceritanya.

    “ Tatapan hantu wanita lebih tajam. Kembali ke dunia nyata. Tatapan wanita lebih memiliki magnet tersendiri dibanding laki-laki. Setajam apapun mereka menatap hati ini biasa-biasa saja. Coba kalau laki-laki yang terus menatap tajam, kita malah bangkit emosi seolah nantang berkelahi. Tipikal ini kemungkinan terbawa ke alam ghaib sehingga tatapan hantu perempuan lebih menakutkan dibanding hantu laki-laki. Katanya sih.  Heheheh …”  Pak Rohman siih nyeritain hantunya santai, tapii itu membuatku teringat kejadian  waktu ngumpul di kamar Pak Aston.

    “ Rambut hantu wanita yang terurai berkelebatan ditiup angin saaat melayang, semua itu membuat bulu tengkuk bulu kuduk  kita berdiri saking takutnya. Tak ayal kita sering pingsan terhipnotis oleh rasa takut yang berlebihan, kecuali saya. Hahahaha….Lalu kalau kita bandingkan dengan hantu laki-laki, kayaknya sulit mencari hantu laki-laki yang rambutnya melebihi bahu…”

“ Ya Iyalah kecuali Rocker “ Adul menyela, semua orang tertawa. Pak Rohman melanjutkan ceritanya.

“ Dari kenyataan ini dapat kita simpulkan, kaum hantu jenis kelamin perempuan lebih eksis di alam ghaib dibanding dengan hantu laki-laki karena memiliki kelebihan seperti di atas. Selain itu peluang kaum wanita menjadi hantu di alam ghaib lebih tinggi dibanding kaum laki-laki. Mereka tak ingin kalah dua kali. Di alam nyata menjadi objek kekerasan dan sebagainya, masa di alam ghaib harus terperosok dilubang kubur yang sama? Harus diakui, kebanyakan mereka menjadi hantu karena di alam nyata diperlakukan tidak patut, baik oleh kaum laki-laki, keluarga atau lingkungan. Dari sini masuk akal jika saya katakan tiori emansipasi wanita ternyata lebih diterima  di alam ghaib. Di alam nyata mungkin butuh perjuangan yang lebih masif, sistematis dan terstruktur. Kaum perempuan harus diperlakukan dengan baik, dielus-elus bukannya digampari sehingga bikin mereka sakit hati. Kaum laki-laki ke depan harus memberi kesempatan lebih luas pada mereka di alam nyata agar di alam ghaib para hantu yang berasal dari kaum kita(laki-laki)  tidak disingkirkan oleh dominasi hantu kaum perempuan. Mereka tak boleh mendominasi alam tersebut, takutnya nanti akan berlaku teori Tirani Mayoritas….”

“  Hadeuh ngomongin soal hantu saja sampai pakai teori tirani mayoritas nih Oom manajer, tapi btw saya masih belum menemukan korelasi antara tempat sepi, tempat kecelakaan orang meninggal bisa menjadi tempat angker. apa yg menyebabkan tempat sepi jadi  berhantu? apa hubungannya orang mati sama hantu? Kalau  orang  mati jadi hantu, seharusnya bumi udah penuh sesak sama trilyunan hantu- hantu  dari  jaman manusia pertama hingga jaman now ?  Kata Adul Sok tahu. Saat mereka lagi asyik ngomongin hantu  tiba – tiba handphoneku bunyi, sebuah pesan di WatsApp dari Pak Aston

“ Adi, pulang kerja nggak kemana- mana ‘kan?”

“ Nggak Pak “ Jawabku sambil memerhatikan pesan teks di handphoneku

“ Nemenin  Saya mau nggak?”

“ Kemana Pak?”

“ Menteng Pulo, Aku ada saudara yang ngontrak di sana, nah saudaraku itu baru pulang dari kampung, katanya aku dapat titipan dari kampung, jadii aku mau ambil…”

“ Boleh, pak daripada aku juga nggak ada temenya di kost-san….”

“ Ya Udah pulang kerja aku jemput yaa di depan mal, ya?”

“ Ok, Pak “ Seperti yang sudah dijanjikan Aku menunggu Pak Aston di depan mal, nggak lama dia datang dengan motor butunya, cocok sekali dengan kaos Scurity yang masih dikenakanya. Pak Aston ini perawakanya tinggi gede berkulit gelap dengan rambut agak botak. Meski begitu cewek – cewek cepet nempel kalau deket dengan Pak Aston, padahal kalau di perhatikan mah, nggak begitu ganteng, yaa cuman badanya emang tinggi besar. Mungkin itu yang jadi daya tariknya, biasanya cewek memang suka cowok yang tinggi besar, mungkiin biar bisa jadi pelindung.

“ Ayo “ Ucapnya. Aku segera membonceng di Jok belakang motornya, sebentar kemudian motor kami sudah melaju diantara lalulintas Jakarta yang riuh. Setelah melewati terowongan cassablanka kembali mataku disuguhi batu nisan dikiri kanan jalan, setahuku daerah Cassablanka ini adalah TPU terbesar yang pernah saya lihat.

“ Adi, kita lewat pemakaman yaa!? “ Ucap Pak Aston, Deg! Belum sempat aku menjawab Motor butut Pak Aston  yang membawaku sudah berbelok memasuki daerah pemakaman.

“ Kalau mau ke menteng Pulo ya harus lewat sini “ Aku tidak  menjawab, rasa takut seperti membungkam mulutku untuk memilih diam daripada bicara. Batu-batu  nissan yang tadi aku lihat dari jalan besar sekarang begitu dekat dan jelas, bahkan gundukan tanah merah. Hari mulai gelap namun mataku masih bisa melihat kuburan baru yang masih dipenuhi oleh bunga. Ingin rasanya kupejamkan mataku agar tidak melihat samping kiri kananku, tapi itu tidak mungkin. Lalu bagaimana jika ternyata yang mboncengin saya ini bukan Pak Aston, Ah aku nggak boleh berpikir macam-macam.

“ Pak…” Ucapku coba mencairkan suasana.

“ Hmmm…” Pak Aston Cuma berdehem. Jangan – jangan benar ini bukan Pak Aston, huh, ngerih !

“ Apa sih?” Ucap Pak Aston lagi

“ Tadi….” Ucapanku terputus.

“ Tadi apa?”

“Tadi kalau tahu lewat sini mah mending aku nggak ikut..”  Ucapku sedikit bergetar menahan takut.

“ Kenapa, takut ?”

“ Nggak…..” Jawabku singkat, namun baru saja aku selesai bicara tahu- tahu motor Pak Aston berhenti.

“ Aduh Di…?!”

“ Kenapa, pak?”

“ Mogok ….apa bensinya habis yaa?”

“ Lha tadi sebelum kesini nggak di cek dulu bensinya??”  Pak Aston hanya diem, dia menuntun motornya aku mengikuti dari belakang.

“ Astaga kita berada ditengah- tengah kuburan !!”  Baru saja Pak Aston selesai bicara dari arah berlawanan aku melihat iring – iringan orang menggotong keranda berjalan ke arah kami, iring – iringan itu semakin dekat, kemudian melewati kami begitu saja. Saat kami menengok ke belakang iring-iringan penggotong keranda itu sudah tidak ada. Rasa takut itu menyusup ketika aku baru menyadari bahwa tidak mungkin orang menguburkan jenazah malam – malam begini. Aku dan Pak Aston saling pandang sebelum kami melanjutkan perjalanan.

“ Di motornya kok jadi berat yaa, jangan ditarik!”

“ Siapa yang narik, Pak ….”

“Tangan kamu itu !!”

“ Oh iya “ Iya benar saking takutnya  tanpa sadar aku malah  menarik jok motor Pak Aston ke belakang bukan mendorong kedepan. Aku segera melepaskan tanganku dan berjalan di samping Pak Aston, namun angin tiba- tiba berhembus aneh, kabut dingin tau tau  turun menyusup, menyurup ke dalam pori-pori mengalir ke dalam darah membuat kami jadi kikuk dan susah bergerak, seperti berjalan ditempat.

“ Di…”

“Iya Pak ….”

“ Kok? “  Sayup- sayup diantara suara angin aku mendengar suara tangis perempuan yang lamat- lamat semakin dekat

“ Pak…Pak Aston denger  perempuan menangis nggak?”  Pak Aston hanya diem, Iya sibuk mendorong motornya, saat aku menengok ke arah kiri mataku menangkap sesosok perempuan sedang duduk di nisan semen, wajahnya menatapku aneh seperti mengharapkan sesuatu dariku, setelah menatapku perempuan itu balik menatap Pak Aston, saat menatap Pak Aston wajah perempuan itu berubah garang, aku bisa melihatnya dari bias sinar bulan yang terang malam itu, aku melihat matanya yang berkilat, rambut panjang dan wajah pucatnya.  Saat aku mengedipkan mata. Perempuan itu sudah tidak ada ditempatnya, angin berhembus dingin Aku merapat pada Pak Aston, Pak Aston sendiri seperti ketakutan.

“ Sebentar lagi kita akan sampai ke kampung sebelah “ Tutur Pak Aston. Aku mendorong motor Pak Aston lebih kuat, tapi kami seperti jalan di tempat. Perjalanan melewati pemakaman itu terasa benar- benar lama Oh, Tuhan dosa apa yang telah aku lakukan hingga aku mengalami kejadian seperti ini. Sayup – sayup aku masih mendengar  tawa seorang perempuan, tawa itu terdengar jauh. Konon kabarnya jika kita mendengar  tertawa kuntilanak yang terdengar jauh, itu artinya dia berada di dekat kita.  Cahaya lampu kampung menteng pulo sudah terlihat di depan, pak Aston semakin semangat mendorong motornya, tanpa sengaja aku kembali menengok ke kiri ketempat batu- batu nisan itu berjejer membayang di kelamnya malam, aku melihat sosok itu lagi, ya sosok perempuan yang tadi aku lihat, sesosok perempuan yang menatapku sayu namun berganti garang saat menatap sosok Pak Aston.

Akhirnya kami berhasil melewati area pemakaman yang luas itu, malam ini kami memutuskan untuk pulang pagi, kami tak berani lagi melewati pemakaman yang luas itu.

Untung saja hari ini libur, kalau nggak bisa – bisa aku tidak masuk kerja setelah semalam di ajak ke Menteng Pulo sama Pak Aston.  Aku masih memeluk guling dikamarku, masih trauma dengan kejadian semalam, memang baru kali ini aku mengalami kejadian – kejadian aneh, baru kali ini seumur hidupku melihat hantu. Setelah melihat hantu perempuan itu rasanya kamar ini jadi tempatku berlindung yang paling aman. Setidaknya aku tak lagi melihat hantu perempuan dengan wajah memelas menatapku, seolah mengharapkan sesuatu dariku, yaa aku sendiri tidak mengerti apa hubunganya aku dengan hantu itu?? Apa dikehidupanku yang dulu aku pernah berbuat salah hingga hantu perempuan itu menampakkan diri padaku? Sebuah ketukan di pintu kost- kosanku membangunkan lamunanku pada hantu perempuan itu.

“ Iyaa Siapa??”

“ Aku, Diii… Aston ! “

“ Masuk aja Pak nggak dikunci kok!”

“ Hadeuuh Perjaka jam segini masih meluk guling… Bangun ntar basah gulingnya”

“ Basah emang  ngompol “

“ Di elu nggak kerja ‘kan?”

“Nggak, Pak …!!”

“ Ikut aku yuk ?!”

“ Enggak ‘ah kalau lewat kuburan lagi “

“ Enggak kok, Di aku juga ngeri dengan kejadian kemaren. Karena itu aku mau ngajak kamu buat refreshing biar kita sedikit melupakan kejadian kemaren…”

“ Males ah , emang cewek Pak Aston kemana siiih masa tiap jalan ngajakin aku muluu….”

“ Ahhh lu Ayoo ah….” Pak Aston menarik guling yang  aku peluk, hingga mau tidak mau aku harus bangun.

“ Tapi aku belum mandi”

“ Ya udah Aku tungguin “  Setelah mandi aku kembali membonceng di jok belakang motor Pak Aston.

“Ini mau ke arah mana pak ?”

“ Sekarang kita lawan arah  dari Menteng Pulo “

“ Udahlah jangan ngomongin Menteng Pulo, Ngeriiiih” Motor Pak Aston melaju pelan melaju melewati daerah Cikoko, disamping rel kereta aku melihat perumahan warga yang sempit berjubel, Aku sendiri tidak habis mengerti kenapa orang mau empet-empetan tinggal di gang sempit begitu, bisa jadi di kampung mereka punya tanah yang lebih lega. Mungkin menurut mereka tinggal di Jakarta itu enak, nyatanya yaaa begitu.

“ Trus kemana kita ?” Tanyaku lagi

“ Apartement Kalibata aja kali yaa. Banyak makanan “

“ Boleh “ Ingatan Saya langsung melayang pada daerah Kalibata hmmmm…bukankah sebelah Apartement itu Pemakaman juga?  Jangan – jangan perempuan itu ada disana juga. ‘Ah Nggak mungkin? Kali aja tuh perempuan di kuburinya di Menteng Pulo, Soalnya dia menampakkan dirinya disitu juga. Ah bodo ah, kenapa  Aku jadi inget perempuan itu lagi. Sampai di Mal Kalibata Pak Aston segera memarkir motornya, aku inget mal ini berada dibawah apartement dan sebelah apartement ini adalah pemakaman juga, hanya saja bedanya pemakaman  disini dengan Pemakaman Menteng Pulo adalah Kalau Pemakaman Menteng Pulo Pemakaman Umum, disini adalah Makam Pahlawan.

“ Cari makan dulu aja Yaa, Di?”

“ Oke, Pak Dimana?”

“ Di Mal aja “ Kemudian Aku dan Pak Aston turun dengan Eskalator karena mal di Apartement ini adanya dibawah apartement.

“ Aku pengen ke toilet bentar nih pak…”

“ Aku juga…Yuk barengan”  Kami berjalan ke Toilet melewati fastfood dan counter-counter baju. Mal ini terlihat sepi, saat melewati gedung film aku  langkahku sempat terhenti, saat melihat  pocong berdiri nyengir ke arahku “Anjjiiiiiir “ Rutukku kirain hantu beneran ternyata itu cuma Wahana Rumah hantu yang biasa buka di mal- mal. Usai dari toilet kami melewati wahana itu lagi, ada beberapa hantu- hantu palsu yang dibiarkan berkeliaran di luar, mungkin itu sengaja dilakukan untuk menyambut tamu. Kami segera menuju food court dan pesen makanan sekedarnya. Waktu lagi ngobrol asyiik tahu- tahu seorang cewek datang menghampiri kami.

“ Bang Aston, inget Aku nggak?” Tanya Cewe itu

“ Ooh Iya, Miranti , yang jaga counter baju di mal kuningan ‘kan” Si cewe tersenyum senang menatap Pak Aston yang menurutku wajahnya menyebalkan, tapi gampang menaklukkan cewek, beda sama aku yang culun baru dari kampung.

“ Tuh inget namaku…”

“ Iya soalnya nama kamu itu gampang di inget dan sedikit horor …!”

“ Horor, sembarangan !”  Tukas Miranti

“ Lho gimana nggak Horor, coba deh …MIRANTI artinya Miara kunti !” Mereka tertawa tapi se usai Pak Aston bilang “ Miara Kunti!” Dalam Imajinasiku cewe itu berubah menjadi perempuan yang menghantui kami di Menteng Pulo kemaren.

“ Ooouugh …!”

“ Kenapa kamu Adi?”

“Oh, enggak …” Jawabku wajah cewe  itu kembali ke wajah semula, bahkan tersenyum manis padaku.

“ Iya niiih temenya, lihat aku kayak lihat kunti aja, Siapa Namanya?” Cewe itu mengulurkan tanganya padaku.

“ Adi “

“Miranti “  Sesaat hening sebelum cewe itu kembali memulai obrolan.

“ Mau coba nggak?”

“ Coba apa ?” Pak Aston balik nanya

“ Coba Wahana Hantu !” Deg ! Mendengar kata hantu kakiku seperti tak berpijak ke tanah.

“ Kenapa kamu di, wajah lu gitu amat…”

“ Enggak …nggak  papa kok, tapii ngomong – ngomong kita mau masuk ke Wahana hantu itu?”

“ Kenapa takut, masa cowok takut “ Ucap  cewek itu nyebelin, aku tahu mungkin Pak Aston juga ngerii inget kejadian kemaren, tapi demi harga dirinya di depan cewek dia mengiyakan saat Miranti mengajak kita masuk ke wahana hantu itu. Kami segera beranjak  menuju Wahana hantu yang terletak di pojokan mal. Aku sendiri merasa sok tegar. Tapi ditengah jalan aku berubah pikiran, ngapain juga nyiksa diri nonton wahana hantu kayak gitu, mending aku balik kanan saja.

“ Enggaklah Pak Aston, Akuu…aku nggak ikut aja, aku tunggu di Food court aja, lumayan kan kalian bisa berduaan di gelap-gelapan tanpa ke ganggu sama aku….”

“ Eeeh, ngomong apa siih. Emang kita mau pacaran…” Kilah Miranti

“ Hadeuh masa nggak ikut masuk, kenapa siih?”

“ Nggak duit aku bang tinggal  cepek ini belum ngambil, mana gajian masih jauh…”

“ Halah kamu kok malah malu- maluin gitu siih, soal tiket mah biar aku yang bayar “ Tukas Pak Aston.

“ Bukan itu Pak…” Aku Nggak sanggup melanjutkan ceritaku kalau beberapa hari yang lalu Aku dan Pak Aston sempat mengalami kejadian aneh saat melewati kuburan di daerah menteng Pulo.

“ Ya Udahlah…” Akhirnya Aku mengikuti mereka daripada akhirnya Pak Aston harus malu di depan miranti meskipun aku kesel sendiri. Kami sudah di dalam Wahana rumah hantu, hantu – hantu norak itu mulai mendekati kami, Miranti udah jejeritan sambil peluk- peluk pak Aston, Pak  Aston sendiri kayaknya menikmati juga, Hadeuh ini modus mereka ‘aja nih, mau indehoi di dalam rumah hantu. Aku Cuma mengikuti mereka aja, namun tiba – tiba Deg !! Perasaan takut saat di pemakaman menteng Pulo itu merasuk kembali ketika mataku  nggak sengaja melihat seorang perempuan di pojokan. Seperti biasa peremuan itu menatap datar padaku namun wajahnya terlihat garang saat melihat Pak Aston dan

Miranti berpelukan. Aku tak berani menatap ke pojokan itu, namun ketika aku menoleh ke kiri ke arah Kuntilanak gadungan itu tiba – tiba kuntilanak itu berubah menjadi perempuan itu. Rasanya aku ingin keluar saja dari rumah hantu ini, namun rasa gengsiku sebagai laki – laki menahanya. Aku diam keringat dingin mulai membasahi bajuku. Ah bodolah aku harus keluar dari rumah hantu sialan ini !!

 

Setelah kejadian di “WAHANA RUMAH HANTU “ Sialan itu aku berjanji dalam hati, untuk menjauh dari Pak Aston. Karena aku pikir tiap kali aku sama Pak Aston hantu perempuan itu selalu mengikutiku. Aku sendiri tidak tahu sejatinya siapa hantu peremuan yang sering menampakkan diri itu? Aku harus mencari tahu apa sebenarnya hubungan hantu perempuan itu denganku, kenapa Ia selalu menampakkan diri padaku, ah jangan – jangan ini semua hanya mimpi, tapi ini bukan mimpi…. ini benar- benar terjadi, aku mengalaminya.

Malam ini nggak tahu kenapa aku nggak bisa tidur, padahal besok aku harus kerja apalagi pekerjaanku sekarang di target, harus mampu menjual handphone terbaru 5 buah dalam satu minggu, kalau enggak bonus bulananku bisa dipotong, ah bodolah. Mending biar aku bisa tidur aku cari angin keluar sembari cari makan, kali aja kalau perutku kenyang aku bisa cepet tidur. Aku turun dari kamar kostku yang di atas, biasalah buat karyawan  yang penghasilanya di bawah UMR kayak aku kamar kostnya di atas, karena kamar yang di atas memang kadang lebih murah, kenapa begitu aku juga nggak tahu, mungkin karena harus manjat tangga, padahal mah kamar atas kalau misalnya musim banjir pasti lebih aman daripada kamar dibawah.

Aku keluar dari kamar melewati lorong kost- kost-an  dengan lampu yang entah kenapa redup, saya kira- lampu- lampu di lorong kost-an ini hanya 5 Watt, Hadeuh ngirit banget ini yang punya kost. Saat melewati kamar Pak Aston entah kenapa bulu kudukku merinding, angin juga tahu –tahu berhembus dingin menembus pori-pori, Aku sketika menghentikan langkahku dadaku berdegup lebih kencang, nafasku tiba- tiba sesak, aku seperti tak berpijak saat kulihat sesosok bayangan hitam berambut panjang berdiri tepat di depan kamar Pak Aston, ingin rasanya aku balik ke atas lagi ke kamarku, tapi  aku terlanjur turun. Aku terlanjur melangkah, ya aku tetap melangkah tanpa menatap ke arah pintu kamar Pak Aston. Namun aku seperti berjalan di tempat, tiba-tiba saat langkahku tepat di depan pintu Pak Aston sebuah tangan dingin memegang pundakku, aku terperanjat nyaris pingsan sebelum sebuah suara yang sudah akrab aku dengar bicara padaku.

“ Mana, lu Di malam –malam begini, diculik kuntilanak lho malam –malam keluyuran…”

“Eh, Pak Aston Kirain Siapa, keluar yuk pak cari wedang jahe…”

“ Boleh, aku juga mau ngopi, aku nggak bisa tidur, sekalian aja ngopi biar sampai pagi begadangnya. “

“ Yuk…”  Kami berjalan keluar dari lorong kost- kost-san, yang langsung tembus jalan, tidak ada halaman rumah seperti rumah- rumah di jawa, di Jakarta tanah benar- benar dimanfaatkan, daripada dibikin halaman mending dibikin kamar bisa menghasilkan duit, mungkin demikian pikiran pengusaha kost. Sampai di warung kopi, ingin rasanya aku cerita pada Pak Aston kalau di depan kamarnya tadi ada sesosok bayangan berpakaian hitam berambut panjang, tapi keinginan itu aku tahan.  

***********

Hari ini aku tidak masuk kerja karena semalam ke asyikan ngobrol begadang sama Pak Aston di Warung kopi, jarum menunjukkan jam duabelas siang ketika aku keluar dari kostku, Ketika aku keluar  melewati rumah pemilik kost, seseorang memanggilku.

“ Adiii…!! “ Aku menoleh, ternyata Om Kirno adik dari pemilik kost- kostsan 50 pintu itu.

“ Iya, Oom…”

“ Mau kemana? Ikut aku sebentar yuk ! ke mal.”

“ Mau ngapain ke mal, Oom?”

“ Mau instal ulang PC om …Kamu yang pegangin di belakang, ntar ada deeh “ Ucap Om Kirno sambil mengeluarkan motor ninjanya. Terpaksa aku nggak bisa menolaknya mengingat yang ngajak aku adik dari yang punya rumah. Usai memperbaiki komputer aku di ajak makan sama Oom Kirno di Food Court mal, saat itulah Oom Kirno tanya padaku soal Pak Aston.

“ Kelihatannya kamu deket banget Ya di Sama Aston?”

“ Ya, enggak juga siih Oom Cuma, saat pertama datang ke kost-an ini pertama kali yang aku kenal Pak Aston, jadi yaa gitu…”

“ Kamu nggak pernah denger tentang Aston yaa??”

“ Nggak Oom, emang ada apa dengan Pak Aston?”

“ Aston ituu dulunya orang bandel,lho!”

“ Bandel maksudnya, Oom?”

“ Aston itu ceweknya banyak, dimana – mana ada …”

“ Oooh…”

“ Aku sendiri juga nggak ngerti apa sih menariknya si Aston itu, sampai banyak cewek yang bertekuk lutut dibawah kakinya….”

“ Mungkin karena dia Security badanya gede “ Selaku

“ Nah itu dia, bukan ngecilin Security yaa di, gaji security berapa sih Di Paling UMR, tapii dia berani nidurin anak orang…”

“ Apa Oom nidurin?”

“ Ya, beberapa terpaksa dia nikahi, tapii ada perempuan dari menteng pulo yang sampai hamil, tidak dinikahi akhirnya bunuh diri…” Mendengar cerita Om Kirno, jantungku berdetak lebih kencang ingatanku melayang pada hantu perempuan yang menatapku aneh saat aku bareng Pak Aston. Oom Kirno melanjutkan ceritanya.

“ Perempuan itu dulu kost disebelah kamar kamu yang kosong itu….” Oh, my god ! Pantesan kamar itu tidak ada yang nempati, dan di setiap malam aku merasa aneh saat melewat kamar yang tidak di pasangin lampu itu.

“ Sebelah kamarku, Oom?”

“ Iya sebelah kamarmu…”

“ Lalu bunuh dirinya disitu juga??” Sesaat Oom Kirno terdiam

“ Bukan, dirumah orang tuanya, di Menteng Pulo….”  Menteng Pulo, ya beberapa malam yang lalu waktu aku dan Pak Aston melewati pemakaman itu, aku melihat perempuan itu.

“ Dulu perempuan itu kost di tempat kita yaa…”

“ Iya benar”

“ Oom masih punya fotonya nggak?”

“ Foto siapa?”

“ Foto cewenya Pak Aston yang meninggal bunuh diri itu?”

“ Coba yaa…” Oom Kirno, membuka – buka handphone androidnya.

“WatsAppnya sih udah aku hapus, tapi Facebooknya masih ada…”  Oom Kirno membuka akunt Facebooknya kemudian mencari nama perempuan itu di list pertemanan, sebentar kemudian dari handphone Oom Kirno aku melihat foto- foto mesra pak Aston dan perempuan itu. Saat pertama melihat wajah perempuan itu jantungku seperti berhenti berdetak Ya, wajah itu sama dengan yang aku lihat saat berada di pemakaman sama Pak Aston, beberapa malam kemaren. Aku menoleh ke kaca Jendela food court itu,sudah malam. Huuuh, di Jakarta waktu cepat sekali berlalu. Dari Jendela kaca itu tiba –tiba membayang kalau satu kilo dari tempat kita makan ini adalah pemakaman terluas di daerah Jakarta. 

Sekarang Aku  sudah tahu jawaban misteri hantu perempuan yang menatapku aneh saat aku bareng Pak Aston waktu itu, tapi kenapa hantu itu mengikutiku, aku ingin sekali cerita hal ini pada Oom Kirno tapi tidak berani, tapi memang sebaiknya aku ceritakan saja, siapa tahu ada solusi buat masalah ini.

“ Begini Oom Kirno, Aku pernah melihat perempuan di Akunt facebook itu….” Akhirnya Aku cerita Oom Kirno mendengarkanya dengan khidmad. Selesai aku cerita Oom Kirno menyarankan untuk menanyakan kejadian ini pada Paranormal, agar aku tidak di ikuti terus oleh hantu perempuan itu.

“ Dimana di Jakarta ada Paranormal Oom ?” Ingatanku langsung melayang pada Ki Joko Bodo sama Ki Kusumo, Kalau paranormalnya seperti mereka gimana aku bayarnya, beda kalau Paranormal di desaku paling dikasih rokok sama kopi beres. Tapi bukankah Ki Joko Bodo dan Ki Kusumo itu paranormal selebritis.

“ Di Tebet Barat ada Di, dia Paranormal dari Banten….”

“ Aduuh, Oom buat makan aja nggak ada gimana, buat ke Paranormal?”

“ Nanti Oom Kirno bantu….”

Akhirnya dengan Bantuan Oom Kirno, malam itu juga kami ke Tebet Barat untuk ketemu paranormal namun orangnya lagi keluar kota di undang oleh pasien. Akhirnya kami putuskan untuk pulang, saat masuk ke lorong kost- kosant bulu kudukku merinding karena aku tahu dari Oom Kirno, kalau sebelah kamarku itu adalah kamar perempuan mantan pacar Pak Aston. Saat melewati kamar itu aku mencoba untuk tenang namun perasaan aneh tetap menghantuiku, hawa dingin entah darimana tiba- tiba menyusup ke pori-pori kulitku, sesosok bayangan hitam berkelebat dari lorong sebelah berhenti tepat di depan jendela kamar itu. Rasa takut dan rasa penasaran berperang dalam diriku, Aku berpikir kalau aku takut aku bisa tidur di luar, bagaimanapun untuk bisa sampai ke kamarku aku harus melewati kamar itu. Aku paksakan diri menengok ke arah kamar itu tapi tidak ada siapa-siapa, dengan keyakinan penuh aku masuk kedalam kamarku, karena dari dalam lubuk hatiku aku berkeyakinan bahwa hantu itu tidak akan menggangguku, Ia seperti butuh sesuatu dariku, nah itu dia? Dia butuh apa dariku aku tidak tahu?

Aku tak bisa memejamkan mataku, kemaren aku sudah tidur pagi, kalau malam ini aku harus terjaga dan pagi baru tidur aku bisa di pecat dari pekerjaanku karena tidak masuk kerja lagi.  Jam menunjukan satu dini hari karena kelelahan aku seperti dalam keadaan trans antara tidur dan sadar , Oh, my dog ! Saat itu aku melihat perempuan itu tersenyum tepat berdiri disamping lemari bajuku, sebelum aku benar-benar tertidur aku sempat melihat  Ia tersenyum padaku  tak ada kesan seram dari wajah perempuan itu.

Aku mulai biasa dengan hantu perempuan itu, sebodo teuing lah, yang penting aku tak pernah merasa punya salah dengan perempuan itu.

***** ******* ****

Sekarang Aku mau tanya pada Pak Aston pitak yang ke gantengan , yang katanya tukang nidurin perempuan itu. Tapi, sudah beberapa hari ini kamarnya tutup. Kebetulan sekali waktu aku pulang kerja ketemu di mal , dia juga masih pakai seragam security, sepertinya dia belum pulang.

“ Mana aja lu Di?”  Tanyanya padaku.

“ Yee.. Justru beberapa hari ini aku nyari Pak Aston, nggak ketemu “ Ucapku.

“ Kalau gitu kita ngopi yuk di kantin…”

“ Ayoo…”  Kemudian aku dan Pak Aston ke kantin belakang mal, kantin ini adalah kantin murah –meriah itu.

“ Pak Aston…” Ucapku

“ Iyaa…..”  Aku membuka handphondne android  membuka facebook dan mencari akunt bernama Nonni, dan menunjukkan pada Pak Aston.

“ Pak Aston kenal Nonni nggak?” Ucapku pelan, namun seperti guntur di telinga Pak Aston. Pak Aston menatapku entah marah atau sedih , aku melihat kerutan kening yang lebar itu mengkerut.

“ Tahu dari mana kau akunt itu ??” Pak Aston balik nanya, sepertinya dia marah. Aku diam sebelum kembali bicara.

“ Maaf Pak…. Saat kita melewati pemakaman menteng pulo tempo hari aku melihatnya…” Sesaat hening, suasana tiba- tiba menjadi kaku dan aku merasa bersalah.

Sejak saat itu aku jarang melihat Pak Aston, Ia seperti menghindar dariku. Bahkan nyaris dua minggu aku tak pernah mbonceng motornya lagi, Aku tak lagi duduk dibelakang motor laki-laki berseragam security dengan aroma parfum yang disukai cewek-cewek itu. Bahkan saat berangkat kerjapun dia seperti menghindar, kalau nggak pagi sekalian, yaa berangkatnya lambat. Sampai satu ketika aku ketemu Pak Aston di  Depan  Mal, nggak jauh dari counter tempatku bekerja.

“ Kamu udah pulang Di?” Tanya Pak Aston basa – basi.

“ Udah …” Jawabku sambil berjalan di sampingnya.

“ Siapa yang ngasih tahu kamu soal Nonni?” Sebenarnya aku tidak ingin menjawab, tapi Pak Aston menatapku sedemikian rupa.

“Aku melihatnya !” Jawabku singkat namun seperti petir yang menyambar Kepala Pak Aston.

“ Melihatnya?”

“ Iya, Pak Aston inget waktu malam – malam kita melewati pemakaman di Menteng Pulo?”

“ Iya Kenapa?”

“ Aku melihat Perempuan yang di Akunt Facebook itu, duduk di batu nisan sambil menatapku aneh …”  Langkah Pak Aston terhenti, Ia seperti coba untuk menenangkan diri.

“ Sebaiknya kita Duduk dulu Di, Kita ngopi dulu di warung itu, sambil ngobrol disitu….” Kami menepi dipinggir trotoar, ada bangunan seperti gubuk kecil yang di pakai buat warung. Waktu aku menengok ke kanan – kiri , warung itu tepat di pinggir TPU Menteng Pulo Anjiiiiiiiiiir, Aku baru menyadari kalau Aku dan Pak Aston ngobrol sambil jalan sampai nggak sadar sampai di pinggir makam.Belum hilang rasa ngeriku Pak Aston sudah pesen kopi sama yang punya warung

“ Mak  kopi dua, yaa…” Aku tak habis pikir kenapa adaaa aja warung dipinggir kuburan kayak gini.

Tanpa menoleh emak- emak setengah umur itu mengulurkan kopi ke Pak Aston, Kapan nyeduhnya pikirku, Ah kali aja aku terlalu banyak melamun sampai-sampai aku tak tahu kapan emak- emak itu menyeduh kopinya. Tapi ketika aku perhatikan wajah perempuan penjual kopi itu tertutup rambut panjangnya, dan lagi hari mulai petang, lampu warung yang kira- kira hanya 10 Watt itu menyulitkanku untuk mengenali emak- emak  penjual kopi itu, dan lagi ngapain juga aku memperhatikan wajah emak- emak itu  hadeuhh.

“ Tadi sampai mana ceritanya? “ Suara Pak Aston memecah hening. Aku memandang sekeliling tampak gundukan tanah dan batu nisan membayang di antara temaram lampu jalan yang mulai dinyalakan.

“ Nggak salah nih kita disini “ Bisikku Pada Pak Aston, sketika udara menjadi dingin kabut seolah menyelimuti tempat itu. Sayup – sayup dari jauh aku mendengar perempuan menangis di antara desau angin yang membuat bulu kudukku berdiri.Tawa perempuan itu semakin kencang. Tau tau emak – emak penjual kopi itu sudah tidak ada di tempatnya, warung itu berubah menjadi cungkup  dan bangku tempat kami duduk ternyata  semen bangunan yang ada dipinggiran  kuburan. Pak Aston security yang katanya gagah perkasa itu ketakutan tanganya yang besar merangkul  pundakku.

“ Di itu Nonni …” Pak Aston menunjukkan jarinya, aku melihat perempuan di atas nisan, tubuhnya melayang dengan sorot mata yang tajam menatap bengis ke arah Pak Aston. Pak Aston menarik tanganku, kami lari tunggang langgang ke luar dari area pemakaman. Sampai parkiran mal Aku dan Pak Aston terduduk lemas di bangku.

“ Pak…Boleh aku tanya satu hal?”

“ Iya, Di kamu mau tanya apa?”

“ Apa yang sudah Pak Aston lakukan sama Nonni ?”

“ Aku menghamilinya, dan Nonni ingin aku menikahinya, tapi aku tidak bisa. Aku sudah menikahi dua wanita, satu di kampung, satu disini, lalu….”

“ Lalu apa Pak ? “

“ Noni Bunuh Diri….” Sesaat hening sebelum Pak Aston melanjutkan ceritanya.

“ Nonni memilih mengakhiri hidupnya karena merasa hina sudah berbadan dua…..”  Aku dan Pak Aston sama- sama Diam, entah kenapa parkiran yang terletak di bawah mal itu tau – tau juga sepi.

“ Ya sudah kalau gitu mending kita pulang saja “ Ucapku pelan, Pak Aston bangkit dan kami berjalan menuju motornya.    Beberapa karyawati dan karyawan mal yang bawa motor berseliweran di parkiran itu, entah halusinasiku atau nyata aku melihat SPG yang menuntun motor itu wajahnya berubah menjadi perempuan itu, menjadi nonni, pacar Pak Aston yang yang meninggal bunuh diri. Aku melihatnya dengan jelas Ia tersenyum padaku.

Aku segera naik di jok belakang motor Pak Aston. Motor itu segera meluncur meninggalkan gedung mal, melaju menembus kelamnya malam. Saat motor kami menembus terowongan Casablanka aku melihat sesosok perempuan berbaju putih melayang dari atas jembatan Casablanca, Menukik turun, berdiri tepat berada di tengah jalan menghadang motor kami, sempat aku melihat perempuan itu adalah pacar Pak Aston yang mati bunuh diri, perempuan yang sering menampakkan wujudnya itu kali ini berwajah garang, seperti ingin membalas dendam atas kejadian yang menimpa semasa hidupnya karena Pak Aston. Pak Aston kebingungan Ia membanting setirnya ke kanan, motor itu oleng menubruk motor disampingnya, dan ditabrak motor yang melaju kencang dari belakang. Aku terpental ke udara, hal terakhir yang aku ingat sebelum aku pingsan adalah perempuan itu menangkap tubuhku yang melayang sebelum menyentuh tanah, Ia seperti menyelamatkanku, sementara Pak Aston. Aku tidak tahu apa yang terjadi denganya tahu – tahu aku sudah berbaring di rumah sakit. Satu hal yang aneh saat aku siuman aku merasa sehat, tak ada sedikitpun luka ditubuhku, padahal kabar yang aku dengar dari dokter dan orang-orang yang menjengukku, itu adalah kecelakaan beruntun. Aku masih berbaring di kamar ICU  Di Rumah sakit, meski aku merasa sehat, sayup- sayup dari kejauhan aku mendengar  lantunan Adzan maghrib, kamar rumah sakit ini dingin dan sepi hanya korden warna putih yang bergerak-gerak tertiup angin dari AC diruangan itu. Dinginya AC membuat mataku mengantuk saat mengalami trans antara sadar dan tidur aku melihat Pak Aston dan Nonni berdiri berdampingan mereka tersenyum hangat padaku, wajah mereka pucat dibalut kain putih tanpa jaitan.  terbangun saat Arman dan Aldo teman kost menjengukku. Mengabarkan kalau Pak Aston meninggal, Oh Tuhan lalu siapa yang barusan menemuiku.

Senja temaram ketika kami mengantarkan Pak Aston di peristirahatan terakhir nya di TPU  Menteng Pulo. Satu persatu  pengantar jenazah, meninggalkan gundukan tanah merah dimana jazad Pak Aston disemayamkan. Sekarang tinggal aku, Ibu Pak Aston dan Istri tua Pak Aston yang dari kampung.

“ Adik temanya Aston?” Ucap wanita tua

“ Iya, Bu …”

“ Terimakasih yaa, nak sudah jadi teman Aston, maafkan almarhum jika ada salah”  Aku hanya tersenyum sebelum kedua orang tua dan istri Pak Aston meninggalkan area pemakaman.

“ Pak Aston, Maafkan jika selama hidup Aku belum bisa jadi teman yang baik. Aku tidak menyangka Pak Aston pergi secepat ini. Tapii Aku yakin sekarang Pak Aston sudah tenang di sana bersama Nonni, Selamat jalan….” Aku beranjak meninggalkan gundukan tanah merah yang dipenuhi bunga itu, setelah beberapa meter entah kenapa aku menengok kembali ke belakang, ke arah makam Pak Aston. Di sana aku melihat Pak Aston dan Nonni berdiri berdampingan tersenyum padaku, seolah ingin mengucapkan kata Selamat Tinggal.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *