Blog

Tuhan Yang Kesepian – Bidah

Ia adalah inang dari segala perselisihan, pertikaian, dan lumur darah. Kata “sesat” dan “kafir” terlahir dari inang ini. Bidah adalah kebaruan dan kreasi baru, tetapi kemudian bidah adalah segala yang tidak memiliki dalil (Al-Quran dan hadis)-nya.
Dalam sejarahnya, kata bidah menjelma menjadi bom atom pada abad ke-13 sampai abad ke-14 bersamaan dengan gerakan Wahabi di Saudi Arabia. Gerakan yang mengatasnamakan pemurnian, pemurnian dari segala apa yang dituduhnya sebagai bidah dalam agama. Banyak makam para wali yang dihancurkan karena diduga sebagai sumber segala yang syirik dan khurafat. Bahkan, makam Bakah, tempat Nabi Muhammad dan para sahabat dimakamkan, juga hendak diratakan. Untung saja kebijakan Penguasa Saudi mendapatkan perlawanan dari banyak negara, termasuk dari Indonesia sendiri.
Dikabarkan beberapa ulama Indonesia dari kalangan NU telah mengirimkan utusannya yang isinya adalah   untuk mencegah tindakan menghilangkan makam Nabi Muhammad dan para sahabat itu. Dan, bisa dibayangkan kalau kita umat Islam tidak memiliki makam itu. Kita tidak bisa merayakan apa itu ziarah.
Banyak orang tidak memahami makna yang begitu penting dari makam dan ziarah. Mungkin bagi orang-orang Wahabi, yang kini mulai banyak mendapatkan pengaruh lewat baju politik itu, sebuah makam hanyalah liang tempat jasad dikubur. Tidak ada guna dan manfaat.
Karena kata bidah itulah banyak ulama dan sufi yang dianiaya dan dibunuh. Banyak makam wali dan ulama yang dihancurkan. Ada penghancuran yang sangat hebat terhadap tempat-tempat suci. Dan, kalau tidak karena reaksi dari kalangan internasional, makam Nabi Muhammad pun akan dimusnahkan.
Apakah dalam Al-Quran ada kata bidah?
Kalau kita mau menelesiknya, kita akan mendapatkan kata ibtadâ yang merupakan bentuk kata kerja dari kata bidah. Apa yang dimaksudkan dengan kata bidah dalam Al- Quran itu berkenaan dengan ajaran Kristen, yakni sebuah teguran tentang kerahiban dan ketuhanan Yesus. Keduanya dinyatakan sebagai suatu yang  mengada-ada.
Akan tetapi, dalam perjalanan sejarah perkembangan Islam, kata bidah berarti segala apa yang tidak ada dalam Al-Quran dan As-Sunnah, apa yang tidak dilakukan oleh Nabi Muhammad ketika beliau masih hidup. Jika demikian, terlalu banyak bidah yang ada dalam tubuh umat Islam, dari masalah memakai tasbih, meneropong bulan, masjid memakai kubah dan menara, koko, peci putih, peringatan Nuzulul Quran, dan seterusnya karena semuanya tidak ada dalil harfiahnya dari Al-Quran dan hadis.
Mushaf Al-Quran sendiri sesungguhnya bisa dikategorikan bidah kalau kita menggunakan cara berpikir yang sama dengan kaum Wahabi itu. Bukankah Nabi Muhammad tidak pernah  menulis Al-Quran?
Kita tahu bahwa rintisan pembukuan Al-Quran itu awal mulanya diusulkan Umar bin Khattab. Saat itu Umar bin Khattab belum menjadi khalifah. Beliau menyaksikan banyak sahabat yang hafiz Al-Quran terbunuh dalam pertempuran. Karena kejadian hebat pada perang memerangi gerombolan Musailamah Al-Kadzab pada masa Khalifah Abu Bakar itulah, Umar bin Khattab dengan segala keberanian mengusulkan bidah.
Mengusulkan bidah? Faktanya memang demikian. Dan, karena bidah yang diusulkan Umar itulah, Islam bisa berkembang pesat.
Begitu juga dengan tradisi shalat Tarawih berjemaah selama satu bulan Ramadan, membayar zakat bagi tanaman padi, perayaan tahun baru Hijriah, di antaranya adalah kreativitas (bidah) Umar bin Khattab.
Orang-orang yang menghendaki pemurnian Islam secara harfiah akan mengatakan bahwa semua ibadah harus ada dalilnya, kalau tidak maka sesat. Bisa jadi mereka adalah orang-orang yang sedang membalikkan jarum jam sejarah. Namun, itu adalah tindakan yang nyaris naif dan karenanya tidak akan berhasil.
Benar ada sebuah kaidah ushuliyah (kaidah dasar fikih) yang sangat populer yang mengatakan, “Ibadah itu asalnya haram, kecuali ada dalilnya” Kalau tidak ada dalilnya, hukumnya bidah dan sesat.
Pandangan semacam itu juga dibangun di atas landasan bahwa ibadah itu milik Allah semata. Hak istimewa Allah. Dialah yang menentukan bagaimana caranya  disembah.
Padahal, kalau kita mau membaca Hadis Qudsi, dikisahkan bahwa Allah murka kepada Nabi Musa a.s. karena dia telah menghardik dan menuduh seorang penggembala yang ada di tengah padang gurun yang memuji Allah dengan caranya sendiri. Begitu intim dan dekat.
Kemudian, orang-orang dari kelompok ini juga akan memerangi segala cara berpikir yang dinilainya mengandalkan rasio (akal) dan filsafat. Menurut mereka, filsafat adalah bidah karena merupakan warisan Yunani yang pagan. Padahal, kalau kita mau jujur dan menyadari, ilmu Ushul Fiqh itu adalah hasil kreasi (bidah) para ulama klasik yang bersandar pada kaidah-kaidah filsafat (logika) dan model penetapan hukum lewat qiyas yang diperkenalkan Imam Syafii itu juga bidah.
Oleh karena itu, membicarakan bidah dalam agama itu sungguh suatu yang paradoks dan absurd. Alasannya, sudah pasti tidak punya pijakan yang jelas, kecuali pada soal-soal ketauhidan, dan mungkin, keulamaan yang bergaya Yahudi. Dalam Kitab Suci, lewat kisah tentang Nabi Isa a.s., kata bid- ah dipakai untuk sebuah kerangka berpikir tauhid (pengesaan agar tidak terjadi syirik sebagaimana dalam kasus penuhanan Isa).
Bidah bisa jadi sebagai sebuah proses berpikir kreatif (reasoning/ijtihâd) dan ini sesungguhnya sesuatu yang   diperintahkan. Dengan bidah pula sesungguhnya agama Islam mengalami kemajuan-kemajuan yang luar biasa. Dan, Islam menyebar ke seluruh dunia berkat kendaraan atau peranti bidah.
Kalau bukan karena bid’ah, umat Islam tidak akan pernah menerobos Jazirah Arab dan menguasai dunia selama tujuh abad lamanya. Kalau kita mau teliti kembali, sejarah emas umat Islam yang dulu jaya itu adalah disebabkan mereka gemar melakukan bid’ah (kreatif dan inovatif).
Para ulama yang berpikiran moderat akan mengatakan bahwa tidak semua bid’ah itu sesat. Ada bid’ah yang baik, seperti tarawih, tadarus (pada zaman Nabi Muhammad, Al-Quran belum dibukukan), mudik, peringatan Nuzulul Quran, dan lain-lain.
Bid’ah itu dikatakan baik karena justru mengukuhkan sendi-sendi agama dan keberagamaan: kegiatan-kegiatan yang membuat syiar Islam menjadi berkibar adalah contoh bid’ah yang harus didorong. Adapun bid’ah yang sesat, seperti menuduh kelompok dan mazhab tertentu sesat, adalah bid’ah yang harus ditentang. Begitu juga dengan bid’ah menjual dan memperjudikan agama demi kepentingan dan keuntungan duniawi yang kecil, kekuasaan lewat partai, umpamanya, adalah bid’ah yang harus diperangi.
Dengan begitu, bid’ah sesungguhnya justru bisa dikatakan menjadi kekuatan kreatif dan inovatif juga dinamis bagi kemajuan umat Islam.

Penulis: Tasirun Sulaiman

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: