Blog

Tuhan Yang Kesepian – Impor

Yang impor sering menjadi kegandrungan. Mentalitas bangsa kelas dua acap menjadikan bangsa ini pengimpor apa saja, tidak hanya produk dan barang, tetapi juga sikap dan keyakinan beragama dan budaya. Padahal, yang impor itu bisa saja sesuatu yang palsu, seperti produk dan barang yang dimanufaktur di Pasar Rungkut, Surabaya, lalu menjadi oleh-oleh haji.
Islam lokal?
Mungkin Anda pernah mendengar kata-kata itu. Kemudian, kita pasti terkaget-kaget, kok, ada Islam lokal. Memangnya Islam produk mana?
Ada yang berang ketika seorang teman saya berkomentar beberapa bulan yang lalu bahwa Islam yang dia anut adalah Islam lokal, Islam indigenous yang tumbuh, mengakar, dan berkembang di bumi Nusantara, khususnya di Tanah Jawa. Dan, mungkin juga ada yang berpikir dengan Islam-nya yang Padang, Kalimantan, dan Sulawesi. Islam yang mengakar pada budaya dan Islam yang menjadi kekuatan budaya. Bukan sebaliknya, Islam yang menjadi kekuatan destruktif bagi budaya yang sudah ada dengan alasan bidah atau sesat.
Saya dan Anda mungkin akan bertanya: adakah Islam yang murni? Islam genuine? Islam yang asli tidak tercampur oleh unsur-unsur asing, unsur-unsur yang datang dari yang non-Arab?
Dan, mungkinkah Islam pada zaman Nabi masih hidup itu adalah Islam yang genuine? Islam pada zaman sahabat adalah Islam yang genuine sehingga kita harus meng-copy-paste?

Saya dan Anda mungkin menduga karena alasan itulah ada sekelompok orang mengajak kembali mengikuti pola kehidupan zaman Nabi Muhammad dan sahabat?
Mudah-mudahan ajakan mereka itu tulus dan tanpa pamrih karena seperti yang sering terjadi, mereka itu sebenarnya sedang merekayasa kendaraan politik. Mereka ingin membuat pasar. Lebih dari itu mereka melihat umat sebagai bilangan yang tambun itu harus dimanfaatkan. Ujungnya mereka berpikir dan mengira kalau kekuasaan itu dengan mudah dapat diraih!
Memang mereka kadang berhasil. Namun, sejauh kita amati umurnya tidak lama. Paling banter satu kali pemilihan umum. Sesudah itu ditinggalkan.

Sadarkah kita bahwa Islam hadir bukan serta merta datang dari langit yang rapuh dan jatuh ke sebuah dataran yang tandus? Ia tidak hadir dalam sebuah wilayah yang kosong budaya, tetapi ia datang sebagai jawaban atas budaya yang ada meski ia juga sekaligus menawarkan resep untuk masa depan, menawarkan resep untuk budaya manusia yang terus bergerak ke ujung senja peradaban manusia.
Kita tahu bahwa Jazirah Arab dengan segala budayanya yang ada: suka berperang, suka merampas wanita, suka membunuh, suka menjarah, dan suka budaya kekerasan itu menjadi setting budaya tempat Islam turun. Oleh karena itulah, di dalamnya kemudian terdapat jawaban bagi persoalan-persoalan serupa.
Di sisi lain, kita juga pernah mendengar bahwa agama Islam ini sebenarnya juga merupakan kelanjutan dari agama-agama samawi sebelumnya. Lalu, saya dan Anda kadang terusik oleh pertanyaan adakah penganut Kristen dan Yahudi di Mekah menjelang datangnya Islam yang dibawa Nabi Muhammad? Mengapa Islam menamakan dirinya sebagai agama kelanjutan dari Yahudi dan Kristen? Adakah ajaran-ajaran sebelumnya juga terkandung dalam Islam?

Dari situ kita akan menyadari kalau Islam bukanlah sesuatu yang jatuh seperti sebuah serpihan suci dari langit. Suci murni yang terbebas dari pengaruh yang ada di bumi.
Bangsa Arab sendiri, seperti dicatat oleh sejarah, merupakan bangsa yang memiliki peradaban relatif rendah. Setidaknya, itu karena bangsa Arab masih menjadi bangsa nomaden meski Kota Mekah sudah menjadi kota yang banyak dikunjungi suku-suku di Jazirah Arab sebagai kota suci.
Sebagai agama yang datang pada sebuah bangsa dengan budayanya yang ada, Islam hadir dengan nilai-nilai baru. Nilai-nilai baru inilah yang disebutnya sebagai nilai Islam. Banyak budaya Arab yang masih dipakai sebagai bajunya, tetapi nilainya diubah. Oleh karena itu, Islam di sini berperan sebagai pengubah nilai. Orang modern mungkin akan mengatakan bahwa Islam hadir sebagai kekuatan transformasi nilai dalam sebuah budaya.
Berkenaan dengan ini, kita bisa mengambil contoh pada ritual haji dengan segala tahapannya (tawaf, sai, berkurban, dan lain-lain). Ritual ini sudah dilakukan oleh bangsa Arab sebelum datangnya Islam.
Dari segi-segi itulah, kita bisa memahami bahwa komentar teman saya tentang Islam lokal yang dianutnya tidaklah salah. Di Nusantara banyak sekali budaya lokal yang kemudian mengalami transendensi (penggeseran) nilai. Dan, itu dilakukan dengan cara-cara yang luwes dan damai.
Salah satu contohnya adalah budaya sungkem pada saat Idulfitri.

Kita tahu bahwa Nabi Muhammad tidak pernah sungkem kepada ibu dan bapaknya. Bukan saja karena keduanya meninggal sebelum kenabian, melainkan beliau juga tidak pernah memerintahkan kepada para sahabatnya untuk melakukan sungkem.
Akan tetapi, orang lupa kalau Nabi Muhammad itu memerintahkan agar seorang anak berbakti dan berbuat baik kepada ibu dan bapaknya. Dan, perintah ini juga ditegaskan oleh Al-Quran. Bahkan, ada para ulama yang mengatakan bahwa jika di ajaran Yahudi dan Kristen ada Ten Commandements, dalam Islam menjadi Eleven Commandements, yakni ajaran berbakti kepada kedua orangtua!
Sesungguhnya komentar teman saya itu dapat menyadarkan kita semua agar bisa memilah-milah mana Islam yang baju dan mana Islam yang nilai. Sebagai sebuah nilai, Islam itu sangat universal. Namun, sebagai sebuah budaya, Islam sering dicemari oleh yang berbau Arab.

Terbukanya keran globalisasi pasca-kejatuhan rezim Soeharto telah memunculkan Islam impor, Islam yang sering disebut sebagai transnasional. Islam impor yang meng- ajak untuk menjadikan budaya Arab sebagai budaya Islam; memelihara janggut, memakai cadar, dan mengenakan gamis. Mereka juga hadir dengan sikap-sikap ekstrem, seperti mengajak kembali ke Al-Quran dan As-Sunnah secara harfiah, yang sebenarnya adalah Islam yang direspons dalam kungkungan budaya Arab.
Oleh karena itu, pandangan teman saya itu sebenarnya memberikan kita masukan yang berharga bahwa Islam itu sebenarnya tidak ada yang genuine! Islam itu tidak ada yang asli! Islam adalah hasil perpaduan antara yang di bumi dan di langit, atau yang di langit dan di bumi.
Islam yang dicontohkan pada masa Nabi Muhammad dan sahabat adalah Islam yang dipertemukan dengan budaya Arab. Di situ ada hal-hal yang bersifat kearaban dan keislaman.
Islam sebagai sebuah sumber nilai yang mampu mengatasi ruang-ruang budaya itulah Islam yang genuine, Islam yang original. Dan, Islam inilah yang kemudian memberikan kekuatan dan dinamika bagi perkembangan semua budaya manusia.
Saya dan Anda pasti sepakat bahwa jika semua harus diukur dengan budaya zaman Nabi Muhammad dan sahabat, serta dengan budaya orang Arab, keberadaan Islam sebagai sumber nilai yang universal telah dipasung.

Penulis: Tasirun Sulaiman

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: