Blog

Tuhan Yang Kesepian – Lauh Mahfuzh

Ia buku yang terjaga. Buku yang segala catatannya benderang dan tegas. Ia mencatat segala sesuatunya dengan detail tentang kebaikan dan keburukan yang bakal didapati hamba-hamba-Nya.
Lauh mahfuzh sebenarnya menjadi konsep dasar semua agama, baik yang samawi maupun yang budaya. Dengan mudah kita bisa melihat dalam film Ten Commandments dan film-film agama Hindu dan Buddha. Dalam film agama-agama samawi kita melihat bahwa lauh mahfuzh itu lempeng yang terbuat dari batu. Di atas lempeng-lempeng itulah semua data atau rekaman semua nasib dan takdir manusia tertulis. Kata “lauh” karenanya dipahami banyak agama samawi sebagai kitab yang terbuat dari lempeng-lempeng batu itu. Ia bisa serupa prasasti.
Dalam film kisah Nabi Musa a.s., setelah keluar dari Mesir dan berkhalwat (semadi, sekluse) selama 40 hari di puncak Gunung Sinai untuk menerima perintah Tuhan, Nabi Musa a.s. keluar sembari menenteng lauh itu. Ada dua bilah lauh yang di atasnya tertulis (pahatan) perintah Tuhan yang sepuluh (Ten Commandments). Dalam film itu diperlihatkan Tuhan menulisnya sendiri berupa kilatan petir.
Bangsa Mesir dan bangsa di Nusantara dahulu menuliskan segala informasi tentang kehidupan mereka di atas lauh ini. Bangsa Mesir menggunakan tulisan yang kemudian diketahui bernama Hieroglif, sedangkan bangsa di Nusantara dengan huruf-huruf Paku atau Pallawa. Begitu juga bangsa Yunani dan Romawi. Tulisan-tulisan di atas lauh inilah yang bisa memberikan informasi tentang sejarah bangsa-bangsa.
Barangkali karena alasan-alasan budaya yang diterima seperti itulah, para ulama klasik kemudian menerjemahkan kata “lauh” dengan ‘lempeng batu’ itu. Dalam bahasa Inggris kata “lauh” sering diterjemahkan sebagai ‘tablet’ sehingga ada istilah Tablet of Ten Commandments.
Akan tetapi, kalau kita mau melihat budaya bangsa China yang dikenal memiliki peradaban lebih tua dan cukup tinggi, kata “lauh” diterjemahkan ‘kitab’, kitab yang tersusun dari lembar-lembar kertas. Kita tahu bahwa bangsa China adalah bangsa yang kali pertama menemukan kertas. Dalam budaya itu dapat kita saksikan adanya roda nasib atau takdir (wheel of Gods) yang ditunggui para dewa (Gods) sembari mereka mencatat takdir manusia. Kemudian, ada sebuah gudang yang di dalamnya terdapat buku-buku catatan nasib dan takdir yang dijaga oleh dewa-dewa. Dalam film kocak Sun Go Kong, gudang itu diubrak-abrik dan diubah seenaknya hingga muncul kekacauan di bumi.
Dari situ kita bisa mafhum bahwa lauh mahfuzh itu adalah sebuah konsep universal dalam agama-agama yang di dalamnya tertulis rancangan besar Tuhan/Dewa-Dewa tentang nasib dan takdir manusia. Rancangan-rancangan itu kadang sering diterjemahkan oleh beberapa ahli sebagai grand-design (takdir). Namun, dengan kata grand design itu kita bisa mendapatkan kesan masih terbukanya kemungkinan terjadi perubahan bagi nasib seseorang, “fate”.
Dalam pandangan ajaran Islam, pada akhirnya lauh mahfuzh melahirkan konsep teologi Jabariah (pre-determined) yang mengatakan bahwa manusia itu nasib dan takdirnya sudah ditentukan di alam sana. Nasib dan takdir ini tidak akan bisa diubah baik oleh dukun-dukun dan paranormal, meskipun mereka meminta bantuan kepada para setan ataupun jin dan makhluk-makhluk gaib. Dan, kita kadang menyaksikan ada kiai-kiai atau ustaz yang mengaku memiliki khadam, jin, atau makhluk lain yang bisa membantu memperbaiki dan mengubah nasib kita. Padahal, semuanya hanya kibulan belaka.
Dan, hanya doa serta keyakinan dirilah yang bisa mengubah nasib dan takdir itu, seperti yang dikatakan Nabi dalam sebuah riwayat tentang lauh mahfuzh.
Bagi orang modern yang memercayai bahwa manusia adalah sebaik-baik ciptaan dan manusia juga diberi akal dan kehendak, manusia bisa berlaku otonom dan independen. Manusialah yang membuat dan merancang nasib dan takdirnya sendiri. Paham ini kemudian dikenal dengan paham Qadariah  (free-will).
Dan dari keduanya, manakah yang benar?
Saya sendiri memahami bahwa manusia memang mempunyai otonomi dan independensi (kemerdekaan),   tetapi tetap saja Tuhan kadang juga ikut campur (intervensi) untuk menyatakan secara tidak langsung, “Ini, lho, ada Aku. Aku Tuhan dan Mahakuasa.”
Saya dan Anda akan dengan mudah memahaminya lewat karya Sidney Sheldon yang berjudul Perfect Plan (Rencana yang Sempurna). Namun, selalu ada celah terjadinya kegagalan.
Saya dan Anda pasti sadar kalau korupsi Wisma Atlet dan Hambalang itu sudah direncanakan dengan detail dan sempurna. Namun, siapa yang menduga akhirnya berantakan dan menjadikan sebuah partai jatuh dan ambrol reputasinya?
Jawaban yang pasti adalah Tuhan!
Tuhan suka ikut intervensi dalam urusan hamba-hamba-Nya juga.
Lauh mahfuzh berkaitan dengan Al-Quran. Di dalam Al-Quran terdapat berbagai kisah umat manusia (sejarah) yang sebelumnya sudah dirancang dan direncanakan oleh Tuhan dengan detail. Rancangan itu akan menjadi skenario besar terjadinya segala peristiwa di muka bumi ini.
Saya tidak setuju bahkan terganggu kalau ada orang mengatakan bahwa cerita-cerita di dalam Al-Quran itu hanyalah mitos, legenda, dan fiksi! Mengapa demikian? Karena dengan mudah kita bisa mengetahui kalau sekarang ini fakta-fakta arkeologis telah mendukung kebenaran apa yang diceritakan Al-Quran. Faktanya ada, seperti kejatuhan Romawi, Ashabul Kahfi (7 Sleepers), jasad Firaun, dan kuburan para nabi.

Memang, hingga saat ini ketika ilmu pengetahuan diklaim sudah mencapai puncaknya, toh, belum banyak yang bisa diungkap. Padahal, sekarang ilmu pengetahuan sudah mengalami masa-masa senja kala sebagaimana dikatakan John Horgan.
Dalam lauh mahfuzh rekaman-rekaman yang berupa rencana besar itu sering dipahami sebagai buku catatan yang terjaga (kitab maknun) dan buku yang detail (kitab mubin). Namun, seiring dengan kemajuan dan temuan-temuan mutakhir ilmu pengetahuan, orang memahami lauh sebagai sebuah kecanggihan yang luar biasa. Pada awal 2000, orang sudah mulai menerjemahkan “lauh” dengan “disk”. Dan, sekarang orang bisa menerjemahkannya dengan tablet, komputer tablet (bukan tablet yang berupa lempeng-lempeng batu lagi).
Begitulah, kehebatan Al-Quran dan Islam sesungguhnya merupakan respons bagi segala persoalan hidup manusia termasuk kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun, sayangnya Islam sering menjadi usang, mundur, dan beku (jumud, obsellete, out of date) karena perilaku para pemeluknya sendiri.

Penulis: Tasirun Sulaiman

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: