Blog

Tuhan Yang Kesepian – Ummy

Kitab Mulia itu diturunkan kepada hamba yang ummy. Dan, ingatlah ketika Jibril berkata, “Bacalah dengan Nama Tuhanmu.” Dia menjawab dengan gemetaran, “Aku tidak bisa membaca.”
Banyak ulama klasik menafsirkan kata ummy dengan “buta huruf”. Penafsiran dengan buta huruf diduga berangkat dari sebuah ide yang bertujuan menyakralkan dan memuliakan Al-Quran bahwa ia benar-benar bukan karya dari Nabi Muhammad, bahwa Al-Quran itu benar-benar datang dari Tuhan Pencipta Alam.
Penafsiran itu sering juga dikaitkan dengan cerita pada peristiwa turunnya Al-Quran yang menandai kenabian Muhammad. Pada malam 17 Ramadan, Nabi Muhammad yang saat itu berusia 40 tahun sedang melakukan khalwat di Gua Hira, sebuah gua yang berada di wilayah utara Kota Mekah. Mengapa Nabi berkhalwat di gua? Tidak ada yang bisa menjelaskan dengan pasti, tetapi kita tahu situasi Kota Mekah yang kota metropolis pada saat itu benar-benar tidak mendukung bagi pribadi Nabi Muhammad yang sedang dirundung galau dan resah akan pencarian kebenaran.

Dikisahkan bahwa pada malam itu Malaikat Jibril datang. Dalam cerita klasik digambarkan bahwa Jibril datang dengan menyerupai sosok manusia laki-laki yang bertubuh besar. Jibril meminta Muhammad untuk membaca. Membaca apa?
Orang menduga kalau yang disebut membaca itu pastilah membaca tulisan. Lalu, apakah dengan begitu Malaikat Jibril membawa tulisan dan meminta Nabi Muhammad untuk membacanya sehingga ummy dikatakan sebagai buta huruf?
Kemudian, dikatakan kalau Nabi Muhammad menjawab dengan gemetaran bahwa dirinya tidak bisa membaca (mâ ana bi qâri).
Gagasan penafsiran kata ummy sebagai buta huruf itu sesungguhnya memiliki kontradiksi dan mungkin bisa dibilang paradoks. Bagaimana mungkin kalau Nabi Muhammad yang pada usia 25 tahun sudah bisa berlaku arif dan menjadi hakim saat peletakan Hajar Aswad itu adalah orang yang bodoh (buta huruf)? Bagaimana mungkin Nabi Muhammad yang pada usia 40 tahun sudah melakukan perjalanan dagang ke negeri Syam itu dikatakan buta huruf? Bagaimana dengan pengurusan barang dagangan: nota, pesanan, jumlah barang, dan lain-lain?
Kita semua sepakat orang yang tidak bisa membaca dan menulis pastilah berkonotasi sebagai orang bodoh. Dan, kalau begitu Nabi Muhammad yang tidak bisa membaca dan menulis itu bisa dikonotasikan sebagai orang bodoh!

Akan tetapi, tentunya gagasan itu juga paradoks jika kemudian para ulama klasik mengatakan bahwa Nabi Muhammad itu orang yang sangat cerdas (fathanah), satu di antara sifat kenabian: dipercaya, menyampaikan, amanah, dan cerdas!
Bagaimana mungkin orang yang cerdas itu buta huruf atau bodoh?
Sebuah paradoks yang diciptakan para ulama klasik yang kemungkinan besar gagasan utamanya adalah untuk menegaskan bahwa Al-Quran itu turun dari sisi-Nya, bukan karya Muhammad!
Kita tahu bahwa tidak saja pada masa Nabi Muhammad masih hidup orang menuduh kalau Al-Quran itu karya Nabi Muhammad, tetapi juga pada abad-abad kemudian. Bahkan, hingga abad modern pun banyak ilmuwan Barat yang mengatakan bahwa Al-Quran itu karya Nabi Muhammad. Setidaknya, mereka menduga kalau selama perjalanan dagang Nabi Muhammad bertemu dengan banyak tokoh agama dan beliau belajar dari mereka.
Saya berpandangan kalau Nabi Muhammad tidaklah buta huruf dengan alasan Nabi Muhammad itu orang yang sangat cerdas. Ada fakta sejarah yang membuat kita bisa tersadar, dalam sebuah perjanjian dengan orang kafir, yakni Perjanjian Hudaibiah, dikisahkan para sesepuh Quraisy menolak untuk menuliskan “Muhammad Rasulullah” sebagai wakil kaum Muslim.

Dikisahkan, saat itu Ali yang menjadi juru tulis menolak untuk menjadi juru tulis karena harus menuliskan kalimat “Muhammad bin Abdullah”. Karena Ali terus bersikukuh tidak mau menuliskan, Nabi Muhammad sendiri yang akhirnya menuliskan namanya dengan “Muhammad bin Abdullah”.
Sadarkah kita kalau kegiatan membaca itu adalah proses memecahkan kode-kode dan sistem simbol? Orang membaca biasanya juga harus memiliki latar belakang dan wawasan untuk bisa memahami apa yang dibaca.
Seorang anak kecil mungkin bisa membaca kata “ibu”, tetapi kalau ditanya apa itu ibu, dia akan kebingungan dan kesulitan menjawabnya. Mengapa? Dia tidak punya konsep dan wawasan tentang kata itu.
Nah, di sinilah ketika Nabi Muhammad disuruh membaca nama Tuhan oleh Malaikat Jibril, beliau kebingungan karena beliau tidak tahu Tuhan yang mana yang benar-benar sebagai Tuhan. Mungkin saat ditanya Malaikat Jibril, beliau bingung apakah Tuhan itu Tuhan orang Yahudi, Tuhan orang Kristen, atau Tuhan orang Quraisy.
Dikatakan dalam sejarah, Nabi Muhammad tidak pernah mengikuti ritual bangsa Quraisy. Dia juga tidak hidup berbaur dengan anak-anak dan remaja Quraisy yang menyembah berhala dan hidup hura-hura. Setidaknya, begitu gambaran yang sering dipaparkan oleh para penulis biografi Nabi Muhammad.
Selanjutnya, Nabi Muhammad tidak pernah membaca Kitab Suci Yahudi dan Nasrani yang dimungkinkan komunitas itu jarang ditemukan di Kota Mekah. Meski Nabi Muhammad kadang melakukan perjalanan ke Syam, sebuah kota metropolis di Suriah, dan pastilah bertemu dengan banyak orang dan mendengar kabar tentang agama Yahudi dan Nasrani, tetapi Nabi Muhammad tidak menerima kebenaran agama itu.

Akan tetapi, ada cerita tentang kondisi sosiologis sebelum datangnya Islam bahwa bangsa Quraisy tidak mau beragama Yahudi atau Kristen, yang mereka dengar keduanya saling berseteru dan berperang, saling membasmi dan membinasakan. Bangsa Quraisy menginginkan agama yang berada di tengah-tengah (hanif). Dan, kegelisahan bangsa Quraisy sebagai penduduk Mekah, yang merupakan kota pusat agama bangsa Arab (bangsa di Jazirah Arabia) itu dijawab dengan diturunkannya agama  Islam.
Karena alasan itulah kata ummy akan lebih tepat ditafsirkan sebagai seorang Nabi yang belum tersentuh oleh ajaran Yahudi, Kristen, dan Pagan Arab. Dia adalah Nabi yang masih kosong dari berbagai macam konsep tentang Tuhan.
Siapakah Tuhan? Muhammad tidak bisa menjawab. Beliau tidak bisa membaca karena tidak punya wawasan tentang Tuhan yang beliau yakini sebagai kebenaran! Bahkan, beliau sedang galau mencari siapakah Tuhan yang benar-benar Tuhan. Banyak sekali dikisahkan bahwa kaum Quraisy, Yahudi, dan Kristen ingin menguji kebenaran ke-ummy-an Nabi Muhammad. Banyak ayat yang diturunkan sebagai jawaban untuk membuktikan bahwa Nabi Muhammad tidak pernah membaca kitab-kitab suci atau belajar dari tokoh-tokoh agama ketika sedang melakukan perjalanan dagang, umpamanya.

Cerita Zulkarnain, 7 Pemuda, Ya‘juj, dan Ma‘juj serta yang lainnya adalah kisah-kisah dalam Al-Quran yang menegaskan bahwa Nabi Muhammad benar-benar ummy dalam pengertian ini.
Jadi, masihkah Nabi Muhammad kita katakan sebagai orang yang buta huruf dan bodoh?

Penulis: Tasirun Sulaiman

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: