Blog

Tuhan Yang Kesepian – Kesepian

Dalam kesendirian dia menjadi tawanan kesepian. Dia kehilangan jati dirinya: “Siapa aku ini?” Dia bisa tak bermakna apa-apa sekalipun dia Tuhan.
Banyak orang diusik pertanyaan besar tentang apa yang ada sebelum Tuhan ada. Apakah mungkin Tuhan ada tanpa ada yang menampungnya (ruang dan waktu)? Kalau ada, ruang dan waktu itu lebih dulu ada. Tuhan datang kemudian. Dan, Tuhan pun dibatasi, dikungkung oleh ruang dan waktu itu.
Pertanyaan yang rumit itu terus mengusik pikiran manusia sejak zaman Yunani Kuno sampai sekarang. Banyak orang bersikap masa bodoh, acuh tak acuh dengan keberadaan dirinya dan Dia yang menciptakan. Manusia modern yang suka hal-hal yang praktis lebih suka bersikap easy-going: aku ada dan titik. Siapa atau apa yang membuatku ada, entahlah. Tidak penting. Apakah aku ini kumpulan dari hidrogen atau elemen lain seperti air, api, udara, dan tanah atau apalah, masa bodoh. Yang penting aku ada sekarang.

Tuhan? Kalau Tuhan ada, apa gunanya? Kalau Tuhan tidak ada, apa ruginya?
Manusia modern tidak membutuhkan Tuhan sepenuhnya. Tuhan dibutuhkan hanya kadang-kadang atau sewaktu- waktu saja. Mungkin Tuhan hanya seharga kosmetik penghias hidup. Sikap-sikap hidup yang menafikan Tuhan itu sebenarnya nyaris sama dengan gambaran orang kafir dalam Al-Quran sebagai orang yang berjalan di muka bumi dan sombong juga masa bodoh.
Memang, Tuhan dan agama itu kalau mau dirunut tak lebih berada sebagai kebutuhan yang bisa ditunda-tunda. Kenyataannya, banyak dari kita bisa menangguhkan dan membuat tenggat dengan Tuhan dan agama. Maslow, psikolog masyhur dengan teori “Basic Needs” pun tidak menaruh Tuhan dan agama dalam kebutuhan mendasar manusia.
Tentu saja kita tahu itu. Ya, kebutuhan itu bisa dibuat tenggat.
Manusia modern sendiri lahir dari upaya dan perjuangan yang panjang juga sulit untuk melawan Tuhan. Manusia Promethian yang dikisahkan mencuri obor abadi dan mengalahkan dewa adalah cikal bakal dari manusia modern itu. Manusia modern sudah mengambil alih kekuasaan Tuhan. Di tangan orang modern, Tuhan sudah tak memiliki tuah dan kesaktian. Tuhan ada dan diakui keberadaannya, tetapi Dia diisolasi dari campur tangan. Takdir dan nasib manusia sepenuhnya ada di dalam genggaman tangan manusia.
Mau sukses atau gagal? Itu sepenuhnya kerja manusia.
Tidak ada kaitannya dengan takdir dan nasib.

Baca juga: TuhanYangKesepian – Bidah

Dan, sadarkah kita bahwa ilmu pengetahuan modern itu menjadi puncak prestasi yang gemilang untuk merayakan kematian Tuhan? God is dead bukan hanya kalimat hebat yang dikreasi Nietzsche dan Sartre belaka, melainkan memang Tuhan itu pernah mati dan hidup, lalu mati dan hidup berulang-ulang dalam otak dan pikiran manusia. Dan, itu akan terus berlangsung dari zaman ke zaman. Mengapa demikian? Karena sesungguhnya Tuhan tidak lebih hanyalah sebuah konsepsi tentang Dia Yang Berada di Sana.
Akan tetapi, tentu saja kita orang yang beriman sepenuhnya yakin Tuhan yang di sana adalah Tuhan Yang Mahasempurna. Dia hidup dan tidak pernah mati. Dia alpa dan omega. Dia tidak pernah terusik dengan manusia, apakah manusia di seluruh bumi hendak percaya dan mengagungkan Nama-Nya ataukah manusia di seluruh bumi akan kafir dan mencemooh Nama-Nya. Tidak ada artinya semua itu bagi kemuliaan dan keagungan Diri-Nya.
Menjawab pertanyaan di atas, filsafat hanya bisa mengatakan bahwa Tuhan adalah yang pertama dan yang terakhir. Dialah sebab dari semua keberadaan. Tanpa Dia maka tidak ada keberadaan.
Bagaimana mungkin Dia Tuhan datang kemudian?
Anda yang pernah mengenal cara berpikir logika, akan mengatakan bahwa tidak ada akhir kalau tidak segera diberi titik. Terlalu banyak koma dan koma. Dan, Tuhan adalah akhir dari sebuah cara berpikir regresi itu, mundur ke belakang dan merunut. Dia-lah yang akhir.
Akan tetapi, kaum sufi dengan mengutip Hadis Qudsi mengatakan: “Tuhan pernah direngkuh kesepian. Dia sendiri. Dia buncah. Dia galau. Dia bertanya, ‘Siapa Aku?’”

Tuhan Yang Mahasempurna mengalami kesendirian?
Bagaimana mungkin?
“Dia lalu ciptakan alam semesta dan jadilah Diri-Nya Tuhan.”
Jadi, Tuhan hadir dari sebuah proses kreatif penciptaan. Tanpa proses kreatif itu, Tuhan tetap bukan Tuhan dan Tuhan tetap dalam buram dan kelam. Tuhan menciptakan manusia. Dan, manusia adalah puncak dari segala kreasi Tuhan. Manusia merupakan makhluk terakhir dari ciptaannya. Sebelumnya, iblis dan malaikat sudah diciptakan.
Akan tetapi, meski manusia adalah ciptaan-Nya yang terakhir, dinyatakan sebagai karya teragung Tuhan. Itu karena manusia memiliki kesempurnaan yang hebat dibandingkan dengan dua spesies makhluk sebelumnya, iblis dan malaikat.
Di antara kalangan Kristiani ada yang mengatakan bahwa manusia diciptakan langsung dengan tangan-Nya. Langsung. Dan, itu mengindikasikan betapa hebat cara manusia diciptakan. Manusia tidak diciptakan dari kata kun (jadilah), lalu yakunu (menjadi).
Kita semua harus sadar dan menyadari sepenuhnya bahwa Tuhan yang sering diperdebatkan sesungguhnya adalah Tuhan hasil konseptualisasi manusia belaka. Orang Islam akan membuat konseptualisasi Tuhan dengan melandaskan pada apa-apa yang dikabarkan dalam Al-Quran dan hadis, yang keduanya sebenarnya hanya masih sebatas ayat (indikator, pointer). Apa yang sesungguhnya adalah yang dihayati sepenuhnya di dalam hati kita dengan menautkan kepada Yang di Sana.

Oleh karena itu, perintah mendirikan shalat dan lainnya selalu dipenuhi dengan tujuan meraih ketakwaan yang artinya adalah kesadaran bahwa Tuhan itu Mahadekat, Maha Melihat, dan seterusnya.
Dalam sebuah hadis masyhur dikatakan:
“Berlakulah seakan-seakan kamu melihat Dia atau seakan-akan Dia melihat kamu.” Inilah sebenarnya esensi dari ajaran takwa (God consciousness).
Dan, yang selalu harus diingat adalah bagaimana kita membangun kesadaran Tuhan, seperti halnya kaum sekuler pada masa-masa humanisme bangkit membangun kesadaran ketiadaan Dia. Kesadaran agama menegaskan Dia adalah Pencipta dan Pemelihara. Sementara itu, manusia Renaissance telah menyingkirkan-Nya dan Tuhan menjadi gelandangan tak dikenal. Tuhan tidak ada tempat dan petanya di dalam kehidupan manusia. Tuhan entah di mana. Tuhan diacuhkan.

Penulis: Tasirun Sulaiman

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: